Wejangan Para Bapa Gereja

Wejangan Js. Gennadius dari Konstantinopel

Bagaimanakah Kita Berelasi dengan Allah

Selalu milikilah takut akan Allah di dalam hatimu, dan ingatlah bahwa Allah selalu menyertaimu, ke manapun, baik ketika engkau berjalan atau duduk.

( Js. Gennadius dari Konstantinopel, Rantai Emas, 14 )

.

.

“Orang yg menyadari dosanya sendiri tidak akan mencampuri dosa orang lain.”

(Js. Gennadius dari Konstantinopel)

.

.

Hubungan dengan Orang Lain

Hiasilah dirimu dengan kebenaran, dan berusahalah untuk berbicara kebenaran secara tulus dalam segala hal dan jangan melontarkan kebohongam, tidak peduli siapapun yang bertanya padamu. Jika engkau berbicara kebenaran secara jujur dan seseorang marah padamu, janganlah kecewa tetapi tetap tinggallah dalam firman Tuhan: Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran, karena bagi merekalah Kerajaan Surga (Mat 5:10).

( Js. Gennadius dari Konstantinopel, Rantai Emas, 26, 29 )

.

.

Menghakimi

Menghakimi dosa adalah urusan Dia yang Tak Berdosa, tetapi siapa gerangan yang tidak berdosa kecuali Allah? Setiap orang yang peka dan merenungkan tentang dosa-dosanya sendiri di dalam hatinya tidak pernah ingin membuat dosa orang lain menjadi topik pembicaraan. Menghakimi seorang yang telah tersesat adalah tanda kesombongan, dan Tuhan menolak mereka yang angkuh. Di sisi lain, orang yang setiap jam mempersiapkan diri untuk memberikan pertanggungjawaban atas dosanya sendiri tidak akan cepat mengangkat kepalanya untuk memeriksa kesalahan orang lain.

( Js. Gennadius dari Konstantinopel, Rantai Emas, 53, 55)

.

.

Doa

Janganlah meninggalkan doa, sama seperti tubuh menjadi lemah bila kekurangan makanan, demikian juga jiwa ketika kehilangan doa mendekat kepada kelemahan dan kematian jiwani.

( Js. Gennadius dari Konstantinopel, Rantai Emas, 44)

.

.

Bersungguh-sungguhlah dalam doa kepada Tuhan, yang mengetahui setiap orang, bahkan sebelum kelahiran kita. Dan jangan meminta agar segala sesuatu akan sesuai dengan kehendakmu, karena manusia tidak tahu apa yang benar-benar bermanfaat baginya. Tetapi katakanlah kepada Allah : Jadilah kehendakMu ! Karena Dia melakukan segala sesuatu untuk kebaikan kita.

( Js. Gennadius dari Konstantinopel, Rantai Emas, 47)

.

.

Pertobatan

Jangan katakan : “Aku telah banyak berdosa, dan karena itu saya tidak cukup berani untuk tersungkur di hadapan Allah.” Jangan putus asa. Cukuplah dengan tidak meningkatkan dosa-dosamu dalam keputusasaan dan dengan bantuan dari Ia yang Maha Penyayang, engkau tidak akan mendapat malu. Sebab Dia berkata, “dia yang datang kepadaKu, tidak akan Kutolak.” (Yoh 6: 37). Beranilah dan percayalah bahwa Dia itu murni dan memurnikan orang-orang yang mendekat kepadaNya. Jika engkau ingin mencapai pertobatan yang benar, tunjukkanlah itu dengan perbuatanmu. Jika engkau jatuh ke dalam kesombongan, tunjukkanlah kerendahan hati, jika dalam kemabukan, tunjukkanlah ketenangan hati, jika dalam kenajisan, tunjukkanlah kemurnian hidup. Sebab itu dikatakan, “Berbaliklah dari kejahatan dan lakukanlah kebaikan.” (I Pet 3: 11).

( Js. Gennadius dari Konstantinopel, Rantai Emas, 87-89)

.

.

Kesabaran

Kasih ialah lapar dan haus demi Kristus. Sejauh kamu menenangkan tubuhmu, sebanyak itulah kamu akan membuat jiwamu berbudi luhur. Allah yang membalas kebaikan pikiran, kata-kata dan perbuatan, akan memberikan imbalan yang baik bahkan untuk hal yang kecil yang kamu tanggung dengan senang hati demi Dia.

( Js. Gennadius dari Konstantinopel, Rantai Emas, 41)

.

.

Carilah apa yang paling sederhana dalam segala hal, dalam makanan, pakaian, tanpa menjadi malu oleh kemiskinan. Sebab sebagian besar dunia hidup dalam kemiskinan. Janganlah katakan, “Aku adalah anak orang kaya. Adalah hal yang sangat memalukan bagi saya untuk berada dalam kemiskinan.” Kristus, Gembala Sorgawimu, yang melahirkanmu dalam baptisan, tidak ada pada kekayaan duniawi. Sebaliknya ia berjalan dalam kemiskinan dan tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya.

( Js. Gennadius dari Konstantinopel, Rantai Emas, 24-25)

.

.

Gila Hormat

Janganlah berusaha untuk mengejar kemuliaan duniawi dalam hal apapun, sebab hal itu menghanguskan bagi orang yang menyukainya. Pada waktunya ia menghempas manusia seperti angin yang sangat kuat dan kemudian dengan cepat, mengambil daripadanya buah karya-karya yang baik, lantas pergi darinya, tertawa pada kebodohan orang itu.

( Js. Gennadius dari Konstantinopel, Rantai Emas, 35)

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *