Dogmatika

Wahyu Umum dan Agama-agama (Bagian 1)

Diambil dari materi seminar dengan tema: “INJIL DALAM INTERAKSI” tanggal 9 November 1999. Materi disusun oleh Arkhimandrit Romo Daniel Bambang D. Byantoro, Ph.D

Iman Kristen yang ortodoks (orthos: lurus, benar; doxa: ajaran, kemuliaan) mengajarkan dan Kitab Suci menyuguhkan bahwa Allah menyatakan diri-Nya dan kebenaran-Nya bukan hanya kepada orang Kristen saja, namun juga kepada segenap umat manusia. Penyataan diri Allah kepada segenap umat manusia ini disebut sebagai wahyu umum. Wahyu umum dinyatakan oleh dan melalui keberadaan alam semesta (Mzm. 19:1-4, Rm. 1:19-20), Providentia Dei (Kis. 14:16-17), suara hati manusia (Rm. 2:14-16), budaya dan sejarah (Kis. 17:26-27) serta keberadaan manusia itu sendiri (Mzm. 139:13-18). Jadi dalam belas kasih-Nya kepada manusia, Allah tetap menyatakan diri-Nya dalam seluruh keberadaan hidupnya. Dunia tempat manusia hidup, keberadaan manusia sebagai ciptaan Allah, hati nurani manusia, lingkup aktivitas kehidupan sehari-hari, serta budaya dan sejarah manusia itulah semua wahana dan tempat Allah menyatakan diri-Nya.

Dari apa yang disadari dari alam semesta, manusia menyadari adanya Sang Pencipta, sehingga manusia menyadari bahwa dunia dan dirinya ini tak mungkin ada jika tidak ada yang menciptakan. Demikianlah kesadaran pertama yang muncul dalam batin manusia tentang adanya Sang Khalik atau Sang Pencipta, yang dalam keyakinan Hindu dipahami sebagai Dewa Brahma, dalam agama Islam disadari sebagai Al-Khaliq maupun pemahaman animisme-dinamisme sebagai roh semesta yang menjadi asal-mula segala yang ada. Demikian juga dengan menyadari akan kedahsyatan keberadaan Allah itu, manusia akan merasa kecil dan manusia tidak mungkin ada tanpa ada yang mengadakan, dan tak mungkin ada jika tidak ada yang memelihara agar fungsi-fungsi organ tubuh berjalan sebagaimana seharusnya.

Di sinilah manusia disadarkan betapa sebenarnya kepandaian manusia tak pernah sebanding dengan hikmat ilahi yang tak terselami. Juga ketergantungan manusia kepada alam untuk mendapatkan makanannya, terutama kepada sinar matahari, hujan dan musim-musim subur, hal ini menimbulkan kesadaran manusia bahwa ada kuasa di luar dirinya yang tak dapat direkayasa, yang menghasilkan sarana-sarana kebutuhan kehidupan. Dari pengalaman yang demikian manusia di zaman kuno menyadari adanya “sosok” Yang Memelihara Kehidupan. Kepada “sosok” ini manusia mengharapkan dan memohon berkat-berkat kehidupan ini. Dari akumulasi pengalaman yang demikian itu munculnya kesadaran untuk memohon dan berdoa dari manusia, dan dari sini muncul kegiatan-kegiatan ritual keagamaan. Hal semacam inilah yang dimaksudkan Alkitab sebagai “jalan masing-masing” bangsa di “zaman kebodohan.” Ritual-ritual semacam itu bertujuan memohon dan berdoa kepada Yang Memelihara Kehidupan itu.

Selanjutnya manusia secara alamiah memiliki kesadaran akan tuntutan hati nurani, yang isinya adalah hukum tak tertulis yang sepadan dengan Taurat yang tertulis, sehingga di dalam dirinya manusia menyadari adanya suatu tuntutan hukum keadilan dalam kehidupan ini. Kesalahan akan dituduh dan diberikan hukuman setimpal sedangkan kebenaran akan dibela. Di sinilah muncul kesadaran akan hukum atau peraturan dan norma-norma dalam masyarakat di zaman kuno, dan hal inilah yang menjadi asal-usul dalam setiap agama dan budaya akan adanya pengadilan akhir saat manusia akan mendapatkan apa yang setimpal dengan perbuatan mereka pada saat mereka masih hidup, karena manusia menyadari bahwa banyak ketidak-adilan yang terjadi di dunia dan banyak kejahatan yang tidak mendapat hukuman setimpal sesuai kesaksian hati nurani. Dengan harapan akan pengadilan akhir ini, muncullah kesadaran manusia akan sorga dan neraka. Semua manusia akan dikembalikan kepada Sang Pemberi Hukum yang menjadi sumber hukum tak tertulis pada hati nurani manusia. Hati nurani itulah yang menjadi “perangkat” yang menyertai keberadaan dan kodrat manusia untuk memampukan manusia mengenal keadilan, benar-salah, pahala-hukuman serta sorga dan neraka.

Yang terakhir pada bagian ini adalah dengan mengamati proses perkembangan budaya dan sejarah, manusia disadarkan bahwa tidak ada satu peradaban pun yang tetap jaya selamanya. Setelah mencapai puncak kejayaan, suatu peradaban akan menghadapi kemunduran bahkan keruntuhannya. Manusia disadarkan bahwa tidak ada sifat mutlak pada manusia. Manusia harus belajar untuk merendahkan dirinya dan sadar akan keterbatasan dan kekecilannya. Ketidak-langgengan kekuasaan manusia mengajarkan manusia bahwa hanya ada satu yang mutlak, langgeng dan tak dapat musnah. Pribadi ini berada di atas proses sejarah dan peradaban, karena Dialah yang mengendalikan budaya dan sejarah umat manusia, yang mana manusia harus tunduk kepada Sang Pengendali ini. Di situlah manusia belajar dan didorong untuk mencari kekekalan yang hanya ada di dalam Pribadi ini. Realita sesungguhnya ialah bukan yang sementara dan fana ini, tetapi manunggal dengan Yang Ilahi itulah yang menjadi tujuan akhir yang dicari manusia.

Baca juga : Wahyu Umum dan Agama-Agama Bagian 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *