Dogmatika

Wahyu Khusus dalam Iman Kristen

Diambil dari buku “IMAN KRISTEN RASULIAH: Jilid 1” yang ditulis oleh Romo Daniel Bambang Dwi Byantoro, Ph.D.

Pembahasan sebelumnya mengenai wahyu umum telah menunjukkan bahwa sekalipun wahyu umum itu berasal dari Allah, namun karena adanya dosa dan kuasa kegelapan oleh iblis serta kebutaan dan kegelapan dalam batin manusia maka wahyu umum itu tidak dapat diterima dengan murni oleh manusia. Manusia telah menindas wahyu umum ini menjadi “jalan masing-masing” yaitu pemahaman yang keliru tentang kebenaran ilahi, sehingga wahyu umum itu membuat kebenaran ilahi menjadi samar dan banyak kekeliruan. Artinya manusia takkan pernah menemukan kebenaran yang sejati, karena kebenaran ini telah terkotori oleh dosa manusia. Di samping itu, wahyu umum tidak memberikan pengetahuan yang jelas tentang rencana Allah yang terdalam bagi kehidupan manusia, yaitu rencana keselamatan dalam karya penebusan.

Memang semua keyakinan agama yang berasal dari wahyu umum mengakui adanya Sang Pencipta, Sang Pemelihara, Hakim yang adil serta sumber dan tujuan akhir kehidupan ini, namun tidak ada satupun dari antaranya yang mengajarkan tentang Sang Pencipta sebagai Juru Selamat dan Penebus umat manusia, karena memang wahyu umum tidak mengajarkan demikian. Perihal rencana keselamatan dalam karya penebusan hanya dinyatakan dalam wahyu khusus saja. Walaupun demikian, kita tidak dapat membuang wahyu umum begitu saja. Kita dapat mengerti secara benar wahyu umum ini setelah kita mengerti wahyu khusus. Kita memerlukan wahyu khusus agar kita mengerti rencana keselamatan Allah yang hendak dianugerahkan ke dalam hidup manusia, yang dalam iman Kristen dinyatakan melalui turunnya Sang Firman Allah atau Anak Allah menjadi manusia untuk mengalahkan maut dan dosa, serta menganugerahkan kehidupan kekal kepada manusia.

Kedua macam wahyu ini, baik wahyu umum maupun wahyu khusus, keduanya berasal dari Pribadi Ilahi yang sama. Sekalipun keduanya memiliki lingkup dan jangkauan yang berbeda, tetap saja keduanya memiliki hubungan yang tak dapat dipisahkan, dan ada kesinambungan antara wahyu umum dan wahyu khusus ini. Realita konkret secara rohani dari wahyu umum adalah semua agama yang ada di dunia, sedangkan alam semesta dengan segala proses dan segala sesuatu yang ada di dalamnya yang menjadi sarana pernyataan wahyu umum dapat disebut “kitab suci semestawi yang terbuka” yang dapat dibaca dan diselidiki manusia yang menjadi sarana berkembangnya ilmu pengetahuan, yang dengannya keagungan dan kemuliaan ilahi diungkapkan dan dikumandangkan terus-menerus. Jadi ilmu pengetahuan semestinya tidak bertentangan dengan keyakinan iman yang benar, namun saling mengisi dan bersaksi berdasarkan lingkup dan konteksnya masing-masing. Itulah sebabnya dalam sejarah Gereja Timur di wilayah Kekaisaran Romawi Timur Byzantium telah mengembangkan ilmu kedokteran (yang diprakarsai oleh St. Basilius Agung dengan mendirikan rumah sakit), ilmu astronomi, ilmu retorika, filsafat, seminari dan sebagainya. Kekristenan, dalam hal ini Kekristenan Timur Ortodoks tidak pernah melarang berkembangnya ilmu pengetahuan, juga tak pernah memberangus bahkan mengizinkan hukuman mati kepada ilmuwan, seperti hal yang terjadi pada Nikolas Copernicus dan Galileo Galilei pada abad pertengahan di Gereja Latin. Bahkan dari Byzantium inilah, khalifah Al-Ma’mun mendapatkan berbagai sumber keilmuan dan filsafat Yunani yang akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan dikembangkan di kekhalifahan Islam. Melalui terjemahan bahasa Arab inilah, orang-orang Kristen Latin mendapatkan kembali sumber keilmuan dan filsafat Yunani yang menjadi penggerak gerakan rennaissance.

Antara wahyu umum dan wahyu khusus ini memang terdapat hubungan yang tak terpisahkan dan berkesinambungan. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Alkitab yang mengajarkan kepada kita tentang keberadaan wahyu umum ini. Jadi dari Alkitab, kita mengenal makna ciptaan dan segala lingkup keberadaan wahyu umum. Juga sebaliknya apa yang ada di alam semesta sebagai wahana wahyu umum juga memperkaya ungkapan-ungkapan kebenaran yang dinyatakan dalam Alkitab, misalkan: Allah diumpamakan sebagai “gunung batu” walaupun Allah tidak berwujud gunung batu, Allah diumpamakan sebagai “angin badai” walaupun Allah tidak berwujud angin badai, dan sebagainya. Ini semua menunjukkan bahwa wahyu umum tetap mendapat bagian dalam pernyataan wahyu khusus. Bahkan dalam pemahaman iman Gereja Ortodoks, alam semesta sebagai wahana wahyu umum ini akan mendapat bagian dalam rahmat yang diterima dalam wahyu khusus, yaitu bahwa alam semesta akan ikut mengalami penebusan dan kemuliaan anak-anak Allah (Roma 8:21-23), sehingga dengan demikian wahyu umum dapat menjadi sarana perenungan untuk mempertajam kerohanian kita yang berasal dari wahyu khusus. Dan pada akhirnya kita akan semakin mencintai akan lingkungan hidup dan kelestarian alam, sebab dari sini kita mengerti bahwa orang Kristen tidak hidup secara terpisah-pisah, tetapi Yang Ilahi telah menembus dan menerobos bumi ini, karena bumi telah menjadi obyek dari Yang Ilahi, untuk diubah menjadi langit dan bumi yang baru.

Dengan mengerti kesinambungan antara wahyu umum dan wahyu khusus ini, maka iman Kristen bukanlah suatu keyakinan yang eksklusif, tetapi puncak dari kebenaran yang menegaskan kebenaran yang ada di dalam wahyu umum, serta menjadi kritik dan perbaikan terhadap dusta dan kebohongan yang diakibatkan penyelewengan manusia akan wahyu umum ini. Demikianlah ajaran iman Kristen Ortodoks tentang munculnya keyakinan agama-agama di dunia dan sebab-sebab terjadinya persamaan dan perbedaan di antara berbagai keyakinan agama-agama di dunia, serta bagaimana kita menyikapi secara bijaksana tentang pemahaman-pemahaman berbagai keyakinan agama di dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *