JanuariSynaxarion

Theodosius Kenobiark yang Kudus dan Terhormat [529]

Diperingati Gereja Orthodox pada 24 Januari (kalender sipil) / 11 Januari (Kalender Gereja Purba)

Theodosius Agung lahir di Kapadokia dari orangtua yang saleh. Ia melayani Gereja sebagai Pembaca dan Pengidung dan mengunjungi Tanah Kudus, di mana ia bertemu dengan Symeon Pertapa-Tiang yang memberkatinya. Theodosius berdiam di gua terpencil di Palestina di mana Ketiga Orang Majus bermalam dalam perjalanan untuk menyembah Sang Juruselamat. Ia berpuasa dan berdoa tanpa-henti di sana selama tiga-puluh tahun. Banyak orang yang berdatangan mencari tuntunannya kepada Keselamatan.

Theodosius berdoa agar Tuhan mengungkapkan tempat mereka. Ia pergi ke gurun membawa Pengukup berisi bara dingin yang belum dinyalakan. Di tempat tertentu bara itu menyala dan asap ukupan itu naik. Di tempat ini Theodosius membangun Monasteri hidup bersama, atau Lavra, yang pertama di bawah Peraturan Kerahiban dari Hierark Kudus Basil Agung.

Lavra ini, yang menjadi rumah bagi tujuh-ratus Rahib, menjadi termahsyur dan melayani banyak orang, memberi pertolongan bagi orang-orang miskin, dan menyediakan perteduhan bagi para musafir. Muncul kelaparan di Palestina sehingga sekawanan besar orang berkumpul di Monasteri itu. Theodosius memerintahkan agar semua orang diizinkan masuk. Murid-muridnya merasa kesal karena Monasteri itu tidak mempunyai makanan yang cukup bagi semua orang yang datang. Ketika mereka pergi ke dapur roti, mereka melihat tempat itu dipenuhi dengan roti. Mukjizat dikerjakan lagi dan lagi ketika Theodosius ingin menolong mereka yang membutuhkan.

Di Monasteri itu ada rumah bagi orang-orang asing, rumah sakit, dan tempat perteduhan bagi mereka yang segera meninggal, sehingga banyak orang yang berkumpul di sana dari berbagai negeri. Penatua Theodosius mengatur agar Ibadah Ilahi dirayakan dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Yunani, Georgia dan Armenia. Pada masa pemerintahan Kaisar Anastasias, bangkitlah bidat-bidat Severus dan Eutykhes, yang juga menarik Kaisar mengikuti kesesatan mereka sehingga menganiaya umat Orthodox.

Theodosius berdiri teguh membela Ortodoxia. Ia mewakili para Rahib gurun menulis surat kepada Kaisar untuk mengecam bidat-bidat tersebut. Setelah beberapa saat, Kaisar memperbaharui aniaya. Theodosius meninggalkan Monasteri dan pergi ke Yerusalem. Di Gereja Agung ia berdiri di tempat tinggi dan berseru, ‘Barangsiapa yang tidak menghormati keempat Sinode Semesta, biarlah Anathema atasnya!’ Ia dipenjarakan, namun dibebaskan setelah kematian Kaisar. Theodosius mengerjakan berbagai Kesembuhan dan Mukjizat semasa hidupnya.

Dengan doanya ia membinasakan belalang-belalang pelahap yang menghabisi ladang-ladang di Palestina. Oleh syafaatnya, prajurit-prajurit dijagai dari kebinasaan, dan ia menyelamatkan mereka yang binasa di laut dan mereka yang tersesat di gurun. Theodosius memberi perintah agar tanda dibunyikan sehingga para Rahib berkumpul untuk berdoa, dan lalu berkata, ‘Murka Allah mendekati negeri Timur.’ Setelah beberapa hari diketahui ada gempa bumi hebat yang telah menghancurkan kota Antiokhia pada jam itu juga, ketika Theodosius memanggil Para Rahib untuk berdoa.

Sebelum wafatnya, Penatua Theodosius memanggil tiga orang Uskup yang dikasihinya dan mengungkapkan kepada mereka bahwa ia akan segera wafat kepada Tuhan. Setelah tiga hari ia wafat pada usia seratus-lima tahun pada tahun 529. Ia dikuburkan dengan hormat di gua di mana ia telah hidup pada awal hidup Pertapaannya.

Troparion Irama VIII

‘Dengan aliran airmatamu engkaut elah mengairi gurun yang tandus, dan dengan kesah dari kedalaman jiwamu engkau telah menjadikan pekerjaanmu berbuah seratuskali lipat. Engkau Terang bagi seluruh dunia, yang menyinarkan Mukjizat. Ya Bapa kami Theodosius, mohonkanlah Kristus Allah agar jiwa kami diselamatkan’

Kontakion Irama VIII

‘Ditanam di Istana Tuhanmu, engkau tumbuh Amat-Indah dalam KebajikanKebajikanmu yang Terhormat dan menambahkan jumlah anak-anakmu di gurun, dan mengairi mereka dengan aliran air matamu, ya Gembala Agung Ilahi atas Umat Gembalaan Ilahi. Karenanya kami berseru, Bersukacitalah, ya Bapa Theodosius!’

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *