Dogmatika

Signum Crucis (Tanda Salib)

Dirangkum dari buku “THE LAW OF GOD” yang ditulis oleh Romo Serafim Slobodksoy

Kita menyebut diri kita sebagai Kristen (Yunani: Khristianos) karena kita percaya kepada Allah sebagaimana kita juga percaya kepada Anak Tunggal Allah, Tuhan kita, Yesus Kristus (Yunani: Iesous Khristos, dari kata Khristos ini istilah Khristianos berasal). Yesus Kristus tidak hanya mengajarkan kepada kita bagaimana beriman kepada Allah yang benar dan dengan cara yang benar, tetapi Ia juga menyelamatkan kita dari kuasa dosa dan kematian kekal.

Sebagai yang telah menang atas maut, dengan kebangkitan-Nya pada hari ketiga, Ia telah menyelamatkan kita dari kematian kekal; dan Ia akan membangkitkan semua orang pada saat kedatangan-Nya kali kedua, yang bagi kita kebangkitan ini membawa sukacita dan kehidupan kekal. Salib menjadi senjata –atau tanda– kemenangan Kristus atas dosa dan kematian. Tuhan Yesus Kristus telah menerima tusukan dosa dan maut yang mengerikan demi keselamatan kita manusia. Dia mati di atas salib, tetapi Ia jtelah bangkit sebagai penebus dosa dan maut, dan dengan demikian membuka jalan bagi kita menuju kehidupan kekal.

Inilah sebabnya, untuk menyatakan iman kita kepada Yesus Kristus Juru Selamat kita, kita mengenakan salib di tubuh kita, dan ketika berdoa kita membuat salib atas diri kita dengan tangan kanan kita –demikianlah kita membuat tanda salib.–

Untuk membuat tanda salib dengan tangan kanan, kita harus memposisikan jari-jari tangan kanan kita sebagai berikut:

  • Ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah disatukan, dan kita menekuk dua jari terakhir: jari manis dan jari kelingking menyentuh telapak tangan. Tiga jari menunjukkan pengakuan iman kita kepada Tritunggal: Allah, yang disebut sebagai Sang Bapa, bersama Firman-Nya, yang disebut sebagai Sang Putra, serta Roh Ilahi, yang disebut sebagai Sang Roh Kudus, yang tak terpisah-pisahkan. Dua jari menunjukkan pengakuan iman kita bahwa Sang Firman, yaitu Putra Allah yang ilahi telah turun dari sorga menjadi manusia; ini menunjukkan dua keberadaan Kristus sebagai “Yang Ilahi” dan “Yang Manusiawi.”
  • Untuk membuat tanda salib, kita menyentuhkan tiga jari (ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah) ke dahi (simbol akal budi), perut (simbol hati) serta bahu kanan dan bahu kiri (simbol kekuatan), sambil mengatakan: “Dalam nama Sang Bapa, Sang Putra serta Sang Roh Kudus. Amin.”
  • Membuat tanda salib harus dilakukan dengan benar, tidak asal-asalan dan terburu-buru. Dengan berbuat hal semacam itu, kita tidak menghormati salib Tuhan yang membawa keselamatan, dan ini dipandang sebagai sakrilegi.

Kita membuat tanda salib pada saat:

  1. Masuk ke dalam rumah Allah dan juga pada saat kita meninggalkannya.
  2. Setiap kali “Sang Bapa, Sang Putra serta Sang Roh Kudus” disebutkan, baik oleh imam ataupun umat.
  3. Mengucapkan Trisagion: “Allah Mahakudus, Sang Kuasa Mahakudus, Sang Baka Mahakudus.”
  4. Setiap kali “Sang Theotokos” dan nama orang suci disebutkan.
  5. Sebelum dan sesudah kita menerima komuni atau perjamuan Tuhan.
  6. Akhir pengakuan iman Nikea-Konstantinopel dan doa Bapa Kami.
  7. Pembacaan Alkitab selesai.
  8. Mencium ikon, salib dan injil suci.
  9. Sebelum dan sesudah kita melakukan sembahyang harian.
  10. Sebelum dan sesudah makan.
  11. Melewati Gereja.
  12. Sebelum kita tidur, berangkat ataupun melakukan berbagai aktivitas, kita mengharapkan pertolongan dan penyertaan Tuhan dalam setiap waktu kita.

SEJARAH PENGGUNAAN TANDA SALIB

Penggunaan tanda salib untuk pertama kalinya disebutkan oleh Tertullianus (155–250 M), yang menuliskan: “Dalam setiap perjalanan dan gerakan kita, ketika kita masuk dan keluar, ketika meletakkan alas kaki di tempat pemandian, bawah meja, saat menyalakan lilin, saat berbaring, saat duduk dan setiap kegiatan yang kita lakukan, kita tandai dahi kita dengan tanda salib.” Diyakini bahwa pada mulanya orang Kristen hanya membuat tanda salib di dahi, dan pembuatan tanda salib di dahi hanya dilakukan dengan satu jari.

Penggunaan tanda salib dengan satu jari pada awalnya juga dijelaskan oleh St. Epifanius dari Salamis, uskup Siprus (310–403 M) dalam tulisannya bernama Panarion (Melawan Bidat, Bab XXX).

St. Kyrillos dari Yerusalem (313–386 M) dalam tulisannya berjudul Katekhesis Bab XIII menyebutkan bahwa tanda salib sudah berkembang menggunakan lebih dari satu jari, walaupun ia tidak secara rinci menyebutkan jari apa saja yang digunakan ketika orang Kristen membuat tanda salib: “Janganlah kita malu mengakui salib. Biarlah salib menjadi meterai kita, dibuat dengan keberanian oleh jari-jari kita di dahi kita dan dalam segala hal; atas roti yang kita makan dan cawan yang kita minum, ketika kita masuk dan keluar, ketika hendak tidur, ketika kita berbaring dan ketika kita bangun, ketika kita sedang bepergian, dan ketika kita sedang beristirahat.”

St. Basilius Agung dari Kapadokia (329–379 M) menjelaskan di dalam Kanon XCI menerangkan bahwa sebelum masanya, orang Kristen menggunakan dua jari, yaitu dengan menempelkan jari telunjuk dan jari tengah.

Mar Theodoret dari Kyrrhus (393–458 M) menjelaskan bahwa tanda salib dibuat dengan menggunakan tiga jari (ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah) yang menjelaskan keyakinan iman Kristen kepada Allah Tritunggal dan dua jari yang lain menjelaskan keyakinan iman Kristen tentang dua keberadaan Kristus. Theodoret sendiri adalah seorang uskup dari Gereja Assiria Timur yang hanya mengakui dua konsili Ekumenis: Konsili Nikea 325 M dan Konsili Konstantinopel 381 M.

Pada abad IX Masehi, seluruh Gereja, dari Timur hingga Barat menggunakan tanda salib dengan gerakan dan bentuk yang sama, dari atas ke bawah dan dilanjutkan dari kanan ke kiri.

Paus Leo IV (790–855 M) dalam tulisannya Liturg. Rom. Pont. III mengatakan: “Berilah tanda (salib) di atas cawan dan roti, dengan tanda salib secara benar dan bukan dengan bentuk lingkaran atau jari apapun, tetapi dengan dua jari terentang dan ibu jari yang tersembunyi di antaranya, yang melambangkan Allah Tritunggal. Perhatikanlah agar engkau membuat tanda salib ini dengan benar, jika tidak, engkau tidak memberkati apapun.”

Elfricus, seorang rahib ordo St. Benedictus dari Eynsham, Inggris (955–1010 M) dalam homilinya yang didokumentasikan dalam dokumen Thorpe: The Homilies of the Anglo-Saxon Church I, mengatakan bahwa: “Dengan tiga jari engkau harus memberkati dirimu sendiri demi Sang Tritunggal Mahakudus.”

Bahkan setelah peristiwa besar, keterpisahan Gereja Latin dan Gereja Byzantium pada tahun 1054 M, Gereja Latin masih menggunakan tanda salib yang sama dengan Gereja Byzantium, termasuk juga Gereja Oriental: Gereja Non-Kalsedon dan Gereja Assiria Timur juga menggunakan gerakan dan bentuk yang sama. Penggunaan tanda salib pasca perpisahan Gereja Latin dan Gereja Byzantium diajarkan oleh Paus Inocentius III (1161–1216 M) bahwa: “Tanda salib dibuat dengan tiga jari, karena tanda ini dibuat bersama dengan doa kepada Tritunggal Mahakudus… Dengan cara sebagai berikut: dari atas ke bawah, dan dari kanan ke kiri, karena Kristus turun dari sorga ke bumi, dan dari orang Yahudi (kanan) Ia berpindah ke bangsa-bangsa lain (kiri).”

Penggunaan tanda salib di Gereja Latin dengan gerakan dan bentuk yang sama seperti yang dilakukan Gereja-gereja di Timur (Gereja Byzantium, Gereja Non-Kalsedon dan Gereja Assiria Timur) bertahan hanya sampai abad XVI. Paus Pius V (1504–1572 M) membuat ketetapan yang mengubah tanda salib yang semula tiga jari menjadi lima jari, dan arah yang sebelumnya kanan ke kiri menjadi kiri ke kanan. Perubahan seperti ini akhirnya juga diikuti oleh beberapa Gereja Oriental.

Gereja Timur, yang menggunakan tradisi Byzantium, masih menggunakan tanda salib dengan cara seperti yang dipakai sebelum terjadi perpisahan Gereja, dan terus memelihara tradisi ini hingga hari ini.

Sumber : ST.NICHOLAS OF MYRA ORTHODOX COMMUNITY OF SURABAYA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *