Dogmatika

SIAPA YANG BERHAK MEMBAPTISKAN

Sumber : Padepokan Dharma Tuhu

Sekarang kita akan membicarakan mengenai siapa yang berhak membaptiskan.

Pada waktu Kristus memerintahkan untuk membaptiskan orang di dalam Mat 28:16-19, meskipun banyak murid-murid pada waktu itu, termasuk ke-70 utusan,©(16)namun ternyata perintah untuk membaptiskan itu hanya diberikan kepada 11 Rasul saja (12 minus 1 oleh karena Yudas sudah mati).

Dan di dalam Kis 14:2, dijelaskan bahwa di tiap-tiap jemaat para Rasul mentahbiskan para penatua (Presbiter) bagi jemaat itu. Dengan demikian jelas yang akan membaptiskan orang dalam jemaat tadi adalah para presbiter (para Penatua, menurut Alkitab LAI) yang telah ditetapkan atau ditahbiskan (Kheirotoneesantes) oleh para Rasul ini. Demikian juga di dalam Tit 1:15, Rasul Paulus memerintahkan kepada Titus untuk mentahbiskan para presbiter di Pulau Kreta di tiap-tiap jemaat. Dengan demikian para presbiter ini pula yang akan melaksanakan pembaptisan bagi orang-orang di dalam jemaatnya.

Harus kita perhatikan bahwa di dalam semua kasus ini orang-orang ini mempunyai mata rantai pengajaran dengan para Rasul. Contohnya Titus dengan Paulus dan pentahbisan yang dilakukan oleh Paulus dan Barnabas dalam Kis 14:2 tadi dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa mereka yang ditahbiskan oleh para Rasul sebagai presbiter di jemaat itu mempunyai mata rantai dengan para Rasul itu sendiri. Sehingga dengan demikian validitas daripada baptisannya itu terjamin sah sesuai dengan mandat Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus. Sebab yang mempunyai barokah untuk membaptiskan dan yang mempunyai rahmat untuk membaptiskan yang secara langsung diperintah oleh Kristus adalah para Rasul sendiri. Dan hanya mereka saja yang berhak untuk membaptiskan, sebab kalau yang lain juga berhak seharusnya Kristus juga pernah mengatakan hal tersebut kepada yang lain. Tetapi ternyata tidaklah demikian, karena pada waktu Yesus memerintahkan untuk membaptiskan ini hanya kepada sebelas Rasul saja yang diperintahkan untuk melaksanakannya (Mat 28:16).

Mengapa Baptisan itu tidak bisa dilakukan orang sembarangan? Disebabkan baptisan itu adalah sesuatu yang sangat penting, sebab itu akan menyatukan kita dengan kematian dan kebangkitan Kristus sendiri. Dan menjadi saksi mata dari pada kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus itu adalah para Rasul. Oleh karena itu hanya mereka yang berhak secara otentik dan dapat dibenarkan memberitakan Kristus yang benar yang telah disaksikan oleh mereka itu.

Oleh karena itu merekalah yang secara sah dan resmi ditetapkan oleh Kristus untuk melaksanakan pembaptisan di samping menjadi pemberita-pemberita Injil kepada umat manusia. Jadi mereka ini adalah cikal-bakal dari Gereja. Oleh karena itu hanya dengan persekutuan dengan para Rasul, melalui rahmat mata rantai pentahbisan saja seseorang dapat membaptiskan orang lain. Oleh karena itu baptisan tidak dapat dilakukan orang secara sembrono ” dan secara sembarangan. Namun harus dilakukan sesuai apa yang ditetapkan di dalam Kitab Suci itu sendiri yaitu melalui jalur mata rantai para Rasul ini.

Memang di dalam Gereja Mula-mula ada dispensasi tertentu dimana orang awam diizinkan untuk membaptiskan, jikalau itu memang situasinya sangat darurat sekali. Misalnya: Jikalau di suatu daerah terpencil yang jauh dari presbiter dan seseorang ingin jadi Kristen segera, entah orang tersebut dalam keadaan sakit keras dan keselamatannya terancam namun ingin menjadi Kristen, jikalau orangnya ingin dibaptiskan maka orang awam Orthodox yang sudah dibaptiskan yang ada ditempat itu, siapa saja dia, entah laki-laki atau perempuan, entah anak kecil, mereka dapat membaptiskan secara darurat.

Caranya ialah orang tadi diselam dalam air dengan dengan mengucapkan rumusan : ”…engkau dibaptiskan dalam nama Bapa (diselamkan), Putra (diselamkan) dan Roh Kudus (diselamkan), Amin.” Atau orang tersebut disiram dengan air kalau dia memang tidak bisa bangun karena sakit, dengan mengatakan “…engkau dibaptiskan dalam nama Bapa (percik), Putra (percik) dan Roh Kudus (percik), Amin.”

Demikianlah baptisan darurat ini menjadi valid. Namun jika orang ini ternyata nantinya sembuh dan ternyata masih hidup, maka harus dilaporkan kepada Gereja bahwa orang tersebut telah dibaptiskan secara darurat dan pada saat itu presbiter akan datang dan hanya akan mengurapi (krisma) dia dengan minyak sebagai peneguhan baptisannya tadi dengan Sakramen Krisma.

Sama halnya yang dilakukan oleh Filipus, sebagai diakon (Kis 6:5) memang dia berhak untuk membaptiskan, akan tetapi tidak untuk mengurapi (sakramen Krisma) dan tumpangan tangan, karena hanya presbiter saja yang menjadi pengganti lanjut secara langsung dari para Rasul yang berhak untuk menjalankan baptisan. Namun karena situasi di Samaria pada saat itu sangat darurat sekali, maka diakon Filipus dapat membaptiskan, akan tetapi bukan memberikan sakramen Krisma. Sehingga para Rasul yang dari Yerusalem harus turun ke Samaria untuk menumpangkan tangan kepada mereka agar mereka menerima sakramen Krisma yaitu menerima Roh Kudus (Kis 8:14-17).

Demikianlah landasan mengapa baptisan darurat itu perlu diteguhkan oleh presbiter, sebab presbiter itu pengganti lanjut dalam mata rantai-suksesi para Rasul.

Itulah sebabnya jikalau ada orang Kristen dari tradisi yang lain yang non-Orthodox datang ke dalam Gereja Orthodox, ada dua kemungkinan cara penerimaannya, yaitu dengan dibaptiskan secara penuh seperti orang-orang lain yang berasal dari agama lain atau orang yang mempunyai iman apapun, atau dengan jalan cukup dikrisma saja. Ini bukan baptisan ulang sebab di dalam kaca mata iman Orthodox, bahwa orang yang dibaptiskan tanpa mempunyai mata rantai Rasuliah itu secara hukum gereja belum mengalami baptisan secara benar-benar atau belum dibaptiskan. Memang ini agak keras dalam pemikiran anda, akan tetapi hal itu adalah ketetapan hukum kanon Gereja. Baru ketika dia dibaptiskan sebagai Orthodox itulah secara resmi dia itu baru dibaptiskan sesuai dengan yang diajarkan oleh Alkitab.

Orang dari tradisi Kristen yang lain yang dibaptiskan dalam Gereja Orthodox, itu bukan mengalami baptisan ulang, dan itu ditentukan benar tidaknya atau menyimpang tidaknya ajaran yang diikuti sebelumnya.

Demikian pula mengenai salah benarnya pengertian mereka tentang baptisan. Entah baptisan itu dalam wujud dipercikkan atau diselamkan. Jika pengertian baptisan orang tersebut sudah benar dan imannya tidak terlalu menyimpang dari iman Orthodox, meskipun seandainya orang itu dibaptis percik, jikalau orang itu tidak menginginkan dan menghendaki dibaptiskan kembali, maka cukup diteguhkan melalui sakramen Krisma saja.Namun jikalau ada orang yang biarpun sudah dibaptiskan dengan jalan diselamkan sekalipun, namun kalau pengertian dan ajarannya tentang baptisan secara umum jauh menyimpang dari Iman Orthodox maka bagaimanapun juga orang ini harus dibaptiskan dan tidak bisa hanya diterima secara dispensasi saja.

Demikianlah, tidak ada keragu-raguan dalam iman Kristen Orthodox di dalam menentukan penerimaan orang untuk masuk ke dalam pembaptisan. Jadi dengan demikian kita melihat, bahwa secara normal yang dapat membaptiskan hanya rohaniwan yang telah ditahbiskan, yaitu para presbiter yang mempunyai mata rantai suksesi Rasuliah secara langsung dengan barokah Rasuliah. Dalam keadaan darurat bisa dilakukan oleh orang awam Orthodox siapapun yang sudah dibaptiskan, asalkan nantinya jikalau orangnya ternyata tidak jadi meninggal dan tetap mempunyai hidup harus segera dilaporkan kepada presbiter, untuk selanjutnya diberikan sakramen Krisma.©(17)

Oleh karena Gereja itu adalah organisme di dalam sang Kehidupan (Kristus) yang terus mengalir di dalam Gereja melalui Roh Kudus, maka sarana-sarana benih kehidupan yang telah ditaburkan oleh Yesus Kristus 2000 tahun yang lalu, harus terus mengalir tidak putus. Salah satunya sarana aliran kehidupan itu adalah “tahbisan Kristus yang ditetapkan Sang Bapa” (Yoh 5:36-37), itu kemudian dilimpahkan kepada para Rasul dan kemudian otoritas tahbisan ini dilanjutkan kepada generasi berikutnya, yang kita kenal dengan istilah “suksesi Rasuliah”.

Suksesi Rasuliah itu tidak boleh putus, karena hal tersebut merupakan media dimana aliran kehidupan Kristus mengalir. Kekristenan itu bukan ‘ideologi’ yang dimana semua orang bisa merancang sistem pengajaran Kekristenan secara terpisah, tetapi Kekristenan itu adalah kehidupan yang tak putus.

Jadi suksesi Rasuliah adalah filter dan pagar keamanan ajaran Kristus yang menjamin ajaran-Nya tetap murni. Suksesi ini hanya ada di dalam Gereja Orthodox, satu-satunya yang tak tercemar di dunia ini. Kristus bukanlah Allah yang bodoh (terkutuklah yang berpikir demikian), dengan tidak mempersiapkan segala sesuatunya yang menyangkut pemerintahan Kerajaan Allah Sebelum Dia naik ke sorga .

©(16)Kita perlu melakukan klarifikasi dulu atas jabatan 70 utusan (Evangelis) dahulu. Dalam Injil Lukas (1 0112), dikisahkan selain mengangkat 12 orang Rasul, Yesus juga menetapkan 70 orang terpilih yang diberangkatkan berpasangan, untuk mendahului perjalanan Yesus memberitakan Kabar Baik kepada daerah-daerah di dalam dan di luar wilayah Palestina. Ada semacam tipologi dari tindakan Tuhan Yesus mengangkat 12 Rasul dan 70 murid ini, yaitu perlambang 12 suku Israel dan 70 hakim atas permasalahan umat (Kel 18:13-26). karena Yesus Kristus, sebelum Ia terangkat ke surga telah memikirkan Gereja-Nya harus memiliki pemerintahan, yang semuanya berpusat pada otoritas para Rasul. Demikianlah fungsi penghakiman iman Gereja diserahkan pada ke-70 murid ini, yang melaksanakan keputusan-keputusan kanon gerejawi yang disusun oleh para Rasul. Kita tidak pernah tahu nama-nama ke-70 orang ini dengan pasti, tetapi Gereja Orthodox yang bersandar kepada Tradisi Suci memiliki nama-nama hampir kesemua tokoh dimaksud. Dalam banyak kasus, mereka inilah yang secara definitif mendirikan Gereja di seputar Laut Tengah (dan menjadi Uskup-uskup pertamanya), pada masa Perjanjian Baru. Kita mengenal dengan jelas beberapa orang evangelis dari Kisah Para Rasul, seperti Matias dan Yustus (Kis 2:23), Filipus (Kis 8:4-6) dan Silas (Kis 15:40). Tetapi yang lain siapa dan dimana mereka berada? Jikalau anda jeli dan menghargai Tradisi Suci, melalui surat-surat Rasul Paulus, bisa diketahui sebagian nama-nama 70 utusan Injil tersebut,Dalam Surat Roma pasal 16, Paulus memberikan salam kepada Aquila (ay 3), Andronikos dan Yunias (ay 7), Stakhis (ay 9) dan Hermas (ay 14), juga dalam Surat Efesus pasal 6, Tikhikus (ay 21), dalam Surat Kolose pasal 4, Epafras (ay 12), Arkhipos (ay 17), dalam Surat Tesalonika pertama 1, Silvanus (ay 1), dalam Surat Timotius kedua pasal 4, ada Kreskes (ay 10) dan Linus (ay 21). Itulah nama-nama beberapa dari ke-70 utusan Injil tersebut.Mereka terpencar setelah kaum Yahudi membunuh Diakon Stefanus, yang menandai masa Gereja Diaspora, dimana Gereja akhirnya menjadi universal.

Juga melalui beberapa tradisi lokal gereja Syria, maka uskup kedua kota Antiokhia yaitu Evodios termasuk bilangan 70 utusan ini, juga Tadeus yang pergi mengobati raja Abgar di Edessa, kemudian Yohanes yang menjadi presbiter di Efesus sekaligus murid Rasul Yohanes. Dalam hal ini juga maka penulis kitab Didakhe termasuk bilangan utusan Injil juga (ed )

©(17)Mengapa Gereja Orthodox sedemikian memandang penting pada The Apostolic Succession (Mata-rantai Pengganti Rasul) ini? Marilah kita membaca penjelasan berikut. Kekristenan itu adalah Kerajaan Allah yang hadir di bumi ini, yang ditegakkan melalui manifestasi Kristus dan hadir di dalam dunia melalui Gereja. kepenuhan Kerajaan Allah akan terjadi ketika Kristus datang lagi yang kedua kalinya ke dunia untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati, menjadikan semuanya baru (Mrk 1:15; Yoh 3:3-5; Rm 8:20-21; 1kor6:9-10; Why21:1-22:5).

Untuk misi penegakan Kerajaan Allah ini, maka Kristus telah memilih pekeria-pekerja-Nya secara khusus (Mat 10:2-4; Yoh 15:16; 20:21; Kis 1:8; Mat 28:19-20, dll.) yang kemudian kuasa pemilihan atau tahbisan Kristus atas diri para Rasul itu dilimpahkan kembali kepada para pengganti mereka untuk menjaga kesinambungan Misi Kristus di bumi, yaitu dengan mentahbiskan para preshiter (penatua) seperti yang kita lihat dalam Kis 14:23; Tit 1:5; 2Tim 2.2). Misi kristus ke dunia adalah “memberikan kehidupan” kepada Organisma, di dalam kehidupan ada aliran kehidupan yang tak putus dan kehidupan yang tak putus inilah yang diberikan Kristus kepada umat-Nya yang berasal dari Bapa yang dialiri oleh Roh Kudus bagi orang percaya: yaitu Gereja. Gereja adalah organisme hidup di dalam kristus, yang mana Gereja adalah tubuh-Nya (Ef 1:23) atau dengan kata lain Gereja dan Kristus merupakan ‘satu kesatuan komunitas suatu “Organisme kehidupan”dan kehidupan yang diperoleh Gereja itu berasal dari Kristus karena Dia adalah kehidupan (Yoh 14:6), yang mana kehidupan itu adalah aliran yang tak pernah putus, sementara jikalau putus berarti kematian!

disadur dari buku BAPTISAN Oleh : Archimandrite Fr.Daniel Dwi Byantoro,Ph.D~曹衡进

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *