Dogmatika

RABU SESUDAH THEOPHANIA

Oleh: Janasuci Theophan Sang Penyendiri, Penterjemah: Arkhimandrit Daniel B.D.Byantoro

I Petrus 4:1-11; Markus 12:28-37

Seorang ahli Taurat bertanya kepada Sang Kristus:’ “Hukum manakah yang paling utama?” (Markus 12:28).

Sang Kristuspun menjawab :” Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Markus 12:30-31).

Ini juga berfungsi sebagai suatu tambahan kepada gambaran dari manusia yang tersembunyi di dalam hati/manusia batiniah yang tersembunyi dalam renungan kita sebelumnya itu. Menguduskan Tuhan itulah “rohnya”, dan kasih itulah “jiwanya”; dan kebajikan-kebajikan lainnya itulah “anggota-anggotanya yang macam-macam” – lengan, kaki, mata, telinga, dan lidahnya.

Mengingat akan hal-hal ini adalah sangat perlu sekali. Karena kadang-kadang terjadi orang mengira bahwa melakukan perbuatan baik itulah sebagai kebajikan yang terakhir. Orang berpikir bahwa mereka dapat melupakan yang lain cukup hanya melakukan ini saja, tidak berpikir akan Tuhan dan lupa akan kasih. Ini seperti rumah yang belum diberkati, atau suatu ruangan yang tanpa ikon. Tanpa kasih, melakukan perbuatan baik itu, seperti suatu bangunan dipenuhi dengan patung-patung ukir-ukiran yang tak memiliki hidup, lebih jauh lagi, yang tunduk pada lumut dan jamur yang merusaknya.

Perhatikan akan hal ini, wahai masing-masing kalian, dan tetapkan dalam dirimu untuk menciptakan suatu manusia yang baru dalam hatimu, cobalah untuk menempatkan manusia ini di hadapan Tuhan, yaitu Dia yang tanpa ada cacatnya itu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *