Dogmatika

RABU DARI MINGGU ANAK HILANG

Oleh: Janasuci Theophan Sang Penyendiri

Penterjemah: Arkhimandrit Daniel B.D.Byantoro

I Yohanes 2: 18-3:10; Markus 11: 1-11

Jika pertolongan itu dibutuhkan, bermohonlah! “Saya telah bermohon,” engkau mengatakan,” dan aku tak menerima jawaban.” Tetapi, mengapa itu diberikan kepada orang lainnya? Bagi Allah tak ada sikap memandang bulu itu, sehingga Ia memberi kepada yang satu, dan tidak memberikan kepada yang lain, tanpa alasan apapun. Dia siap memberikan kepada semua – karena Dia senang untuk memberi. Jika Ia tak memberi kepada seseorang, alasannya itu bukan pada Dia,tetapi pada orang yang memohon pertolongan. Diantara alasan-alasan semacam itu, dapat saja menyangkut hal-hal yang bahkan mungkin kita tak dapat menduga. Tetapi terdapat juga alasan-alasan yang dapat diketahui, dan nampak kelihatan kepada setiap orang. Rasul Yohanes menunjukkan salah satu dari alasan-alasan ini (dan bukankah ini alasan terutama?), yaitu tiadanya rasa percaya diri atau tiadanya keberanian, dan tiadanya rasa percaya diri ini berasal dari penghukuman atau tuduhan oleh hati atau oleh hati-nurani. “…. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah” ( I Yohanes 3:19-21), Tak ada kata-kata apapun lagi yang perlu ditambahkan pada kata-kata dalam ayat ini. Segala sesuatunya sudah jelas didalam dan pada dirinya sendiri. Tuan macam apakah yang akan menolong seorang hamba yang tidak setia, pemboros dan penghambur-hambur? Apakah Tuhan sungguh-sungguh akan memanjakan kita apabila kita tidak ingin untuk memperkenankan Dia serta menggenapi perintah-perintahNya, jika kita hanya mulai berdoa ketika kebutuhan yang sangat mendesak muncul?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *