JanuariSynaxarion

Janasuci Nino (Nina), yang sejajar dengan Para Rasul dan Pencerah Georgia (☦️335)

Diperingati Gereja Orthodox pada 27 Januari (Kalender Sipil) / 14 Januari (Kalender Gereja Purba)

Nina, Penerang Georgia, adalah seorang perawan yang lahir pada tahun 280 di Kolastra di Kapadokia (sekarang wilayah Turki). Ia merupakan kerabat dari Martir Agung Georgius dan satu-satunya putri dari pasangan suami istri yang sangat dihormati. Ayahnya adalah seorang kepala pasukan Romawi dengan nama Zabulon. Zebulon melayani dalam pasukan Romawi dan ikut serta membebaskan tawanan-tawanan Kristen dari Galia. Ibunya, Sosana, adalah saudara perempuan dari Patriarkh Juvenal dari Yerusalem.

Ketika Nino mencapai usia dua belas tahun, orangtuanya menjual semua harta milik mereka dan pindah ke Yerusalem. Oleh persetujuan bersama dan berkat dari Patriark, ayah Nino ditonsur (ritus pemotongan rambut) sebagai seorang biarawan. Dia mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya dan pergi ke hutan belantara Sungai Yordan. Setelah Susanna berpisah dari suaminya, Patriarkh Juvenal menahbiskannya sebagai Diakonisa di Gereja Agung Makam Kudus Tuhan Kita.

Dia meninggalkan putrinya Nino dalam perawatan seorang wanita tua bernama Sara Niaphor, yang membesarkannya dalam Iman Kristen dan menceritakan kepadanya kisah-kisah tentang kehidupan Kristus dan penderitaan-Nya di bumi. Nina tumbuh menjadi gadis yang tekun berdoa dan membaca Alkitab. Dengan berlinang air mata, ketika sedang membaca Injil Kudus mengenai Penyaliban Sang Juruselamat, ia merenungkan mengenai tempat beradanya Baju Tuhan. Nianphora menyatakan bahwa Baju Tuhan telah diambil oleh rabi Eleazar dari Mtskheta ke Georgia.

Segera Nino mulai berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Theotokos, meminta berkatnya untuk bepergian ke Georgia dan menjadi layak untuk memuliakan Jubah Suci yang telah ditenun Sang Theotokos untuk Putranya yang terkasih. Perawan Suci mendengar doa-doanya dan menampakkan diri kepada Nino dalam mimpi, dan berkata, “Pergilah ke negeri yang ditugaskan kepadaku oleh banyak orang dan berkhotbahlah tentang Injil Tuhan kita Yesus Kristus. Dia akan menurunkan rahmat-Nya ke atasmu dan aku akan menjadi pelindungmu.”

Tetapi Nino yang diberkati merasa kewalahan dengan pemikiran akan tanggung jawab yang begitu besar dan menjawab, “Bagaimana aku, seorang wanita yang rapuh, dapat melakukan tugas yang sangat penting, dan bagaimana aku dapat percaya bahwa penglihatan ini nyata?” Sebagai tanggapan, Theotokos yang tersuci memberinya salib dari tanaman anggur dan menyatakan, “Terima salib ini sebagai perisai melawan musuh yang terlihat dan tidak terlihat!”

Ketika dia bangun, Nino memegang salib di tangannya. Dia membasuhnya dengan air mata sukacita dan mengikatnya dengan aman dengan helaian rambutnya sendiri. (Menurut sumber lain, Theotokos Maria mengikat pohon anggur dengan rambutnya sendiri). Nino menceritakan penglihatan itu pada pamannya, Patriarkh Juvenal, dan mengungkapkan kepadanya keinginannya untuk mengabarkan Injil di Georgia.

Juvenal membimbingnya di depan Pintu Kerajaan, meletakkan tangannya di atasnya, dan berdoa, “Ya Tuhan, Allah yang kekal, aku memohon kepadamu atas keponakanku yang yatim piatu: Beritahukanlah, menurut kehendakMu, dia dapat pergi untuk mengabarkan Injil dan menyatakan Kebangkitan Kudus-Mu. Ya Kristus, Allah kami, jadilah pembimbing, perlindungan, dan bapa rohani. Dan ketika Engkau mencerahkan para Rasul dan semua orang yang takut akan nama-Mu, cerahkanlah juga dengan kebijaksanaan hambaMu Nino untuk memberitakan Injil-Mu yang penuh suka cita.”

Ketika Nino tiba di Roma, dia bertemu dan membaptiskan putri Rhipsimia dan perawatnya, Gaiana. Pada waktu itu kaisar Romawi adalah Diokletianus, seorang penguasa terkenal karena menganiaya orang Kristen. Diokletian (284-305) jatuh cinta pada Rhipsimia dan memutuskan untuk menikahinya, tetapi Js. Nino, Rhipsimia, Gaiana, dan lima puluh gadis lainnya melarikan diri ke Armenia. Diokletianus yang marah memerintahkan tentaranya untuk mengikuti mereka dan mengirim utusan ke Tiridates, raja Armenia (286-344), untuk menangkapnya.

Raja Tiridates menemukan para wanita dan mengikuti contoh Diokletianus, terpesona oleh kecantikan Rhipsimia dan memutuskan untuk menikahinya. Tetapi Rhipsimia tidak setuju untuk menikahinya, dan dalam amarahnya, raja menyiksanya sampai mati bersama Gaiana dan lima puluh gadis lainnya. Tetapi Js. Nino, sedang dipersiapkan untuk tugas yang berbeda, lebih besar, sehingga dia berhasil melarikan diri dari penganiayaan Raja Tiridates dengan bersembunyi di antara semak bunga mawar.

Seorang Malaikat Tuhan tampak dalam Penglihatan memegang Pengukup dan Gulungan, serta menguatkannya untuk meneruskan perjalanan Rasulinya. Ketika dia akhirnya tiba di Georgia, Js. Nino disambut oleh sekelompok gembala Mtskhetan di dekat Danau Paravani, dan dia menerima berkat dari Allah untuk mengabarkan Injil kepada para penyembah berhala di wilayah ini.

Dengan bantuan temannya, Js. Nino berhasil tiba di kota Urbnisi. Dia tinggal di sana sebulan, kemudian melakukan perjalanan ke Mtskheta dengan sekelompok orang Georgia yang sedang berziarah untuk menghormati dewa Armazi. Di sana dia menyaksikan dengan sangat sedih ketika orang-orang Georgia gemetar di hadapan berhala. Dia sangat sedih dan berdoa kepada Tuhan, “Ya Tuhan, turunkanlah belas kasihMu atas bangsa ini … agar semua bangsa dapat memuliakan Engkau, satu-satunya Allah yang Sejati, melalui Putra-Mu, Yesus Kristus.”

Tiba-tiba angin kencang mulai berhembus dan hujan es jatuh dari langit, menghancurkan berhala-berhala Armaz, Gatsi dan Gaim. Para penyembah berhala yang ketakutan melarikan diri, kalang kabut di kota.

Js. Nino membuat rumahnya di bawah semak duri di taman raja, bersama keluarga tukang kebun kerajaan. Tukang kebun dan istrinya tidak memiliki anak, tetapi melalui doa Js. Nino, Allah memberi mereka seorang anak. Pasangan itu sangat bersukacita, menyatakan Kristus sebagai Allah yang Sejati, dan menjadi murid Js. Nino. Ke mana pun Js. Nino pergi, mereka yang mendengar khotbahnya bertobat kepada Iman Kristen yang terus berkembang dalam jumlah besar. Js. Nino bahkan menyembuhkan Ratu Nana yang sakit parah hingga akhirnya ia menyatakan imannya pada Kristus.

Raja Mirian, seorang penyembah berhala, sama sekali tidak senang dengan pengaruh luar biasa dari pemberitaan Js. Nino kepada bangsa Georgia. Suatu hari ketika dia pergi berburu, dia memutuskan untuk membunuh semua orang yang mengikuti Kristus. Menurut rencananya yang jahat, Ratu Nana, istrinya pun diancam akan menghadapi kematian jika tidak mau melepaskan Iman Kristennya.

Namun di tengah perburuan, tiba-tiba langit menjadi sangat gelap. Karena sendirian, Raja Mirian menjadi sangat takut dan berdoa dengan sia-sia untuk minta bantuan dewa-dewa kafir. Ketika doanya tidak dijawab, dia akhirnya kehilangan harapan dan, secara ajaib, dia berbalik kepada Kristus: “Ya Allah Nino, berikan aku terang malam ini untukku dan bimbing langkah kakiku, dan aku akan menyatakan Nama Suci-Mu. Aku akan mendirikan salib dan memuliakannya dan aku akan membangun bagimu sebuah Gereja. Aku bersumpah untuk taat pada Nino dan Iman orang-orang Kristen!”

Tiba-tiba malam itu berubah rupa, matahari bersinar terang, dan Raja Mirian berterima kasih kepada Sang Pencipta. Ketika dia kembali ke kota, dia segera memberi tahu Js. Nino tentang keputusannya. Sebagai hasil dari kerja keras yang tak henti-hentinya dari Js. Nino yang disebut “sejajar dengan para Rasul”, Georgia menjadi bangsa yang berakar kuat dalam Iman Kristen.

Tuhan mengungkapkan kepada Nina tempat di mana BajuNya tersembunyi, dan di sana dibangun Bait Kristen yang pertama di Georgia. Atas permintaan Raja Mirian, Kaisar Konstantinus mengirim Uskup Antiokhia, Eustathios, beserta dua orang Imam dan tiga orang Diakon. Bersama Imam Yakobus dan salah seorang Diakon, Nina mewartakan Injil Kudus dan mempertobatkan kaum pagan di perbukitan kepada Kristus.

Ia lalu meneruskan perjalanan ke Kakhetia dan mempertobatkan penduduk negeri itu kepada Kristus, termasuk Ratu Sodzha bersama seluruh pengikutnya. Mengetahui wafatnya telah mendekat, Nina meminta Raja Mirian agar mengirim Uskup Yohanes untuk mempersiapkannya bagi perjalanan terakhir. Uskup bersama Raja dan segenap Klerus berangkat ke Bodbe. Setelah menerima Rahasia-Rahasia Kudus dan Tanpa-Cela, Nina meminta agar dikubur di Bodbe dan wafat dalam damai pada tahun 335. Reliknya tetap berada di Bodbe sekalipun Raja ingin memindahkannya ke Katedral di Mtskheta. Ada Gereja yang kemudian dibangun dalam nama Martir-Agung Kudus George, yang adalah kerabat Nina.

Troparion Irama IV

‘Ya Nina yang Kudus, sang Setara-Rasul, yang telah meneladani Andreas sang Pertama-Terpanggil dan Rasul-Rasul lain dalam Khotbah Rasuli, Penerang Iberia dan Kecapi Sang Roh Kudus, mohonkanlah Kristus Allah agar jiwa kami diselamatkan’

Kontakion Irama IV

‘Datanglah kalian semua, dan marilah kita mengidungkan Nina yang AmatTerpuji, sang Pengkhotbah Firman Allah, sang Setara-Rasul, yang dipilih oleh Kristus, sang Penginjil Berhikmat yang telah menuntun rakyat Kartalinia kepada Jalan Kehidupan dan Kebenaran, Murid sang Theotokos, Penolong kita yang Bersungguh dan Penjaga kita yang Tanpa-Lelah.

Mari kita menyanyikan pujian untuk pilihan Kristus, Setara-dengan-Para Rasul dan pengkhotbah firman Tuhan, pembawa kabar baik yang membawa orang-orang Georgia ke jalan kehidupan dan kebenaran, murid Theotokos, pendoa syafaat kami yang bersemangat dan penjaga kami yang tidak pernah lelah, Nina yang terpuji.

Relik Salib Js. Nino yang masih tersimpan di Katedral Sioni, Tbilisi – Georgia :

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *