JanuariSynaxarion

Peringatan Kedua Martir Kudus dan Benar Bonifasius dan Aglaida dari Roma (303)

Diperingati Gereja Orthodox pada 1 Januari (kalender sipil) / 19 Desember (kalender Gereja Purba)

Bonifasius adalah hamba Aglaida, seorang perempuan muda Romawi yang kaya, dan hidup bersamanya. Hati nurani mereka menghardik mereka dan mereka ingin membasuh dosa-dosa mereka. Aglaida mendengar bahwa dengan menyimpan relik Martir Kudus, ia bisa mendapatkan rahmat untuk menaklukkan dosa dan mendapatkan keselamatan. Ia meminta Bonifasius pergi ke wilayah Timur pada masa aniaya ganas terhadap orang-orang Kristen dan membawa kembali Relik seorang Martir Kudus.

Bonifasius tertawa dan bertanya, ‘Dan bagaimana, ya putri, jika aku tidak menemukan relik, dan malah aku sendiri yang menanggung derita bagi Kristus, akankah engkau menerima tubuhku dengan hormat?’ Aglaida menegurnya sebab tidak bersungguh-sungguh dalam urusan tersebut. Bonifasius merenungkan perkataannya sendiri, dan sepanjang perjalanan itu ia terus berpikir.


Di Tarsus daerah Kilikia, Bonfiasius meninggalkan kawan-kawannya di penginapan dan pergi ke lapangan kota di mana mereka sedang menyiksa orang-orang Kristen. Takjub melihat wajah para Martir Kudus itu bersinar dengan rahmat Tuhan, Bonifasius bergegas mencium kaki mereka dan memohonkan doa-doa Kudus mereka agar ia juga boleh didapati layak menanggung derita bersama mereka. Saat ditanyai hakim, Bonifasius mengakui dirinya sebagai seorang Kristen dan menolak mempersembahkan korban kepada berhala-berhala. Mereka memukulinya begitu keras sehingga tulangnya tampak dari dagingnya, menusukkan jarum di bawah kukunya, dan menuangkan timah leleh ke dalam tenggorokannya, namun oleh Kuasa Tuhan ia tetap tak tersakiti.


Rakyat menjadi gempar dan melempari hakim dengan batu dan pergi ke kuil pagan untuk menunggang-balikkan berhala-berhala. Keesokan paginya hakim memerintahkan agar Bonifasius dilemparkan ke dalam kuali berisi ter mendidih, namun ini juga tidak menyakitinya. Seorang Malaikat Kudus turun dari Sorga dan melindunginya, dan ter yang meluap itu membakar para algojo. Bonifasius lalu dipenggal dengan pedang. Dari lukanya mengalir cairan seperti susu. Menyaksikan mukjizat itu, sekitar lima-ratus lima-puluh orang menjadi percaya kepada Kristus.


Kawan-kawan Bonifasius mulai mencarinya dan mencurigai bahwa ia sedang berfoya-foya. Mereka menjumpai seseorang yang telah menyaksikan kemartiran Bonifasius, yang menuntun mereka ke tempat pembunuhan itu. Kawan-kawannya dengan air mata memohon pengampunannya atas kecurigaan mereka, dan setelah menebus tubuhnya dengan sejumlah besar uang, mereka kembali ke Roma.


Pada malam sebelum kedatangan mereka seorang Malaikat Kudus tampak
kepada Aglaida dalam tidurnya dan menyuruhnya mempersiapkan diri menerima hambanya, yang sekarang telah menjadi seorang merdeka dan menjadi Pelindungnya, yang melayani bersama para Malaikat Kudus. Setelah memanggil Klerus, dengan hormat yang besar ia menerima relik yang terhormat itu dan membangun Gereja atas nama Martir Kudus Bonifasius dengan reliknya yang dimuliakan oleh mukjizat-mukjizat.

Setelah membagi-bagikan semua hartanya kepada orang-orang miskin, ia
mengundurkan diri ke Monasteri di mana ia menjalani delapan-belas tahun dalam pertobatan. Ia sendiri dikuburkan dekat makam Bonifasius.


Kontakion Irama IV


‘Oleh kehendakmu sendiri engkau telah mempersembahkan dirimu sebagai suatu korban kudus yang tanpa-cela kepadaNya yang lahir dari sang Dara demimu, ya Bonifasius yang Amat-Berhikmat, Pembawa-Mahkota yang Kudus’

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *