DogmatikaTeologi

Pengantar Perjanjian Baru (Bagian 9)

Oleh: Protopresbyter Yohanes Bambang Cahyo Wicaksono

Kompleksitas Sejarah Perjanjian Baru

Kalau seseorang menempatkan isi Injil-Injil itu dalam empat kolom, maka orang tersebut akan dapat melihat perbedaan dan kesamaan di antara mereka. Injil Matius, Injil Markus dan Injil Lukas itu mempunyai kesamaan, karena itu Injil-Injil tersebut disebut Injil Sinoptik yang datang dari bahasa Yunani “Sun” (bersama) dan “Orw” (melihat). Dengan demikian “Sinoptik” berarti melihat bersama-sama. Injil Matius dan Injil Markus itu mempunyai kemiripan dalam susunan peristiwa dan bahkan dalam penggunaan kata. Injil Lukas mempunyai banyak peristiwa yang sama namun sedikit agak berbeda dalam susunannya. Injil Yohanes mempunyai banyak hal yang tidak ditemukan dalam Injil-Injil yang lain sama sekali. Hanya dalam beberapa hal ditemukan dalam Injil Yohanes, kita juga telah menemukan dalam Injil-Injil yang lain seperti : Baptisan Kristus, memberi makan banyak orang dan cerita tentang penderitaan Kristus (cerita penderitaan berarti peristiwa yang menuntun pada penyaliban Kristus).

.

Masalah Sinoptik

Ada beberapa ketidakkonsistenan (cerita-cerita yang sedikit agak berbeda) yang ditemukan dalam 3 Injil Sinoptik. Sebagian besar para bapa Gereja mula-mula tidak tertarik dalam masalah ini, namun meskipun demikian beberapa dari mereka memberitahukan hal-hal ini dan berusaha untuk menjelaskannya. Suatu contoh Js. Agustinus telah berpikir bahwa Injil Matius itu ditulis pertama kali dan kemudian Injil Markus adalah ringkasan dari Injil Matius, sedangkan Injil Lukas menggunakan kedua Injil ini dan menuliskannya sendiri.

Di dalam waktu-waktu yang lebih modern ini, para sarjana sangat tertarik dalam menjelaskan tentang hubungan 3 Injil Sinoptik ini. Dari tahun 1835 sampai sekarang, para sarjana telah berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini melalui sejarah dan pengujian literatur Perjanjian Baru. Penyelidikan ini telah menuntun pada dua sumber hipotesis. Hipotesis ini mengatakan bahwa hubungan antara 3 Injil ini dapat dijelaskan dengan baik kalau kita mengatakan bahwa Injil-Injil itu datang dari 2 sumber yakni: Injil Markus dan sumber lain yang disebut “Q” itu telah dihilangkan.

Hipostesis ini telah mulai saat K. Lachmann (Profesor Jerman yang ahli dalam bidang literatur kuno) telah menemukan bahwa Injil Markus itu selalu setuju dengan baik Injil Matius maupun Injil Lukas. Tetapi kapan pun Injil Lukas dan Injil Matius setuju, mereka tidaklah setuju dengan Injil Markus. Hal ini dikarenakan:

1. Ia telah menyimpulkan bahwa Injil Markus itu telah ditulis pertama kali, dengan demikian para penulis baik Injil Matius maupun Injil Lukas telah menggunakan apa yang tertulis dalam Injil Markus.

2. Alasan lain telah memasukkan bahwa Injil Markus itu telah ada, pertama adalah bahwa saat Injil Lukas atau Injil Matius mengatakan hal-hal yang sama sebagaimana yang ada di Injil Markus, itu memperbaiki teks dari Injil Markus atau dalam lain perkataan bahwa dalam Injil Matius dan Injil Lukas bahasanya lebih baik untuk digunakan. Terkait dengan hal ini Js. Agustinus mengatakan bahwa Injil Matius sebagai yang pertama, tidak lagi diterima karena:

(a) mengapa seseorang ingin meringkas suatu Injil seperti halnya Injil Matius yang sangat penuh dan lengkap itu,

(b) di hari-hari ini kebiasaan untuk memperluas lebih sering dilakukan daripada untuk meringkasnya.

Tipe corak belajar tentang Injil ini (berusaha untuk menemukan sumber-sumber Alkitab) disebut sebagai “Sumber Kritikisme”. Corak lain dari kesarjanaan Alkitabiah disebut “Form Criticism” atau “bentuk kritikisme”. Corak ini berusaha untuk menemukan mengapa Alkitab ditulis dalam bentuk yang khusus. Dari tahun 1950 para sarjana Perjanjian Baru telah menggunakan metode lain yang disebut “redaksi kritikisme”. Ini mencoba untuk menemukan dan mempertimbangkan bagaimana para penulis Injil telah menggunakan bahan yang mereka gunakan dari Tradisi itu.

Di dalam Injil Lukas, Yesus juga menjangkau dan memperhatikan orang-orang berdosa dan pengusiran juga ditekankan. Siapakah penulis Injil ini? Barangkali penulisnya adalah seseorang yang bernama Lukas yaitu seorang dokter. Dia sesungguhnya bukanlah saksi mata tentang Yesus, karena itu dia bukanlah seorang Rasul. Dia bukanlah orang Yahudi, dia datang dari bangsa kafir dan dia adalah pengikut Js. Paulus. Kapan Injil Lukas ini ditulis? Barangkali ditulis sekitar tahun 70 Masehi. Hal ini dikarenakan Injil Lukas telah menggunakan Injil Markus, karena itu Injil Lukas harus ada setelah Injil Markus yang ditulis kira-kita tahun 64 Masehi (ingat ini merujuk pada penyiksaan yang dilakukan oleh Kaisar Nero).

Karena sifat dan keberadaan Injil Matius, para sarjana menganggap bahwa ini ditulis di wilayah Palestina. Maksud Injil ini adalah sama sebagaimana yang lain, dan hal ini dijelas-ungkapkan dalam Injil Yohanes 20:31. Injil Yohanes sungguh sangat berbeda dari tiga Injil yang lain yaitu: Injil Matius, Injil Markus dan Injil Lukas yang disebut sebagai Injil Sinoptik. 80% isi Injil Yohanes itu berbeda dari Injil-Injil Sinoptik. Namun ada beberapa hal yang Injil Yohanes bagikan dengan Sinoptik, seperti:

1. Pembersihan Bait Allah (Yesus marah karena orang-orang sedang berjualan di dalam Bait Allah).

2. Yesus sedang menyembuhkan hamba istana (Yohanes 4:46-53).

3. Memperbanyak roti (Yohanes 6:1-14).

4. Meminyaki Yesus (Yohanes 12:1-7)

5. Masuk ke Yerusalem (Yohanes 12:12-19).

6. Makan malam kali yang terakhir (di dalam Injil Yohanes kita menemukan makan malam kali yang terakhir, namun kita tidak menemukan kata-kata institusi yang mengatakan: “Ambilah, makanlah inilah tubuh-Ku …” dan seterusnya (Yohanes 3:1-38).

7. Cerita tentang penderitaan (Yohanes 18-19:30).

.

Perbedaan-Perbedaan Dasar Apakah antara Injil Yohanes dengan Injil-Injil yang Lain?

1. Mulai dengan sesuatu yang indah dengan dibukanya pernyataan teologi, tidak seperti Injil-Injil lainnya. Pembukaan ini bahkan menelacak keaslian dari Kristus sebelum penciptaan dunia.

2. Di dalam Injil Yohanes pelayanan Yesus kira-kira sekitar 2,5 atau 3 tahunan. Mulai di Galilea dan berakhir di Yerusalem (tiga tahun pelayanan ini barangkali lebih dekat dengan apa yang sesungguhnya telah terjadi).

3. Di dalam pasal 1-12, Yesus menyatakan diri-Nya sendiri kepada dunia.

4. Di dalam pasal 13-21, Dia menyatakan diri-Nya sendiri kepada para murid-Nya.

5. Di dalam pasal 13-17, kita memiliki selamat perpisahan yang dibaca pada hari Kamis Kudus.

6. Di dalam Injil Yohanes kita tidak menemukan Perumpamaan-perumpamaan apapun, malah yang kita temukan adalah pembicaraan simbolik yang mulia sekali. Dalam pembicaraan ini Yesus menggunakan simbol-simbol yang diambil dari benda-benda seperti: Roti, terang dan kebun anggur dll. Di dalam Injil Yohanes kita tidak menemukan terlalu banyak mukjizat (kecuali kita menemukan satu mukjizat yang mulia yaitu cerita tentang bangkitnya Lazarus dari antara orang mati) dan kita tidak menemukan pengajaran Yesus sebanyak itu (kita tidak menemukan apapun seperti khotbah di atas gunung seperti terdapat di dalam Injil Matius).

7. Di dalam Injil Yohanes kita tidak menemukan:

a) Pengusiran (Markus 5:8, 9:14).

b) Cerita tentang pencobaan (sebagaimana terdapat dalam Injil Matius 4:1-11).

c) Perubah-muliaan (Lukas 9:28-36).

d) Perjuangan Yesus di Getsemani (Matius 26:36-46).

.

8. Kita menemukan hal-hal baru di dalam Injil Yohanes yang tidak ditemukan di dalam Injil-Injil Sinoptik:

a) Panggilan Filipus dan Natanael (Yohanes 1:43-50).

b) Mukjizat Pernikahan di Kana (Yohanes 2:1-11).

c) Percakapan dengan Nikodemus (Yohanes 3:1-21).

d) Pembicaraan dengan wanita Samaria (Yohanes 5:7-42).

e) Kebangkitan Lazarus dari antara orang mati (Yohanes 11:17-44).

f) Cerita tentang keraguan Thomas akan kebangkitan Yesus (Yohanes 20:24-29).

g) Para Ahli Kitab dan Farisi membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berzina (Yohanes 8:1-11).

h) Yesus sedang membasuh kaki para murid-Nya (Yohanes 17:1-20).

.

9. Di dalam Injil Yohanes, waktu ketika makan malam kali yang terakhir telah mengambil bentuk yang berbeda dari apa yang dikatakan dalam Injil-Injil yang lain. Di dalam Injil-Injil Sinoptik makan malam yang terakhir itu mengambil tempat selama masa Paskah (Hari Besar orang Yahudi). Di dalam Injil Yohanes, makan malam kali yang terakhir masuk sebelum pesta Paskah. Di dalam Injil Yohanes, Kristus telah disalib sebelum pesta Paskah. Juga di dalam Injil Yohanes kita menemukan bahwa corak dan kualitas bahasa yang digunakan berbeda dari Sinoptik. Kita menemukan suatu terminologi yang berbeda di dalam Injil Yohanes, seperti:

kata kata: Aku adalah atau “Ego Eimi” dalam bahasa Yunani itu ditemukan berkali-kali dalam Injil Yohanes, contoh: Akulah kebenaran … Akulah kehidupan … Akulah Terang dunia … (Yohanes 14:6, 8:12).

Dalam Injil Yohanes kata-kata yang digunakan untuk suatu mukjizat adalah “Simeia” dalam bahasa Yunani yang berarti “tanda-tanda”, sedangkan dalam Injil Sinoptik kata “mukjizat” itu diterjemahkan dari bahasa Yunani “dinamis” yang berarti “kuasa”. Bagian lain dari tipe dan corak khusus yang ditemukan dalam Injil Yohanes adalah fakta bahwa ada beberapa kontras di dalamnya yaitu: terang, gelap, atas, bawah, orang-orang percaya, orang-orang tidak percaya dan seterusnya. Corak dan style ini lebih indah ditemukan dalam Injil Yohanes. Tata bahasa juga cukup menarik dan sangat baik.

10. Di dalam Injil Yohanes, setelah mukjizat terjadi, pada umumnya diikuti dengan penjelasan dari apa yang terjadi (mukjizat tersebut), contohnya: setelah penyembuhan orang lumpuh dan setelah penyembuhan orang yang buta matanya, kita menemukan dialog yang panjang untuk menjelaskannya dan memberikan makna teologi. Kita juga menemukan ironis yang terdapat dalam Injil Yohanes, seperti: kesalahpahaman Nikodemus tentang makna dilahirkan kembali, kesalahpahaman wanita Samaria terhadap sumur Yakub. Di dalam Injil Yohanes kita tidak menemukan rahasia Mesianik, malah justru Yesus menyatakan diri-Nya sendiri secara terbuka pada semua sebagai Sang Mesias.

(Bersambung)

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *