DogmatikaTeologi

Pengantar Perjanjian Baru (Bagian 3)

Oleh : Protopresbyter Yohanes Bambang Cahyo Wicaksono

Dalam Tradisi Kristen pertanyaan yang sangat penting adalah “Interpretasi Alkitab siapakah yang benar?” Di dalam kehidupan Gereja, hal itu benar bahwa otoritas Alkitab dihormati baik oleh orang Kristen maupun para bidat. Tetapi bagaimana Alkitab itu telah diinterpretasikan? Hukum Iman (koleksi dari beberapa pengajaran yang penting demikian halnya seperti penciptaan dunia, keilahian Kristus dan kebangkitan dari antara orang mati) itu dilayankan sebagai suatu kriteria bagi interpretasi Alkitab yang benar. Saat kontroversi bangkit yang tidak dapat dipecah-selesaikan hanya melalui dialog, maka konsili perlu diadakan.

Tujuan diadakannya konsili ini untuk memecahkan masalah yang sedang terjadi terutama terkait dengan ajaran Gereja sepanjang segala abad. Dari konsililah maka interpretasi tentang ajaran ini diberikan, di mana hal tersebut sebagai interpretasi yang bersifat otoritatif. Dalam artikel yang ditulis oleh Grant, kita menemukan beberapa hal mengenai interpretasi otoritatif tentang Alkitab. Kriteria interpretasi otoritatif akan Alkitab itu adalah:

1. Diterima oleh konsili.

2. Makna tata bahasa yang asli harus dipertimbangkan.

3. Konteks yang ada harus dipertimbangkan.

4. Suatu interpretasi otoritatif itu perlu suatu perhatian untuk editifikasi akan umat Allah.

Kesarjanaan Alkitabiah Modern

 Tidak dapat diingkari bahwa dalam sejarahnya banyak di antara mereka telah mencetuskan metode bagaimana cara melihat Alkitab:

  1. Bangkitnya Universitas-Universitas

Akhir 1000 tahunan di banyak universitas telah mendasarkan belajarnya dalam banyak subyek: termasuk tentang Alkitab. Sebelum muncul bangkitnya universitas, interpretasi yang tepat tentang Alkitab itu merupakan hasil dari kerohanian dan cara kehidupan yang penuh doa lebih daripada hanya belajar secara akademisi. Tetapi dengan bangkitnya universitas-universitas kita menemukan bahwa umat telah mulai melihat Alkitab hanya sekadar perspektif akademisi. Mereka telah menganalisa dan mensistematiskan isi-isi Alkitab.

2. Penemuan Luther tentang Alkitab

Luther telah memulai revolusi rohani dengan kembali pada Alkitab sebagai sumber langsung memperkaya agama pribadi. Pada waktu itu Alkitab telah disembunyikan di bawah banyak budaya dan tradisi Gereja dan karena itu tidak dapat diakses oleh umat – Luther telah membuat Alkitab dapat diakses untuk semua. Ini telah menuntun pada minat dan belajar Alkitab. Ini juga telah menuntun pada protes dan revolusi di mana Alkitab telah disusun sebagai otoritas utama bagi kehidupan Kristen Protestan.

3. Dorongan Kemanusiaan

Jaman pencerahan adalah periode dalam sejarah Eropa, telah membawa ide-ide baru atau bagaimana umat seharusnya melihat dunia. Menurut ide-ide era pencerahan, seorang seharusnya berpikir bagi dirinya sendiri, seseorang seharusnya tidak hanya percaya apa yang orang lain katakan, tetapi seseorang seharusnya berpikir melalui isu-isu dalam dirinya sendiri dan dalam cara ini datang pada devisinya sendiri tentang isu-isu tersebut. Ini dapat disebut “Berpikir sendiri atau Autonomous Reasoning atau berpikir kritis.”

Metode pengetahuan modern dan teknologi yang tergantung pada pengalaman itu datang dari “corak atau type” berpikir yang demikian. Sekarang metode berpikir ini bahkan dijadikan cara untuk berpikir tentang Alkitab. Cara melihat Alkitab telah menuntun pada hal-hal yang baik (contoh: semua pengetahuan yang kita punyai tentang sejarah umat jaman Alkitab) dan juga hal-hal buruk (mengingkari tuntutan-tuntutan iman Alkitab).

Kekuatan (Poin-Poin yang Baik) dan Kelemahan (Poin-Poin yang Buruk) dari Kesarjanaan Alkitab Modern.

A. Poin-Poin yang Baik

1. Sejarah – Eksegese Tata Bahasa

Tipe corak kesarjanaan Alkitab modern telah menuntun pada pengertian yang lebih baik tentang para penulis asli Alkitab dan sedang berusaha untuk mengatakan (karena ini mengambil suatu pertimbangan akan konteks sejarah penulis dan belajar tentang kata-kata aktual yang dia telah tuliskan).

2. Kesarjanaan Alkitab modern itu telah menuntun kita pada banyak pengetahuan Yudaisme mula-mula dan Kekristenan mula-mula serta budaya sekeliling zaman-zaman Alkitab. Kita dapat mengatakan bahwa kita mengetahui lebih tentang umat zaman-zaman Alkitab sekarang, maka bahkan kemudian mereka telah mengetahui tentang diri mereka sendiri.

3. Karena tekstual/ belajar linguistik (bahasa) tentang Alkitab, kita mempunyai terjemahan Alkitab dan juga mempunyai kamus-kamus Alkitab, konkordansi dll. Semua ini sangatlah membantu dalam mempelajari tentang Alkitab.

4. Kesarjanaan Alkitab telah membantu kita untuk mengerti lebih baik lagi banyak konsep Alkitab yang penting dan tema-tema suatu lembaga. Contoh: kita sekarang mengerti lebih baik apakah arti Perjanjian, tema pemilihan, Kerajaan Allah, pembenaran oleh iman dll. Ini telah menuntun kita untuk mengerti arti dan makna Alkitab vs. Tradisi lebih baik lagi.

5. Melalui kesarjanaan Alkitab modern, kita telah menemukan kekuatan sejarah Yahudi dan iman Kristen. Kita telah belajar tentang bermacam-macam ide mulia dan lembaga dalam Yudaisme dan juga Kekristenan mula-mula. Contoh: kita telah belajar banyak tentang penyembahan Gereja, urusan-urusan Gereja, teologia dll. Ini telah telah memberi kita pengertian yang lebih baik tentang dimensi manusia di dalam Kitab Suci. Ini telah memberi kita pengertian lebih baik lagi tentang ilham, pengertian yang mengijinkan dan memperhatikan unsur manusia.

B. Poin-Poin Buruk tentang Kesarjanaan Alkitab Modern

1. Dalam beberapa hal, umat sedang menggunakan Metode Akademis Modern yang telah hilang sedikit akan nilai imannya. Mereka telah melupakan tentang nilai rohani Alkitab karena mereka melihat lebih rinci. Seseorang dapat membuat suatu perbandingan untuk mengerti ini. Saat kita pergi ke restoran dan menikmati makan yang baik, biasanya kita tidak memperhatikan bagaimana makanan itu telah dipersiapkan, kita tidak mempedulikan apa yang telah terjadi di dapur. Orang-orang ini telah melupakan nilai rohani Alkitab seperti seseorang yang begitu tertarik apa yang telah terjadi dalam dapur sehingga ia melupakan untuk menikmati makanan yang dimasaknya.

2. Dalam kesarjanaan Alkitab modern, beberapa orang telah pusing dan bingung dengan pandangan filsafat mereka sendiri dengan fakta sejarah. Dalam kata lain, sarjana-sarjana mungkin mempunyai beberapa pandangan filsafat, contoh: mereka mungkin tidak percaya dalam kebangkitan. Jadi mereka melihat fakta sejarah, namun mereka tetap memegang dan setuju dengan pandangan mereka sendiri.

3. Profesionalisme Ini adalah kelemahan yang lain. Beberapa sarjana memisahkan belajar Alkitab dari Gereja. Mereka memegang teguh argumen mereka sendiri tentang bagian Alkitab tanpa melibatkan Gereja sama sekali. Mereka juga bersikap sombong terrhadap yang lain. Mereka berpikir bahwa satu-satunya cara untuk mendekati Alkitab adalah melalui akademisi. Pendekatan ini merupakan masalah besar, yang menuntun seseorang pada sesuatu yang sama dan tidak pernah ada solusi sama sekali. Juga ada kesatuan dari istilah-istilah dan serentetan peristiwa. Bagaimana kita menghubungkan akan semua ini sebagai Orthodox?

(Bersambung)

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *