DogmatikaTeologi

Pengantar Perjanjian Baru (Bagian 13)

Oleh : Protopresbyter Yohanes Bambang Cahyo Wicaksono

GEREJA MULA-MULA DAN KITAB KISAH PARA RASUL

Gereja mula-mula itu muncul berada di dunia Greko-Roma pada abad pertama Masehi. Bagaimanakah dunia Greko-Roma itu masuk? Alexander Agung, seorang raja Makedonia telah menaklukkan sejumlah tanah yang sangat luas dari Yunani sampai India. Ini telah mengakibatkan adanya perubahan sosiologi dalam semua masyakat. Batas kerajaan-kerajaan kecil telah runtuh dan suatu dunia baru dimulai. Melalui Alexander Agung, budaya dan adat istiadat Yunani telah tersebar di seluruh wilayah. Hal ini telah membantu tersebarnya Injil karena saat kaisar Roma bertumbuh dan mengambil alih atas seluruh wilayah tanah ini, ada bahasa dan budaya yang umum dipakai waktu itu yaitu bahasa dan budaya Yunani.

Jadi prosesnya adalah dimulai dari Alexander Agung dan kemudian mencapai klimaksnya berada di kekaisaran Roma. Selama waktu Kristus dan pada abad yang pertama, ada banyak aktivitas keagamaan di dalam kekaisaran Roma. Ada banyak agama kafir yang berbeda, yang telah dipraktikkan oleh umat, dan sebagian besar dari agama ini datang dari bagian timur kekaisaran dan kemudian tersebar di barat. Proses ini disebut “Orientalisasi Barat”. Kekristenan itu juga datang dari bagian timur kekaisaran dan kemudian tersebar ke dunia barat.

Akhirnya kekristenan telah menjadi lebih terkenal. Gereja Kristen segera tersebar dengan mudah sampai kekaisaran dan banyak orang telah meninggalkan agama-agama kafir lama mereka dan telah menerima kekristenan sebagai agama mereka yang baru. Mengapa? Ada beberapa alasan untuk menjawabnya:

1. Orang-orang pada waktu itu menginginkan suatu agama yang dapat memberi mereka jaminan dan keamanan karena waktu itu adalah masa yang tidak aman.

2. Sebagai orang-orang yang telah pindah ke kota-kota besar, maka mereka telah kehilangan identitas yang mereka miliki di dalam negara itu. Kekristenan telah memuaskan akan kebutuhan ini untuk komunitas dan identitas.

3. Orang-orang telah mulai mengerti filosofi seperti halnya mencari Allah. Filosofi ini telah menjadi lebih seperti agama. Kekristenan telah mengisi kebutuhan filosofi ini (kekristenan telah memuaskan para filsuf untuk menyelidiki filosofi yang terbaik).

Sebelum dan selama era Kristen mula-mula, banyak orang telah dipengaruhi oleh astrologi dan magis. Banyak orang telah percaya dalam “takdir ilahi” yang telah mengontrol hidup semua orang. Bahkan orang-orang telah tergantung bahwa apa yang telah terjadi dalam hidup mereka itu tergantung pada posisi bintang-bintang di langit (astrologi).

Bahkan para intelektual dan filsuf itu telah dipengaruhi oleh takhayul-takhayul yang demikian. Juga di Timur (Mesir dan Syria), orang-orang telah melihat para raja mereka menjadi allah-allah. Ini telah diangkat oleh kaisar Roma – bahwa orang-orang diharuskan untuk menyembah sang kaisar sebagai seorang Ilah. Sebagian besar warga Roma tidak sungguh percaya tentang hal ini, namun mereka telah mempersembahkan dan mendupai patung-patung kaisar. Akan tetapi orang-orang Kristen menolak untuk melakukan ini dan banyak orang Kristen yang telah disiksa karena tidak menyembah patung-patung Kaisar dan mendupainya. Juga orang-orang Kristen telah disebut sebagai orang-orang ateis karena mereka tidak percaya bahwa kaisar itu adalah Allah.

Karakter penting yang lain dari dunia Greko-Roma adalah “Diaspora Yudaisme”. Diaspora Yudaisme adalah fakta bahwa orang-orang Yahudi telah tersebar di seluruh kekaisaran. Ada banyak orang Yahudi yang keluar dari wilayah Palestina yang mana sekarang disebut sebagai “Israel”, daripada berada di Palestina itu sendiri. Ada kira-kira 600.000 orang Yahudi yang berada di Palestina sedangkan yang berada di luar Palestina adalah 3.000.000 orang.

Ada beberapa pokok karakteristik Yudaisme yang berada di dalam kekaisaran Roma:

1. Mereka telah menolak politeisme dan penyembahan berhala. Mereka adalah orang-orang monoteisme dan mereka percaya dalam Allah yang Kudus, Allah yang Transenden dan Allah yang bermoral.

2. Mereka menekankan bahwa mereka adalah orang-orang yang tersatukan, dan mereka menekankan solidaritas untuk semua orang Yahudi.

3. Mereka menekankan akan pentingnya Hukum Taurat.

4. Bait Allah adalah tempat yang pokok bagi penyembahan mereka. Di sana hanya satu Bait Allah bagi orang-orang Yahudi yaitu Bait Allah yang berada di Yerusalem. Poin pokok bagi penyembahan mereka – tempat yang sangat penting bagi penyembahan mereka. Semua tempat penyembahan yang lain itu disebut sebagai “sinagoga-sinagoga”, saat Bait Allah telah dihancurkan pada tahun 70 Masehi, sinagoga menjadi tempat yang maha penting bagi penyembahan orang-orang Yahudi.

Orang-orang Yahudi yang telah tersebar di seluruh kekaisaran Roma (orang-orang Yahudi diaspora) itu sangatlah penting karena mereka telah mempengaruhi orang-orang kafir dengan ide-ide monoteisme yang mereka miliki. Ini telah mempersiapkan orang-orang kafir bagi datangnya kekristenan. Jadi kita dapat mengatakan bahwa, bagi orang-orang kafir (bangsa-bangsa kafir) Yudaisme adalah suatu jembatan untuk mendapat iman Kristen.

.

Kitab Kisah Para Rasul

Kitab Kisah Para Rasul itu telah ditulis oleh Lukas yang juga telah menulis Injil Lukas. Kitab Kisah Para Rasul sesungguhnya bagian kedua dari dua volume, karena itu Kitab Kisah Para Rasul merupakan kelanjutan dari cerita yang telah diceritakan dalam Injil Lukas. Kitab Kisah Para Rasul menceritakan cerita tentang pelayanan para rasul, bagaimana mereka telah membantu untuk menyebarkan kekristenan melintasi kekaisaran Roma setelah kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Kitab ini sangat penting karena adalah satu-satunya dokumen yang menceritakan tentang sejarah terawal dari Gereja. Ini adalah suatu sejarah yang bernilai, organisasi dan doktrin Gereja.

.

Bagaimana struktur dari Kisah Para Rasul? Ini dapat dibagi dalam 2 bagian:

1. Pasal 1-12, dengan Js.Petrus sebagai karakter pokok.

2. Pasal 13-28, dengan Js. Paulus sebagai karakter pokok.

Maksud Kitab Kisah Para Rasul adalah untuk menunjukkan bagaimana kekristenan telah memulai dari Yerusalem dan menyebar ke seluruh kekaisaran. Maksud yang lain dari Kitab Kisah Para Rasul adalah:

1. Kemenangan Injil, bagaimana ini bergerak dari orang-orang Yahudi ke bangsa-bangsa kafir.

2. Untuk menunjukkan bahwa Injil dan Gereja mula-mula ini menjadi pemenuhan dari nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama.

3. Untuk menunjukkan bahwa kekristenan bukanlah suatu revolusi politik yang berusaha untuk mengambil alih pemerintah. Karena inilah mengapa di banyak tempat dalam Kitab Kisah Para Rasul, kita menemukan para penulis yang telah menunjukkan orang-orang Kristen menerima suatu pengertian dan belas kasihan dari sensus Roma dan para penulis telah menunjukkan bahwa orang-orang tidaklah pernah melawan pemerintah.

4. Untuk mempertahankan Gereja melawan pengajaran bidat dan Kitab Para Rasul ini ditulis untuk menunjukkan pengajaran-pengajaran dasar dari Gereja yang sejati.

5. Untuk menunjukkan sifat konsiliar dari Gereja, suatu contoh konsili para rasul yang terdapat dalam KPR 15.

(Bersambung)

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *