DogmatikaTeologi

Pengantar Perjanjian Baru (Bagian 12)

Oleh : Protopresbyter Yohanes Bambang Cahyo Wicaksono

Kristus dan Hubungan-Nya dengan Yudaisme

Yesus dilahirkan dan dididik di lingkup orang Yahudi dan sebagai orang Yahudi. Dia disunat setelah berumur 8 hari dan dibawa ke Bait Allah setelah berumur 40 hari sebagaimana adat istiadat yang ada dalam lingkup Yahudi. Dengan demikian Yesus itu bertumbuh telah mengikuti ritual-ritual bersama-sama dengan keluarga-Nya dan telah menerima Kitab Suci Yahudi dan Bait Allah serta adat istiadat Yahudi. Jadi jelas memang ada kesinambungan antara Dia dengan Yudaisme.

Di sisi lain, ada juga banyak keterputusan antara Dia dengan Yudaisme. Pelayanan-Nya sungguh merupakan suatu tantangan untuk memperbaharui orang-orang Yahudi. Dia menafsirkan hukum-hukum Yahudi di dalam cara yang berbeda dari para pemimpin Yahudi seperti halnya para Ahli Kitab dan orang-orang Farisi. Pelayanan Yesus tidaklah dipusatkan dalam Bait Allah Yahudi dan hukum Yahudi, namun pada Kerajaan Allah. Dalam beberapa cara Yesus telah menafsirkan hukum itu lebih ketat daripada para pemimpin Yahudi (para pemimpin Yahudi mengijinkan seseorang untuk cerai, namun Yesus tidak mengijinkannya). Dan dalam beberapa hal Yesus itu lebih lunak. Suatu contoh, Dia berpikir bahwa kemurnian ke dalam itu lebih penting daripada banyak hukum seremonial orang Yahudi seperti pembersihan tangan sebelum makan, dan terkait dengan hal ini Yesus mengatakan: “Bukan apa yang masuk ke dalam mulut seseorang itu yang menajiskan, namun apa yang keluar dari mulut seseorang itulah yang menajiskan”.

Gerakan pembaharuan ke dalam Yudaisme dimulai oleh Yesus, terus berlangsung setelah kematian dan kebangkitan-Nya dan akhirnya hal tersebut telah menuntun pada keterpisahan orang-orang Kristen (yang memandang diri mereka sendiri sebagai orang-orang Yahudi tulen daripada orang-orang Yahudi itu sendiri) dari Yahudi.

.

Sifat Keberadaan Ke-Mesianikan Yesus

Yesus adalah Sang Mesias. Otoritas-Nya sebagai Mesias dapat dilihat dari perbuatan dan karya-karya-Nya. Dia mempunyai otoiritas yang karismatik sekali, bukan otoritas yang didasarkan pada urusan khusus apapun yang Dia telah lakukan. Otoritas ini diakarkan di dalam apa? Otoritas diakarkan dalam hubungan-Nya dengan Allah Sang Bapa, pemahaman akan identitas-Nya dengan Allah. Kebangkitan-Nya, tentu saja merupakan bukti yang konkret dan terbaik tentang ke-Mesiahan-Nya.

Di dalam Injil Lukas pasal 24, kita melihat cerita tentang dua murid Yesus sedang berjalan ke desa Emmaus setelah penyaliban dan kebangkitan Yesus Kristus. Yesus bergabung dengan mereka dalam perjalanan namun mereka tidak mengetahui seorang yang berjalan dengan mereka itu adalah Yesus. Dan Yesus bertanya tentang apa yang sedang mereka percakapkan. Melalui jawaban mereka, kita dapat melihat bagaimana mereka mengerti akan ke-Mesiasan Yesus itu:

1. Mereka berpikir bahwa Dia itu seperti seorang Nabi.

2. Mereka sedang berharap bahwa Dia akan membebaskan Israel dari Kaisar Roma (mereka menginginkan seorang juruselamat yang bersifat politik).

3. Orang-orang harus berpikir tentang Yesus sebagai sesuatu yang khusus, karena menurut hukum Yahudi, tidaklah diijinkan sama sekali untuk bersujud dan menyembah pribadi siapapun, namun banyak orang melakukan hal itu pada Yesus saat Yesus dalam pelayanan-Nya.

.

Apakah Yesus ingin mendirikan Gereja?

“YA”. Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Dia ingin mendirikan Gereja? Kita mengetahui bahwa Dia ingin mendirikan Gereja karena:

1. Dia dengan sengaja telah memilih para murid bagi diri-Nya sendiri, dan para murid ini adalah Gereja-Gereja yang asli.

2. Yesus adalah seorang Mesias, seseorang tidak dapat menjadi seorang Mesias yang sejati dan benar tanpa adanya para pengikut. Dan Gereja itu adalah para pengikut Yesus.

.

Apakah Yesus Ingin Menghapus Hukum Yahudi?

Menurut Injil Matius 5:17, “Yesus datang bukan untuk menghapuskan Hukum Taurat, namun untuk memenuhinya”. Namun tidaklah benar bahwa Dia telah menghapus beberapa adat istiadat Yahudi. Di dalam Injil Matius 5:18 Yesus mengatakan: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari Hukum Taurat , sebelum semuanya terjadi”.

Bagaimana menjelaskan bahwa Yesus ingin memenuhi Hukum Taurat?

1. Yesus ingin memenuhi maksud Hukum Taurat yaitu taat pada Allah dan bersekutu dengan Allah.

2. Bagi Yesus Hukum Taurat adalah sesuatu yang ditulis dalam hati manusia dan bukan hanya sekadar ritual-ritual luar.

3. Yesus juga menafsirkan kembali ritual dalam beberapa cara:

a. Pelayanan Yesus tidaklah dipusatkan pada Hukum Taurat, namun pada Kerajaan Allah.

b. Di dalam banyak hal, Dia telah menafsir kembali Hukum Taurat dalam cara-cara yang berbeda dari penafsiran para Ahli Kitab dan orang-orang Farisi. Banyak dari hal-hal ini yang Dia telah tafsirkan berbeda dari mereka, bahkan bukan dari Perjanjian Lama, namun dari Hukum Lisan orang-orang Yahudi. Inilah apa yang Yesus sebut tradisi manusia yang terdapat Injil Matius 15:3-9. Dia telah menolak tradisi-tradisi ini.

Namun ada waktu-waktu yang lain saat Yesus sungguh-sungguh menolak bagian-bagian Hukum Yahudi yang datang dari Perjanjian Lama. Suatu contoh: Yesus menolak perceraian yang datang dari Hukum Musa.Tetapi bagaimana Yesus dapat mengatakan: “Satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari Hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Matius 5:18).

Ada 3 cara untuk menerangkan hal ini:

1. Menurut Js. Yohanes Krisostomos bahwa Matius 5:18-19 itu diharapkan dapat mempersiapkan pembaca membaca paragraf berikutnya, di mana Yesus menafsirkan Hukum Taurat itu dengan cara lebih ketat daripada Ahli Kitab dan orang-orang Farisi. Suatu contoh dalam Injil Matius 5:21-22 dikatakan: “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh, siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum, siapa yang berkata kepada saudaranya “kafir” harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata “jahil” harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” Di sini Yesus sedang berbicara bahwa ini bukan hanya tindakan luar membunuh seseorang, namun ini adalah keinginan hati yang terdalam untuk menyakiti seseorang, meskipun faktanya dia tidak melakukannya, namun hal tersebut tetaplah dianggap sebagai sesuatu yang salah.

2. Ini barangkali, Yesus ingin menekankan hubungan-Nya dengan Perjanjian Lama.

3. Barangkali ungkapan “Tidak satu iota pun” itu bukan datang dari Yesus, namun dari komunitas orang Kristen Yahudi, di mana Injil Matius itu telah ditulis. Komunitas ini bersifat sangat Yahudi dan mereka telah menekankan hubungan Yesus dengan orang-orang Yahudi.

(Bersambung)

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *