Dogmatika

PENGANTAR BAGIAN KEDUA KEPADA KITAB PHILOKALIA (Bagian 4)

(Teks-Teks Ajaran Kerohanian dari Gereja Timur):Pilihan Teks-Teks dari Philokalia Yang diberi Catatan dan PenjelasanOleh: Arkhimadrit Romo Daniel Byantoro Ph.D.Dikompilasi dari Catatan :Allyne Smith

Kata Pengantar (Bagian 4)Pendekatan Philokalia kepada Keselamatan Di dalam pembahasan kita ini, ada tujuh tema yang dapat diketemukan selalu muncul didalam “Philokalia”, yaitu: pertobatan, hati (kalbu), doa, Doa “Puja Yesus”, hawanafsu-hawanafsu, keheningan/keteduhan/kesenyapan, dan “theosis” atau “pengilahian”. Bagian yang terakhir dari tema-tema ini menuntut keterangan yang lebih daripada tema-tema yang lain. Theosis yang biasanya diterjemahkan sebagai “peng-ilahi-an” adalah merupakan inti terdalam mengenai bagaimana umat Kristen dari Gereja Timur memahami keselamatan. Kebanyakan umat Kristen dari Gereja Barat kelihatannya memahami keselamatan sebagai diselamatkan dari sesuatu, yaitu dari neraka. Di dalam satu pandangan umum yang dikaitkan dengan Anselmus dari Canterbury, yang menerapkan pemikiran sosial abad pertengahan di Eropa kepada soteriologi (doktrin mengenai keselamatan), dimana parah dan beratnya suatu dosa itu bukan diukur oleh mutu dari kwalitas dosa itu pada dirinya sendiri, tetapi oleh status dari orang yang terhadapnya dosa itu dilakukan. Dengan demikian, pencurian kecil-kecilan yang dilakukan terhadap sesama petani bisa saja tak dianggap terlalu serius, tetapi pencurian yang sama, jika itu melibatkan milik seorang raja, dapat memastikan hukuman mati bagi si pencuri itu. Jika hal ini diterapkan pada soteriologi, dosa manusia telah menyebabkan suatu pelanggaran tanpa batas terhadap keadilan Allah, karena Allah itu tanpa batas.Manusia, yang bersifat terbatas, tak akan mungkin dapat membayar hukuman yang tanpa batas yang dituntut bagi pelanggarannya itu. Oleh karena itu, Allah menyediakan AnakNya, Yesus Kristus (yang juga bersifat tak terbatas), untuk membayar hukuman bagi dosa manusia diatas Salib. Dengan telah membayar hukuman itu, maka Yesus tak memiliki tuntutan lagi dari keadilan Allah, sehingga Ia dinyatakan benar, dan pernyataan benar atas Kristus itu lalu diperhitungkan kepada manusia yang percaya, bahkan meskipun tidak ada apapun yang berubah bagi mereka karena hal ini ( artinya: mereka masih merupakan orang-orang berdosa yang malang), namun sekarang mereka akan dilihat oleh Allah seolah-olah mereka itu Kristus yang dinyatakan benar dan tidak bersalah itu. Tindakan pembenaran ini dilihat sebagai suatu transaksi soteriologi yang hakiki, inilah yang dikenal sebagai “pembenaran oleh iman”, meskipun beberapa orang (seperti: John dan Charles Wesley) akan melihat bahwa proses pengudusan itu juga sama hakikinya. Gereja Timur, bersama-sama dengan banyak orang juga di Gereja Barat, memahami keselamatan sebagai “ikut ambil bagian didalam hidupNya Allah”, suatu keikut-sertaan didalam Yang Ilahi. Salah satu cara mengungkapkan hal ini barangkali dapat dikatakan bahwa Gereja Timur meyakini bahwa baik pembenaran (pemulihan dari suatu hubungan yang benar dengan Allah) dan pengudusan (pertumbuhan dalam kekudusan) sebagai dua sisi dari koin keselamatan yang sama itu. Tetapi ada satu hal yang lebih perlu dikatakan lagi, mengenai bagaimana Gereja Timur memahami pengudusan, karena Gereja Timur tak pernah malu-malu untuk mengatakan dengan bahasa yang amat berani, yaitu “Peng-Ilahi-an”. Tentu saja para penulis dari Gereja Timur, melihat istilah ini dari ungkapan Perjanjian Baru itu sendiri, khususnya II Petrus 1:4, dimana Petrus menyatakan bahwa kita akan menjadi orang-orang yang akan ikut “mengambil bagian dalam kodrat ilahi “ Pada saat yang bersamaan, para penulis Gereja Timur itu, juga melihat kesaksian jaman awal dari Gereja pada saat sebelum akhirnya kanon Perjanjian Baru itu ditetapkan. Ireneus dari Lyons, yang sebenarnya berasal dari Asia Kecil (sekarang Turki) namun dikenal pada jamannya sebagai seorang Episkop/Uskup di Perancis dan karya-karya tulis theologisnya sebagai seorang Episkop, adalah merupakan suatu saksi yang penting. Dia mempelajari Iman Kristen dari Polykarpos, yang sebaliknya Polykarpos ini telah mengenal Rasul Yohanes, penulis Injil Yohanes, murid Yesus sendiri. Didalam penjelasannya mengenai Iman Rasuliah, “Melawan Bidat-Bidat”, Ireneus (abad ke 2) mengatakan dengan tegas bahwa :”Karena untuk tujuan inilah maka Firman Allah itu menjadi manusia, dan Dia yang adalah Anak Allah menjadi Anak Manusia, agar manusia, setelah diambil kedalam Sang Firman itu, dan menerima pengangkatan sebagai anak, boleh menjadi anak Allah.” Athanasios dari Alexandria-Mesir (abad keempat), yang adalah orang pertama yang mendaftar jumlah kitab dalam Kanon Perjanjian Baru, sebagaimana persis yang kita miliki sekarang (pada tahun 367!), menggaungkan hal yang sama ini ketika menulis dalam tulisannya “Mengenai Inkarnasi”. Dia mengatakan :”Dia, sungguhlah, mengambil kemanusiaan, agar kita boleh menjadi (seperti) Allah itu”. Basilios dari Kaisaria, juga pada abad keempat, memberitahu kita bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang telah menerima perintah untuk menjadi “seorang allah” (yaitu menjadi seperti Allah). Inilah soteriologi yang diwarisi dari jaman Rasuliah oleh para penulis Philokalia itu. Ketika ajaran Rasuliah ini diserang pada abad keempat belas, Gregorius Palamas dari Gunung Athos terpanggil untuk membela kebenarann itu.Dia menekankan perbedan antara “Essensi/Hakekat” Allah ( yang tak dapat didekati ataupun digapai) dan “Energi” Allah – karya dan tindakan Allah dalam ciptaan ( yang adalah sungguh-sungguh Allah, tetapi yang kita dapat mengalami). Dengan demikian, melalui proses “theosis” ini, oleh kasih-karunia (yaitu energi ilahi yang bekerja di dalam kita) maka kita akan menjadi apa adanya Allah itu menurut kodratNya. (bersambung ke bagian 5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *