Dogmatika

PENGANTAR BAGIAN KEDUA KEPADA KITAB PHILOKALIA (Bagian 3)

(Teks-Teks Ajaran Kerohanian dari Gereja Timur):Pilihan Teks-Teks dari Philokalia Yang diberi Catatan dan PenjelasanOleh: Arkhimadrit Romo Daniel Byantoro Ph.D.Dikompilasi dari Catatan :Allyne Smith

Kata Pengantar (Bagian 3)Theologia dalam Tradisi Gereja Timur Umat Kristen Tradisi Barat sering mengkotak-kotakkan antara kerohanian/spiritualitas dan theologia.Namun demikian dalam Gereja Timur ada suatu pandangan yang “holistik” (“merangkum secara utuh”) mengenai theologia. Theologia Dogmatika atau Theologia Sistimatika ( yang membahas mengenai dasar-dasar keyakinan Iman tentang Allah dan karya-karyaNya, Kristus : Pribadi dan Karya-KaryaNya, Keselamatan/Soteriologi, Roh Kudus dan Karya-Karyanya, tentang Gereja/ Ekklesiologi, tentang Sakramen-Sakramen, dan tentang Akhir Jaman/Eskhatologi), Theologia Liturgika (yang membahas tentang Pelaksanaan Sakramen-Sakramen, Liturgi Suic/Liturgi Ilahi, Ibadah-ibadah non-Sakramen, Perayaan-Perayaan, dan Puasa-Puasa), Theologia Moral (yang membahas tentang Etika, Moralitas dan Akhlak), dan Theologia Spiritual/Asketika itu semuanya adalah aspek-aspek dari satu hal yang tunggal. Lebih jauh lagi, Theologia Dogmatika, adalah dimaksudkan untuk dihidupi. Vladimir Lossky (tahun 1903 -1958) memberikan ekspresi yang klasik mengenai pengertian tradisionil ini:“Kita harus menghidupi dogma yang mengekspresikan kebenaran yang diwahyukan itu, yang nampaknya kepada kita sebagai mysteri yang tak terbayangkan, dalam cara yang sedemikian, sehingga alih-alih meng-asimilasi-kan mysteri tadi kepada cara pemahaman/pengertian kita sendiri, kita justru sebaliknya, mencari suatu perubahan yang mendalam, suatu transformasi batiniah dari roh kita, yang memampukan kita untuk mengalaminya secara “mistika” (“pengalaman panunggalan dengan Allah”). Jauh dari saling bertentangan, theologia dan pengalaman mistika (“panunggalan dengan Allah”) itu saling mendukung dan saling melengkapi satu sama lain.Jika pengalaman mistika (panunggalan) adalah merupakan usaha mengalami secara pribadi dari isi iman bersama dari seluruh Gereja, maka theologia adalah merupakan suatu ekspresi, bagi manfaat untuk semua, dari hal yang dapat dialami oleh setiap orang beriman. Diluar dari kebenaran yang dipelihara oleh seluruh Gereja (Rasuliah yang Orthodox ini) pengalaman pribadi akan kehilangan segala kepastian, akan semua obyektivitas, itu akan merupakan perbauran antara kebenaran dan dusta, antara relaita dan ilusi: yaitu “mistikisme” dalam makna kata yang buruk. Di pihak lain, pengajaran Gereja akan tak dapat meregam jiwa jika itu tidak, dalam derajat tertentu, mengekspresikan pengalaman batiniah dari kebenaran, yang diberikan dalam ukuran yang berbeda-beda kepada masing-masing orang beriman. Oleh karena itu, tak ada pengalaman mistika Kristen yang tanpa theologia, tetapi diatas itu semua, tidak ada theologia tanpa pengalaman mistika (“pengalaman panunggalan dengan Allah”) – Vladimir Lossky, “The Mystical Theology of the Eastern Church”, Crestwood, St Vladimir Seminary Press, 1976, hal.8-9-.Hal ini sebenarnya hanyalah suatu penjabaran dari perkataan Evagrios yang terkandung dalam Philokalia:” Jika engkau adalah seorang pakar theologia, engkau akan berdoa secara benar. Dan jika engkau berdoa secara benar, engkau adalah seorang pakar theologia.” Pengajaran rohani dari Para Bapa dari Gunung Kudus itu bertumpu pada “anthropologi-theologis” (“pandangan secara theologis mengenai manusia”) dari Gereja Timur. Manusia adalah satu kesatuan fundamental dari tubuh dan jiwa dan harus dimengerti sebagai “jiwa yang bertubuh” atau “tubuh yang berjiwa”. Tradisi kerohanian Gereja Timur mengambil kodrat “kesatuan jiwa dan tubuh” (“psykhosomatik”) ini secara serius, sehingga penyembahan dan doa itu mengikutkan pula tubuh kita dan semua alat-alat indrawinya. Bahkan tindakan batiniah dari pertobatanpun diekspresikan secara jasmani dengan membungkukkan tubuh, bersujud dengan muka sampai ketanah, dan membuat tanda-salib. Jiwa itu dimengerti sebagai memiliki lebih dari satu perangkat saja. Untuk tujuan pembahasan kita ini, perbedaan yang penting untuk diambil, adalah antara perangkat dari “dianoia” (angan-angan) dan “nous” (akal budi roh). “Dianoia” dimengerti sebagai yang bertanggung jawab bagi pemikiran diskursi, pemikiran yang meloncat-loncat kesana kemari, misalnya dalam “ilmu logika” dan “ matematika”. Tetapi “nous” ada;ah aspek rohani dari jiwa, perangkat batiniah yang melaluinya kita mengalami Allah. Para theologiawan Latin (Roma Katolik), misalnya Thomas Aquinas, mempertahankan perbedaan ini, dengan menterjemahkan kata Yunani “dianoia” kedalam bahasa Latin “ratio” (“akal”) dan “nous” diterjemahkan “intellectus” (“intelek”). Namun karena pada saat ini akal dan intelek itu digunakan hampir sama maknanya, maka pentinglah untuk mengerti bagaimana kedua istilah itu digunakann dalam Philokalia. Nous adalah “mata dari jiwa”, pusat-dan-jantung dari apa artinya menjadi seorang pribadi yang diciptakan menurut Gambar dan Rupa Allah itu sendiri. Ini adalah perangkat rohani yang melaluinya kita mengalami Allah secara langsung, Digelapkan oleh kejatuhan, “nous” harus disucikan melalui “berjaga-jaga batin”, doa, dan amalan-amalan rohani lainnya. Adalah juga penting untuk mengerti bahwa pandangan Gereja Timur mengenai manusia itu adalah lebih positif dari pandangan tradisional Gereja Barat. Pandangan Santo Agustinus mengenai “dosa asal/dosa warisan”, yang sangat begitu berpengaruh dalam Gereja Barat, secara luas tak diketahui dalam Theologia Gereja Orthodox, yang lebih suka menggunakan istilah “dosa nenk-moyang”. Tak ada keturunan Adam yang mewarisi “kesalahan” Adam. Dan, tidak seperti Calvinisme, tradisi Gereja Timur tidak melihat pribadi manusia itu sudah mengalami “bejat total”. Sementara dosa manusia barangkali membuat kabur gambar Allah di dalam kita, tetapi itu tak dapat menghapus gambar itu; dan sementara mengusahakan kehidupan yang bebas dari dosa itu menghalangi pilihan-pilihan kita, dosa itu takn dapat melenyapkan kebebasan kemanusian kita yang fundamental. Sementara tradisi Orthodox percaya bahwa Allah itu secara mutlak bersifat transenden (mengatasi segala pemahaman dan segala sesuatu), tetapi tradisi Orthodox “ tak kurang dalam menekankan hadiratNya yang total dan tak terhapuskan di dalam manusia dan didalam setiap bentuk dari keberadaan (eksistensi) yang tercipta ini” (Philip Sherrard,” Christianity: Lineament of a Sacred Tradition”, Brookline, Mass., Holy Cross Orthodox Press, 1998, hal.264). –(Bersambung ke Bagian 4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *