Terapan

Para Pemuja Manusia

Artikel ditulis oleh Metropolitan Photios, dari Genuine Orthodox Church of Greece.

“Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak-anak manusia yang di dalamnya tak ada keselamatan” (Mzm. 145:3, LXX)

Manusia tidak boleh meletakkan keyakinan mutlak pada manusia akan keselamatannya, tidak peduli apa pun derajat yang mereka miliki. Manusia selalu berubah. Hari ini mereka suci, besok mereka mengingkari. Hari ini menjadi orang berdosa, besok menjadi orang benar. Kita harus memiliki kepercayaan mutlak kepada Allah , dan di dalam Dia kita harus mendasarkan harapan kita akan keselamatan. “Berbahagialah orang yang ditolong Allah Yakub, yang pengharapannya adalah di dalam Tuhan, Allahnya” (Mzm. 145:5, LXX). Manusia itu tidak dapat ditebak; orang yang kita kagumi hari ini sebagai orang suci dan berbudi luhur, di kemudian hari mungkin mereka jatuh, sementara orang lain yang tidak memiliki nama baik di kemudian hari dapat membuktikan dirinya sebagai orang yang teguh.Perjuangan kita hingga hari ini telah menghadapi sejumlah contoh seperti itu. Tetapi jika kita mencari secara mendalam melalui semua yang telah terjadi, kita akan menemukan bahwa kuman penyakit yang menjadi sebab adalah meletakkan harapan kepada manusia. Kuman penyakit ini hidup berdampingan dengan kita dan ketika menginfeksi kita, dia ada di dalam kondisi yang menguntungkan, dan menimbulkan penyakit. Marilah kita memeriksa kondisi kita ini, sehingga kita dapat menjaga diri kita. Gejala penyakit ini memerlukan kehadiran seorang sosok yang memiliki reputasi sebagai seorang yang berbudi luhur, tetapi hanya dalam penampilan luar, bukan apa yang di dalam menjadi prinsipnya, tetapi di luar. sudah cukup untuk tidak memberikan alasan untuk apa saja yang tidak menguntungkan. Maka perlu bahwa sosok ini –bahkan seorang romo– memiliki lingkaran dekat anak-anak rohani di sekelilingnya yang menghormati dan menghargainya.Sampai pada titik ini, ini bisa dimengerti. Namun, penyakit ini mulai merasuk ketika anak-anak rohani diubah menjadi murid dari individu si pemimpin. Ini terjadi sebagai berikut: Pemimpin-rohani mungkin memiliki beberapa kemampuan menarik orang-orang. Dia mungkin asketik, memiliki semangat yang kuat, menjadi seorang orator, atau dermawan. Tapi dia mungkin juga pintar, memiliki kefasihan yang menarik kekaguman khalayak ramai. Dia mungkin benar-benar tampak berbudi luhur pada awalnya, namun di dalamnya dia penuh dengan kebencian yang bersembunyi dengan hati-hati dengan menekankan beberapa elemen positifnya. Kemudian kuman pemujaan mengelilingi anak-anak rohani seperti milik lingkungan terdekatnya. Itu dimulai dengan pujian. Ketika lingkungan yang akrab ini dibentuk oleh rahib atau rahibah, dan pemimpin rohani ini membiarkan dirinya terinfeksi oleh kuman penyakit ini melalui sanjungan, maka penyakit itu muncul.Jika rohaniwan ini menolak sanjungan dan memecah awan dupa sanjungan, dan jika ia menjaga sanjungan pada jarak yang aman, maka ia akan terluput. Namun, jika dia membiarkannya, sungguh disayangkan! Lingkaran jahat terjadi ketika rohaniwan itu mengumpulkan sanjungan dan pujian ini dan kemudian mengumpulkan mereka untuk terus memberikan dupa sanjungan. Dia akan menganggap bahwa ia sejajar dengan Markos Evgenikos, Theodoros Studitis atau Maximos Sang Pengaku Iman serta pujangga Ortodoksia yang lain.Mereka menyatakan tanpa malu-malu bahwa ke mana pun rohaniwan mereka pergi, mereka akan mengikutinya bahkan jika dia pergi ke alam maut! Apa pun yang dikatakan rohaniwan ini adalah dogma kebenaran. Mereka menciptakan perayaan tahunan bagi rohaniwan, ikon-ikon rohaniwan, yang disiapkan saat dia masih hidup dan setelah kematiannya tulang-tulangnya dibawa di sekitar dalam kotak-kotak emas seperti tabut perjanjian! Makamnya dihormati dan benda-benda pribadinya diberikan sebagai hadiah. Adalah hal yang tak dapat diterima oleh muridnya jika ada orang yang tidak berlutut untuk menghormati ikon imajiner yang telah mereka ciptakan sendiri tentang pujaan mereka.Akibat yang paling tragis adalah efek pada rohaniwan itu sendiri, yang diciptakan oleh para penyanjung dari lingkaran dekat sebagai anak lembu emas lain untuk dihormati oleh orang banyak. Mungkin para penyanjung ini memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada rohaniwan itu sendiri, yang didorong oleh mereka melakukan berbagai tindakan tidak benar, seperti perpecahan dan perpecahan. Mereka membuatnya percaya bahwa dia sendiri adalah “Juru Selamat” bagi Gereja!Doa yang sungguh-sungguh dan perhatian terus-menerus diperlukan agar tidak ada orang yang dapat ditemukan dalam situasi orang-orang ini, dan sangat penting bahwa semua rohaniwan kita takut terhadap penyanjung. Pendahulu kita benar ketika mereka menyatakan bahwa mereka takut terhadap para penyanjung karena para penyanjung itu dapat merobek jiwa berkeping-keping.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *