PARA MARTIR SUCI : KARPOS, USKUP PHIATIREA, DIAKON PAPILA, AGATHODOROS DAN AGATHONIKA SAUDARA PEREMPUAN PAPILA

Diperingati pada 13 Oktober (Julian) / 26 Oktober (Gregorian)

      Para Martir Suci Karpos, Uskup Phiatirea, Diakon Papila, Agathodoros dan Agathonika saudara perempuan Papila, menderita selama masa penganiayaan terhadap orang-orang Kristen di bawah kaisar Romawi Decius pada abad III. 

Js Karpos adalah Uskup Thyateira, dan Papylos adalah seorang Diakon yang juga berprofesi sebagai dokter yang telah banyak menyembuhkan orang sakit. Ia ditahbiskan oleh Uskup Karpos.

Sebelumnya, Gubernur distrik tempat orang-orang kudus itu tinggal telah mengetahui, bahwa Karpos dan Papila tidak merayakan pesta-pesta kafir. Dan itu dianggap sebagai pelanggaran hukum. Dia memberi perintah untuk menangkap para ‘pelanggar ‘dan pertama-tama mencoba meyakinkan mereka tentang kebenaran agama pagan Romawi. Orang-orang kudus menjawab, bahwa tidak pantas menyembah dewa-dewa palsu. Hakim kemudian memerintahkan mereka untuk diikat dan digiring di kota dengan rantai besi, dan kemudian diikat dengan kuda dan diseret ke kota terdekat Sardis. 

Di Sardis, mereka digantung di tiang kayu. Kemudian Sambil tergantung, Js Karpos tersenyum. Gubernur bertanya mengapa dia tersenyum, dan dia menjawab: “Aku melihat kemuliaan Tuhanku dan aku bersukacita.” Kemudian para algojo melemparinya dengan batu.

Js Papylos juga diikat ke empat tiang, dan diangkat tinggi-tinggi di atas tanah. Kemudian dia juga dilempari batu. 

Namun kedua saudara kudus ini tidak terluka walau sudah dianiyaya demikian. Keduanya kemudian diseret dengan alat penarik, dan perut mereka dipukuli dari atas. Setelah ini mereka dilemparkan ke hadapan binatang untuk dimakan oleh mereka. Lalu seekor singa betina, secara ajaib, berbicara dengan suara manusia, dan mencegah para penganiaya menunjukkan keganasan seperti itu terhadap para Orang Suci. Para penganiaya menutupi telinga mereka dengan perisai mereka, dan sepatu besi dipaku ke kaki para Martir. Setelah itu mereka dilemparkan ke dalam tungku. Namun api tidak membakar mereka.

Akhirnya mereka dipenggal, dan menerima mahkota kemartiran.

Agathodoros dan Agathonika secara sukarela mengikuti setelah Karpos dan Papila dieksekusi.

Js Agathonike, saudara perempuan Js Papylos, berdoa, dan dia juga memasuki tungku. Karena ia berdoa, maka api dipadamkan dari hujan yang datang dari surga, para Orang Suci tetap tidak terluka. Akhirnya para algojo mencekik Agathonika sampai mati dengan urat sapi, dan memenggal kepala Karpos, Papila dan Agathodoros. 

Js Agathodoros, seorang hamba para Orang Suci, dikuatkan oleh Malaikat ilahi, dan secara terbuka mengakui Kristus. Oleh karena itu dia juga digantung, dan dipukuli dengan tongkat tanpa ampun. Dengan siksaan ini, dia menyerahkan jiwanya ke tangan Tuhan. 

Js Karpos dan Papylos telah menjadi martir bersama dengan Js Agathodorus dan Agathonice, pada masa rezim Kaisar Romawi Decius pada tahun 251M.

Menurut para Bapa Gereja, pada abad keempat, Permaisuri Helena, ibu dari Konstantinus I, meresmikan pembangunan gedung gereja dan sebuah biara yang didedikasikan untuk  para martir Js Karpos dan Js Papylos di kaki lereng barat daya bukit Xeropholos yang curam, yang adalah bagian dari bukit ketujuh kota Konstantinopel dan pada masa Byzantium (sebelum pendudukan Utsmani), sebelum pembangunan Tembok Theodosian, masih di luar tembok kota. Sekarang masuk wilayah Turki, dan sudah direkonstruksi.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.