PARA MARTIR KUDUS GALAKTION DAN EPISTIMIA

Diperingati pada tanggal 5 November (Julian) / 18 November (Gregorian

      Pasangan kaya dan terhormat bernama Klitophon dan Leukippia tinggal di kota Emesa Fenisia, dan untuk waktu yang lama mereka tidak memiliki anak. Pasangan itu memberikan lebih banyak emas kepada para pendeta pagan, dengan harapan doa-doa mereka didengar para dewa, tetapi mereka tetap tidak memiliki anak. 

Kota Emesa pada abad III diperintah oleh seorang Suriah bernama Secundus, ditempatkan di sana oleh Kaisar Romawi. Dia adalah seorang penganiaya orang Kristen yang tanpa ampun dan haus darah, dan untuk mengintimidasi mereka dia memberi perintah untuk memamerkan di jalan-jalan alat penyiksaan. Kecurigaan sekecil apa pun untuk menjadi anggota “sekte Galilea” (begitulah orang Kristen disebut oleh orang-orang kafir), sudah cukup untuk membuat seseorang ditangkap dan diserahkan untuk disiksa. Meskipun demikian, banyak orang Kristen secara sukarela menyerahkan diri mereka ke tangan para algojo, dalam keinginan mereka untuk menderita bagi Kristus. 

      Seorang lelaki tua tertentu, bernama Onuphrios, menyembunyikan martabat monastik dan imamatnya di balik kain pengemisnya, berjalan dari rumah ke rumah di Emesa, meminta sedekah. Di manapun  dia melihat ada kemungkinan untuk mempertobatkan orang dari kesesatan pagan, di sana dia berkhotbah tentang Kristus. Suatu ketika dia datang ke rumah megah milik Leukippia. Ketika menerima sedekah darinya dia merasakan, bahwa wanita itu sedang bersedih, dan dia bertanya apa penyebab kesedihan ini. Leukipia memberi tahu kepada orang tua itu tentang kemalangan keluarganya. Maka untuk menghiburnya, Onuphrios mulai memberitahunya tentang Satu Tuhan Yang Benar, tentang kemahakuasaan dan belas kasihan-Nya, dan bahwa Dia selalu mengabulkan doa orang-orang yang kembali kepada-Nya dengan iman. Harapan memenuhi jiwa Leukippia. Dia percaya dan menerima Baptisan Kudus. Segera setelah itu dalam mimpi terungkap kepadanya, bahwa dia akan melahirkan seorang putra, yang akan menjadi pengikut Kristus yang sejati. Pada awalnya Leukippia menyembunyikan kegembiraannya dari suaminya, tetapi setelah bayi itu lahir, dia mengungkapkan rahasia itu kepada suaminya dan membujuknya untuk dibaptis. 

      Mereka menamai bayi itu Galaktion. Orang tuanya membesarkannya dalam iman Kristen dan memberinya pendidikan yang bagus. Galaktion tumbuh dewasa, dan ia bisa saja menapaki karir yang terkenal, tetapi Galaktion lebih memilih kehidupan yang bersih dan monastik – dalam kesendirian dan doa. 

      Ketika Galaktion berusia 24 tahun, ayahnya memutuskan untuk menikahkannya dan mereka menemukan dia seorang pengantin, seorang gadis cantik dan terkenal dengan nama Epistimia. Putranya tidak menentang kehendak ayahnya; namun, atas kehendak Tuhan, pernikahan itu untuk sementara ditunda. Setiap mengunjungi tunangannya, Galaktion secara bertahap mengungkapkan tentang imannya kepadanya, sehingga tunangannya itu bertobat menjadi pengikut Kristus dan Galaktion sendiri secara diam-diam membaptisnya. Bersama dengan Epistimia dia membaptis juga salah satu pelayannya, Eutolmios. Dan merekapun memutuskan untuk menjadi biarawan. 

Keluar dari kota, mereka bersembunyi di Gunung Publion, di mana ada dua biara, satu untuk pria dan yang lainnya untuk wanita. Para biarawan baru harus membawa bersama mereka semua kebutuhan untuk kerja fisik, karena penghuni kedua biara itu tua dan lemah. Selama beberapa tahun para biarawan bertapa di tempat kerja, puasa dan doa. Tetapi suatu kali Epistimia mendapat penglihatan dalam tidurnya: Galaktion dan dia berdiri di istana yang menakjubkan di hadapan Raja yang Gemilang, dan Raja menganugerahkan mahkota emas kepada mereka. Ini adalah firasat tentang akhir hidup mereka sebagai martir, pada hari yang akan datang. 

      Keberadaan biara diketahui oleh orang-orang kafir, dan sebuah detasemen militer dikirim untuk menangkap para penghuninya. Tetapi para biarawan dan biarawati berhasil menyembunyikan diri di perbukitan. Namun Galaktion tidak memiliki keinginan untuk melarikan diri sehingga dia tetap berada di selnya, membaca Kitab Suci. Ketika Epistimia melihat bahwa para prajurit membawa pergi Galaktion dengan rantai, dia mulai memohon kepada hegumeness (pemimpin biarawan) untuk mengizinkannya pergi juga, karena dia ingin menerima siksaan bagi Kristus bersama dengan tunangan-gurunya. Maka dengan sedih, hegumeness memberkati Epistimia untuk melakukannya. 

      Pasangan kudus itu menanggung siksaan yang mengerikan, sambil memohon dan memuliakan Kristus. Atas perintah hakim, mereka dipotong-potong. 

      Eutolmios, mantan pelayan Epistimia, dan yang telah menjadi saudaranya dalam Kristus dan hidup sebagai biarawan juga, diam-diam menguburkan para martir suci dengan hormat. Dia kemudian menulis pidato tentang kehidupan mereka, baik untuk orang-orang sezamannya maupun anak cucunya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.