Hari-Hari Raya KudusSynaxarion

Minggu Zakheus

Diperingati Gereja Orthodox pada 1 Februari (Kalender Gereja Purba)

Masa paskah Gereja didahului oleh masa Masa Puasa Agung, yang juga didahului oleh persiapan liturgi sendiri. Tanda pertama dari mendekati Masa Prapaskah Agung melewati lima hari Minggu sebelum permulaan Pra Paskahnya. Pada hari Minggu ini pembacaan Injil tentang Zakheus si pemungut cukai. Yang menceritakan bagaimana Kristus membawa keselamatan kepada orang berdosa, dan bagaimana hidupnya diubah hanya karena dia “berusaha melihat siapa Yesus” (Lukas 19: 3). Keinginan dan upaya untuk melihat Yesus mengawali seluruh rangkaian melewati Prapaskah menuju Paskah. Ini adalah rangkaian keselamatan pertama.

Perjalanan Masa Pra Paskah dimulai dengan pengakuan tentang keberdosaan kita sendiri, seperti Zakheus yang mengenali dosanya sendiri. Dia berjanji untuk membuat pemulihan dengan memberikan separuh kekayaannya kepada orang miskin, dan dengan membayar kepada orang-orang yang telah dia peras empat kali lipat dari yang telah diperas dari mereka. Dalam hal ini, dia melampaui persyaratan hukum (Keluaran 22: 3-12).

Teladan Zakheus mengajar kita bahwa kita harus berbalik dari dosa-dosa kita, dan menebusnya. Bukti nyata dari kesedihan dan pertobatan kita bukan hanya permintaan maaf secara verbal, tetapi ketika kita memperbaiki diri kita sendiri dan berusaha untuk memperbaiki akibat dari tindakan jahat kita.

Kita juga yakin akan belas kasihan Allah dengan kata-kata Kristus kepada Zakheus, “Hari ini telah terjadi keselamatan di rumah ini” (Lukas 19: 9). Setelah Doxology Agung di Sembahyang Singsing Fajar (ketika irama minggu ini adalah irama 1, 3, 5, 7) kita menyanyikan Nyanyian pembubaran dengan kidung Kebangkitan “Hari ini keselamatan telah datang ke dunia,” yang menggemakan kata-kata Tuhan kepada Zakheus.

Karena Zakheus pendek, maka dia memanjat pohon untuk melihat Tuhan. Kita semua telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Kita juga pendek dalam kedudukan rohani kita, oleh karena itu kita harus menaiki tangga kebajikan. Dengan kata lain, kita harus bersiap untuk berjuang dalam pertumbuhan rohani.

St. Zakheus juga diperingati pada tanggal 20 April.

.

.

Berikut lampiran kotbah Archimandrite Romo Daniel Bambang Dwi Byantoro 1 Mei 2002 yang masih terkait dengan Minggu Zakheus :

.

.

Gereja Sebagai Lingkup Kesembuhan Roh-Manusia (Lukas 19:1-10, Roma 15:1-7)

Lukas 19:1-3 menceritakan tentang masuknya Yesus ke Yerikho dan bertemu dengan Zakheus seorang pemungut cukai kaya yang berbadan pendek. Yerikho adalah lambang dunia di mana manusia berdosa (Zakheus) yang memiliki segala harta duniawi (kaya), tetapi tak mampu melihat yang ilahi (tak mampu melihat Firman Allah yang Menjadi Manusia: Yesus, karena pendek) itu berada. Namun ia berusaha dengan segala cara untuk mendahului orang-orang lain, sehingga Yesus melihatnya dan menyapanya serta ingin tinggal di rumahnya, dan ia menerima Yesus dengan sukacita (Lukas 19:4-6).

Zakheus adalah seorang berdosa. Ia menjadi perampok atas harta milik teman sebangsanya, karena sebagai pemungut cukai pekerjaannya adalah memeras dan merampas milik orang lain secara tidak sah. Makin banyak ia merampas, makin banyak upeti yang ia berikan pada pemerintah Romawi, maka makin banyak ia mendapatkan bagian uang dari pemerintah penjajah. Ia tidak memiliki rasa belas-kasihan karena batinnya memang berpenyakitan.

Ia menyadari bahwa dirinya dibenci banyak orang, Ia menjadi orang pinggiran yang terbuang, meskipun ia mempunyai segala kekayaan. Ia sadar akan keadaan dirinya itu dan ia merasa tidak puas dengan keadaannya. Oleh karena itu ia berusaha mencari kesembuhan bagi rohnya dengan segala upaya dan daya sampai akhirnya Yesus mengenali dia secara pribadi bukan sekadar sejumlah angka dari banyaknya orang yang berbondong-bondong itu, dengan menyebut namanya ”Zakheus!!!!!”

Di luar Yesus, Zakheus hanya mendapatkan penolakan dan marjinalisasi, namun di dalam Yesus ia menerima pengakuan dan penerimaan secara pribadi. Didalam Yesus inilah Zakheus mulai mendapatkan penyembuhannya. Karena dengan diterima dalam rangkulan cinta dan belas-kasihan ilahi, batinnya yang kosong, dingin, gelap dan kaku mulai mencair.

Batinnya yang mati mulai menjadi hidup. Manusia biasa tak dapat menerima bahwa Yang Ilahi dalam wujud Sabda-Nya yang menjadi manusia: Yesus, dapat menerima orang berdosa apa adanya, mereka bersungut akan penerimaan Yang Ilahi atas manusia berdosa itu (Lukas 19:7). Namun justru untuk maksud menerima manusia yang secara batin berpenyakitan dan secara roh menderita sakit dan mati kaku seperti inilah tujuan Sabda Allah diturunkan ke dalam dunia menjadi manusia.

Lihatlah bagaimana batin itu mulai sembuh dan mencair hangat dengan cinta, ketika mulai disentuh oleh Sang Kristus :

“Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” (Lukas 19:8).

:Tuhan_Tuan)

Alangkah radikalnya perubahan itu: dari merampas, merampok dan mencuri sekarang hendak memberi setengah dari miliknya. Dari memeras dan menekan orang miskin sekarang hendak mengembalikan empat kali lipat. Inilah tandanya batin yang mulai sembuh, roh yang mulai mencair dari kekakuan mati dalam dosa. Roh yang dingin dan kaku mati itu sekarang mencair hangat penuh dengan cinta kepada sesama. Itulah awal “keselamatan” dan di situlah Zakheus mulai diakui sebagai “anak Abraham”, karena batinnya mulai tersentuh oleh realita ilahi dan kebenaran rohani (Lukas 19:9). Karena memang ”Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10).

Gereja sebagai tubuh Kristus merupakan perpanjangan hadirat dan karya Kristus di dalam dunia. Ibadah pengolesan minyak jangan hanya sekadar dijadikan sebagai sarana magis dan takhayul, dan jangan disamakan dengan upacara perdukunan. Bukan demikian! Tidak ada Sakramen bersifat magis dalam Gereja Orthodox. Karena kesembuhan yang diajarkan bukanlah hanya untuk mencari kesembuhan jasmani saja. Biarpun kita sembuh sementara, toh sesudah itu kita juga akan sakit lagi dan suatu saat nanti bahkan akan mati.

Lihatlah Zakheus itu, ia tidak sakit secara fisik, namun rohnya sakit, batinnya sakit. Oleh karena itu ia datang kepada Yesus dan disembuhkan melalui “penerimaan”.

Kitapun yang setiap Rabu Kudus merayakan Ibadah Pengolesan Minyak, harus melihat makna yang lebih dalam dari kesembuhan, yaitu kesembuhan dalam roh dan dalam batin. Karena “penerimaan” dan “pengakuan” adalah sudah merupakan proses kesembuhan roh dan batin, maka kitapun sebagai Gereja diperintahkan untuk “wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat”. Seperti Yesus yang kuat itu menanggung kelemahan Zakheus yang secara batin dan moral tidak kuat dan lemah.

Dengan demikian kita diperintahkan untuk “jangan kita mencari kesenangan kita sendiri “(Roma 15:1), serta “harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.” (Roma 15:2), ini disebabkan “Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri” (Roma 15:3). Sehingga Ia tidak peduli orang banyak bersungut-sungut karena penerimaan-Nya atas Zakheus, karena memang Ia tidak mencari kesenangan-Nya sendiri agar disenangi orang, namun Ia mencari yang hilang dan kesenangan Zakheus bagi perubahan hidupnya.

Gereja adalah “Rumah Sakit Bagi Orang Berdosa”, maka agar Gereja sesuai dengan hakekat dan tugasnya, maka Gereja harus mau dan wajib untuk menerima orang-orang yang sakit dalam roh ini, mencari mereka dan mau untuk saling menanggung kelemahan satu dengan yang lain, agar terdapat kesembuhan ilahi di situ dalam batin dan roh dari setiap orang yang datang dalam komunitas bersama.

Dengan selalu berpegang pada ajaran Kitab Suci, Gereja harus melakukan tugas kewajiban untuk saling menerima dan saling menyenangkan satu sama lain ini dengan “teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.” (Roma 15:4), karena “segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita” (Roma 15:4).

Dengan selalu bertekad menjalankan kewajiban saling menanggung dan saling menerima, serta saling memperhatikan dan mempedulikan sebagai bentuk proses kesembuhan batin itu, maka rahmat Allah akan diturunkan dalam wujud “kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus” (Roma 15:5). Akibatnya kita memiliki komunitas yang sehat, bebas dari segala kebencian, saling menyalahkan, saling mengiri, saling gosip, saling menyenangkan diri sendiri. Sebaliknya kita menjadi komunitas yang sembuh dari itu semua dalam wujud sikap “satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (Roma 15:6), tidak mau dipecah-belah dan dikocar-kacirkan orang dalam maupun orang luar dalam bentuk apapun.

Kita menjadi satu keluarga yang meneladani Kristus menerima orang berdosa, sehingga dengan taat kita mengaminkan perintah: ”terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah” (Roma 15:7).

Mari terima setiap orang yang datang ke kumpulan kita, dan mari tetap dengan giat mencari semua orang yang terhilang di luar sana untuk kita bawa masuk dalam kekeluargaan Gereja, untuk kita terima dan tanggung dalam kasih. Semua curiga harus dimusnahkan, semua gosip harus dihentikan, semua kepentingan diri sendiri harus dilenyapkan, semua untuk Kristus, dari Kristus, melalui Kristus, oleh Kristus, demi Kristus bagi kepentingan sesama, bagi kemuliaan Allah. Amin.

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *