FebruariSynaxarion

Maximus Pengaku-Iman yang Kudus dan Terhormat [662]

Diperingati Gereja Orthodox pada tanggal 3 Februari (kalender sipil) / 21 Januari (Kalender Gereja Purba)

Maximus Pengaku-Iman lahir di Konstantinopel pada tahun 580 dari keluarga Kristen yang saleh. Ia dididik dalam filsafat, tata-bahasa dan retorika, membaca penulis-penulis zaman kuno dan menguasai Teologi. Sebab kemampuannya ia menjadi Juru tulis bagi Kaisar Heraklius. Namun kehidupan di istana menyusahkan hatinya sehingga ia mengundurkan diri ke Monasteri Chrysopoleia di sisi Bosphorus yang berseberangan dan menjadi seorang Rahib.

Sebab kerendahan hati dan hikmatnya ia dikasihi para Rahib dan dipilih menjadi Bapa-Monasteri. Pada tahun 633, Patriark Sophronios dari Yerusalem meminta Maximus pergi ke Aleksandria. Gereja telah mengecam bidat Monofisit dalam Sinode Semesta Kalsedon, namun para pembidat Monoteletis berupaya membangkitkan Monofisitisme melalui Monotheletisme. Monotheletisme mempunyai banyak pengikut di Armenia, Siria dan Mesir, yang sebab permusuhan antar-bangsa sangat mengancam kesatuan Gereja. Lebih jauh lagi, pada tahun 630, tiga Tahta Kepatriarkan diduduki oleh kaum Monoteletis, yaitu Konstantinopel oleh Sergius, Aleksandria oleh Cyrus, dan Antiokhia oleh Athanasias.

Di perjalanannya, di Kreta, Maximus bertentangan dengan seorang Episkop yang mengikuti bidat Severus. Ia tinggal di Aleksandria dan sekitarnya selama enam tahun. Pada tahun 638 Kaisar Heraklius dan patriark Sergius mengeluarkan Ekthesis yang berupaya mendamaikan Orthodoxia dengan Monofisitisme-Monotheletisme melalui pengakuan Dua Kodrat dan satu kehendak. Maximus memerangi Ekthesis dan oleh pengajarannya menarik banyak orang dari berbagai kedudukan kepada Iman Orthodox. Sergius mati menjelang akhir tahun 638 dan pada tahun 641 Heraklius juga mati.

Konstans II, seorang Monoteletis, menjadi Kaisar. Umat Orthodox dianiaya dengan hebat, sehingga Maximus pergi ke Kartago dan berkhotbah di sana selama sekitar lima tahun. Ketika Pyrrhus, penerus Sergius dan seorang Monoteletis, yang diasingkan karena persekongkolan istana, tiba di Kartago, ia mengadakan perbantahan umum dengan Maximus pada bulan Juni 645. Pyrrhus di depan umum mengakui kesesatannya dan ingin menuliskan penolakan kesesatan kepada Episkop Theodore dari Roma.

Maximus bersama Pyrrhus pergi ke Roma, di mana Theodore menerima pertobatan Pyrrhus dan mewakili Gereja memulihkannya kepada Martabat Kepatriarkan. Pada tahun 647 Maximus kembali ke Afrika di mana diadakan Sinode yang mengecam Monotheletisme sebagai bidat. Pada tahun 648, patriark Paulus, oleh perintah dari Konstans II, mengeluarkan ketetapan baru, yaitu Typos, yang melarang pembicaraan apapun yang lebih jauh mengenai Kehendak dan Kodrat Tuhan kita Yesus Kristus.

Maximus berpaling kepada Episkop Martin dari Roma, penerus Theodore, dan memintanya agar mengadakan Sinode Gereja untuk meneliti Monotheletisme. Pada bulan Oktober 649 seratus lima-puluh Uskup dari Kepatriarkan Barat dan tiga-puluh tujuh Wakil-Wakil dari keempat Kepatriakan lainnya, termasuk Maximus, mengadakan Sinode Lateran, yang mengecam Monothelesitme dan menganathema Sergius, Paulus dan Pyrrhus.

Saat menerima Ketetapan Sinode itu, Konstans II memerintahkan penahanan terhadap Martin dan Maximus. Pada tahun 654 Maximus ditahan dan dipenjarakan, dan dikirim ke Thrakia pada tahun 656. Ia dibawa kembali ke penjara di Konstantinopel, di mana bersama kedua muridnya, ia disiksa dengan kejam. Lidah mereka disayat dan tangan kanan mereka dikudungkan, lalu mereka dikirim ke Colchis. Rahib Maximus menubuatkan wafatnya sendiri. Ia dimuliakan oleh Gereja sebagai seorang Pengaku-Iman dan Pembela Iman Kudus Orthodox.

Troparion Irama VIII

‘Ya Pengajar Orthodoxia, Pengajar Kesalehan dan Kesucian, Terang bagi seluruh dunia, Hiasan Para Rahib yang Terilham-Ilahi. Ya Maximus yang Amat-Berhikmat, oleh Pengajaranmu engkau telah menerangi semuanya. Ya Kecapi Sang Roh, mohonkanlah Kristus Allah agar jiwa kami diselamatkan’

Kontakion Irama VI

‘Terang Tiga-Kali-Cemerlang Yang berdiam dalam jiwamu telah menyatakanmu sebagai Bejana Pilihan, ya Yang Amat-Terberkati, mengungkapkan Hal-Hal Ilahi kepada ujung-ujung bumi. Ya Maximus yang Terberkati, ucapkanlah pengertian akan hal-hal yang sulit dimengerti dan dengan nyata khotbahkanlah kepada semuanya akan Sang Tritunggal Yang Melampaui dan Tanpa-Asal!’

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *