Teologi

Matius 7:22-23

Matius 7:22-23

(22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Kalau kita lihat dalam korelasi mengenai “Kisah Orang Kaya dan Lazarus” kita melihat Bapa Abraham mengatakan:

“Ada padamu kesaksian Musa dan para nabi (mengenai kedatangan Mesias), jikalau mereka tidak percaya kepadanya, juga mereka tidak akan percaya sekalipun ada yang bangkit dari antara orang mati (mujizat Yesus dibangkitkan pada hari ketiga).”

Jadi ukuran iman seseorang bukan dari mukjizat yang dilakukan, demikian iman seseorang bukan lahir dari melihat mukjizat yang spektakuler. Orang Yahudi menyaksikan dan mendengar kebangkitan Kristus, tetapi mereka menyangkal dan justru membuat berita palsu dan hoax. Demikian pula dalam nats Injil Matius itu, bahwa ukuran iman bukan mukjizat, sebab dalam nats itu mereka yg melakukan mukjizat dikatakan sebagai “pembuat kejahatan.” Tidak ada kebenaran dan kesucian dalam diri mereka.

Sebuah frase menarik, bahwa mereka ini bukan sekadar “pelaku kejahatan” tetapi “pembuat kejahatan,” yang secara literal kita pahami bahwa perbuatan jahat mereka berasal dari hati yang jahat. Dengan demikian bukan Allah yang menjadi pondasi atau landasan mereka, baik dalam pikiran (dapat disimbolkan dahi) dan perbuatan (dapat disimbolkan tangan kanan). Berarti mereka yang seperti ini bukan berasal dari Allah “Bapa Kebenaran” tetapi dari Satanas “Bapa Kejahatan, Dusta dan Kebinasaan.”

Lalu yang dikatakan dalam Alkitab tentang nabi-nabi palsu itu orang yang bagaimanakah? Tuhan Yesus mengatakan: “Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka!” (Matius 7:20) dan buah ini dalam konteks injil juga dijelaskan sebagai “buah yang sesuai dengan pertobatan” (Matius 3:8).

Mengenai buah ini juga dapat dilihat bahwa ada dua jenis buah, yang diibaratkan sebagai “gandum” dan “jerami” (Matius 3:12). Gandum menjelaskan tentang buah yang baik, sedangkan jerami menjelaskan buah yang tidak baik. Banyak kisah lain yang menjelaskan buah yang baik dan tidak, bahkan “buah roh” dan “buah daging.”

Jadi mukjizat yang dilakukan manusia, dapat dilihat dari buah mereka, apakah mereka tetap rendah hati, dapat menjaga hati dan perbuatannya, tidak ada usaha untuk membesarkan nama dirinya, apalagi perutnya. Ketika ada orang yang mampu melakukan mukjizat, bahkan banyak orang datang dan meyakini dia sebagai “utusan ilahi,” namun buahnya tak sesuai dengan buah pertobatan yang diajarkan Kristus sesuai yang dihidupi di dalam dan oleh Gereja, tanpa kita perlu menghakimi mereka, kita sudah tahu dari kuasa manakah mereka ini.

Orang yang hatinya baik akan memancarkan kebaikan, orang jahat akan memancarkan kejahatan. Sekalipun orang jahat mungkin dapat berkata “baik” dan bersikap “baik,” tetapi kita akan peka melihat kebaikan ini kebaikan sejati atau semu. Seperti pepatah Yahudi mengatakan: “Wajahmu mencerminkan hatimu,” dan dalam kitab Amsal juga mengatakan: “Hati manusia mencerminkan manusia itu sendiri.” Kalau dasarnya jahat –artinya hati manusia yang tetap dalam kegelapan dan menolak terang ilahi– maka yang memancar adalah kejahatan, dan kejahatan berasal dari “bapa segala kejahatan.”

Sementara mukjizat yang ia lakukan, itu bukan hal aneh, karena manusia memiliki “energi spiritual” (mandarin: ji, dibaca: “chi”) yang adalah hembusan napas ilahi yang ditiupkan Allah, tetapi energi spiritual ini corrupt akibat dosa. Bukan memancarkan kesucian tetapi malah kejahatan, dan corruptnya energi spiritual ini –sering ditunggangi oleh kuasa lain– karena putusnya dari sumber energi hidup yaitu Allah di dalam dan melalui Roh-Nya. Maka energi spiritual yang sudah corrupt ini hanya dapat membuat manusia bertahan hidup di dunia jasmani ini saja, sampai “kontrak” hidup ini selesai.

Bagaikan menggunakan baterai, usaha manusia apapun itu, tidak akan dapat melepaskan diri dari kematian. Manusia hanya dapat “memperlama umur pakai” walaupun pada ahirnya tetap harus mati. Jadi walaupun ada manusia yang awet muda, tetap akan mati. Awet muda hanya wujud kemampuan tubuh “menunda” kematian (memperpanjang kontrak hidup). Hanya untuk bertahan hidup mempertahankan keberlangsungannya saja di dunia.

Ini bentuk degradasi hidup manusia, yang tujuan hidup sebagai gambar Allah, malah hidup tidak berbeda dengan hewan dan tumbuhan. Untuk mempertahankan hidup biologisnya, maka hanya ada dua yang kemudian menjadi “sifat baru” dalam diri manusia, yang hadir sebagai bentuk “hukuman” dari Allah akibat keberdosaan/ penyimpangan tujuan ilahi bagi manusia. Walaupun hukuman ini bukan karena Allah yang kejam suka menghukum, tetapi hukuman ini muncul karena ulah manusia sendiri.

Dua “kodrat baru” sebagai akibat kejatuhan dapat kita lihat dalam Kejadian:

1. “Engkau akan berahi kepada suamimu” (ini hubungan seksual antara lelaki dan perempuan).

2. “Engkau akan bersusah payah mencari makananmu” (kebutuhan perut manusia).

Maka masalah klasik manusia yang sering membuat manusia melakukan kejahatan adalah “pemuasan perut” dan “pemuasan yang di bawah perut.” Dua hal ini yang juga dalam Gereja Apostolik menjadi penekanan lahiriah puasa. Tersirat dalam puasa Gereja Timur, bahwa “keberadaan manusia sebelum jatuh dalam dosa adalah bagaikan malaikat di sorga: tanpa kawin-dikawinkan (seksual biologis) dan makanan biologis.

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *