NovemberSejarahSynaxarion

MARTIR SUCI EPIMAKHOS

Diperingati pada tanggal 31 Oktober (Julian) / 13 November (Gregorian)

      Martir Suci Epimakhos adalah penduduk asli Mesir. Untuk waktu yang lama ia tinggal sebagai asketis di Gunung Peleusis. 

Ketika hakim jahat dan gubernur Apellianus tiba di Alexandria pada masa pemerintahan kaisar Romawi Decius (249-251M), mereka dengan brutal menganiaya orang-orang Kristen, menyebabkan banyak dari orang kristen takut akan siksaan dan hukumannya, sehingga mereka meninggalkan kota dan melarikan diri ke padang pasir.

Selama masa penganiayaan terhadap orang-orang Kristen di Aleksandria ini (sekitar tahun 250M), Js Epimakhos dengan semangatnya yang kuat datang ke kota, menghancurkan berhala-berhala kafir, dan tanpa rasa takut mengakui ajaran Kristus. Js Epimachus yang diberkati, tergerak oleh semangat ilahi, turun dari ketenangannya dan memasuki tengah kota Alexandria, di mana ia melemparkan altar berhala ke tanah, dengan keberanian tubuh dan jiwa, dan kekuatan tak terlihat dari Tuhan. Kemudian Epimachus dengan kemarahan yang kudus, menegur sang tiran Apellianus, sehingga jika tiran itu tidak dilindungi dari murkanya oleh pengawal, yang menahannya, tiran itu bisa tewas di tempat.

Karena itulah orang suci itu ditangkap dan disiksa. Ia dibawa ke teater umum, di mana dia digantung di tiang kayu dan dagingnya tanpa ampun dicabik oleh cakar besi. 

Di antara orang-orang yang menyaksikan penyiksaan itu adalah seorang wanita buta; ketika sang jana suci disiksa, tak sengaja, cipratan darah dari tubuh sang martir mengenai matanya, sehingga matanya bisa melihat. Kemudian wanita itu berteriak: “Besarlah Tuhan yang dipercaya oleh penderita ini!” .

Bagaimanapun, orang-orang kafir tetap menyiksa sang martir suci. Ia berteriak: “Pukul aku, ludahi aku, taruh mahkota duri di kepalaku, taruh buluh di tanganku, beri aku empedu untuk diminum, salibkan aku di kayu salib, dan tusuk aku dengan tombak! Inilah yang dialami Tuhanku”.

Setelah siksaan sengit yang tidak menggoyahkan imannya, Js Epikmakhos, karena tetap teguh dalam kesalehan, dipenggal dengan pedang.

Tubuhnya dikuburkan dengan penuh hormat oleh orang-orang Kristen di mana ia menerima kemartirannya. 

Bertahun-tahun kemudian, pada masa pemerintahan Konstantinus Agung pada tanggal sepuluh Maret, reliknya yang terhormat dibawa ke Konstantinopel, dan di sana disimpan di istana. 



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *