Dogmatika

KRISTOLOGI GEREJA ORTHODOX TIMUR (Part 3)

(oleh Arkhimandrit Rm. Daniel B.D. Byantoro)

Namun karena kali ini yang kita bahas adalah masalah Kristologi, kita tak akan membahas secara mendalam mengenai Tritunggal Maha Kudus itu, karena hal itu membutuhkan waktu tersendiri dan makalah pembahasan tersendiri pula. b) Dalam Kaitannya dengan Pemahaman kita akan Ciptaan, Terutama Manusia Kebangkitan Kristus dari antara orang mati, dinyatakan oleh Kitab Suci sebagai “telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” (II Timotius 1:10) juga sebagai : ”memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut” (Ibrani 2:14). Ini berarti bahwa maut itu bukan sesuatu yang alamiah pada diri manusia, karena Kristus harus datang untuk “mematahkan” maut itu dan juga “memusnahkan” Iblis yang berkuasa atas maut ini. Dengan dipatahkannya maut serta dimusnahkannya penguasanya, maka Kristus “mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa” yang terbukti dari tubuh-Nya yang telah bangkit , dan “sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia” ( Roma 6:9). Tubuh Kristus yang telah bangkit dari kematian itu hidup terus, dan bahkan dibawa ke sorga berwujud “Tubuh Yang Mulia” (Filipi 3:21). Jadi dengan bangkitNya Tubuh Jasmani Kristus yang kemudian tak dapat mati lagi, dimana maut tak berkuasa lagi atas tubuh itu, malah sekarang menjadi Tubuh yang Mulia di sorga, Kristus jelas telah “mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa”. Ini berarti bahwa sebenarnya maut atau kematian itu adalah sesuatu yang asing dari kodrat manusia. Maut adalah sesuatu yang bukan bagian kodrat asli manusia ketika Allah menciptakannya. Hidup kekal dalam kemuliaan Allah, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Tubuh Yang Mulia dari Kristus yang telah naik ke sorga itulah seharusnya keberadaan manusia dalam rencana Allah ketika manusia diciptakan. Dengan kata lain manusia diciptakan untuk hidup kekal, bukan untuk mati. Jadi keadaan manusia yang dapat mati ini dilihat dari kacamata dipatahkannya dan dimusnahkannya kematian itu oleh Kristus melalui kebangkitanNya, adalah merupakan “penyimpangan”, “kemeseletan dari sasaran” aslinya, dengan kata lain keadaan “hamartia” (“meleset dari sasaran”, “dosa”). Jadi maut itu adalah “benalu” yang menempel pada kodrat manusia, malah maut itu disebut sebagai “musuh terakhir” (I Korintus 15:26). Dengan demikian manusia itu berada dalam keadaan “hamartia” dan bukti “hamartia” itu dinyatakan dalam kenyataan bahwa manusia dapat mati. Siapapun yang dapat mati berarti dalam belengu dan kuasa “hamartia” (dosa) ini. Hal ini dinyatakan demikian oleh Kitab Suci: ”Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga (masuknya) maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” (Roma 5:12). Karena hanya Kristus saja yang telah mengalahkan maut dan mendatangkan hidup kekal oleh kebangkitanNya dan kenaikanNya ke sorga, maka jelaslah Kristus adalah pelepas manusia dari kuasa maut dan “hamartia” dan pemulih manusia kepada kodrat aslinya sebagaimana yang dimaksud Allah ketika menciptakannya, yaitu kodrat hidup kekal, ambil bagian dalam “kodrat ilahi” (II Petrus 1:4). Dari kacamata kebangkitan Kristus ini maka jelas kita dapat melihat bahwa sebenarnya manusia diciptakan bukan untuk dapat mati, namun untuk hidup kekal, tetapi manusia telah jatuh kepada keberadaan hamartia sehingga mengalami mati, dan tujuan akhir manusia yang percaya kepada Kristus dengan kedatangan Kristus yang mendatangkan hidup kekal itu adalah agar manusia manunggal dengan Kristus untuk mencapai kembali kodrat aslinya, yaitu “ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi” (II Petrus 1:4), yaitu “menjadi sama seperti Dia” (I Yohanes 3:2). Inilah tujuan akhir keselamatan di dalam Kristus. Tujuan akhir keselamatan untuk “menjadi sama seperti Dia” dan “ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi” inilah yang dalam ajaran Iman Kristen Orthodox disebut sebagai “pengilahian” atau “theosis”.Meskipun oleh kebangkitanNya terbukti Kristus itu “pra-ada” sebagai Allah, namun kematianNya dan kebangkitanNya itu terjadi melalui tubuh jasmani, ini berarti bahwa jika Kristus adalah Allah, maka Ia adalah Allah yang telah “mengenakan jasad manusia”, atau “Inkarnasi”. Sedangkan tujuan pengenaan jasad jasmani atau “inkarnasi” ini adalah untuk memusnahkan maut dan kelapukan serta dosa. Karena tubuh jasmani manusia itu terkait dengan semua unsur kimiawi dari alam jasmani lainnya yang ada disekitar manusia, maka dengan dikenakannya yang jasmani oleh Allah yang berinkarnasi ini, berarti segenap unsur jasmani yang diciptakan Allah ini ikut mengalami penebusan, karena telah diambil dan dikenakan oleh Allah dalam “Inkarnasi”-Nya. Itulah sebabnya pada saat pemulihan manusia untuk “ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi” yaitu menjadi “sama seperti Dia” dalam kemuliaan pada hari kebangkitan nanti, alam semesta juga “akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” itu (Roma 8:21). Pemulihan manusia oleh kebangkitan Kristus itu terbukti menjadi pemulihan alam semesta juga, sehingga makhluk atau segenap ciptaan itu tak akan lagi “ditaklukkan kepada kesia-siaan” yaitu takluk kepada kelapukan dan kehancuran (Roma 8:20) serta tak akan lagi berada di dalam “perbudakan kebinasaan” yaitu perbudakan kematian dan kemusnahan (Roma 8:21), sebaliknya segenap ciptaan akan “masuk ke dalam kemerdekaan” yang akan dimiliki anak-anak Allah dalam kemuliaan itu. Dengan demikian seluruh alam semesta akan diubah menjadi langit baru dan bumi baru sebagaimana yang dikatakan: ”Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran” (II Petrus 3:12-13). Karena anak-anak Allah yang bangkit itu nanti memiliki tubuh yang berbeda dari tubuh yang dimilikinya sekarang, maka keberadaan dimana mereka akan ada itupun harus berbeda pula, itulah sebabnya perlunya ada langit baru dan bumi baru bagi mereka yang akan bangkit mengalami “theosis” itu. Selanjutnya karena kematian dan kebangkitan Kristus itu telah ”memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut” (Ibrani 2:14); padahal Iblis itu adalah salah seorang penghulu malaikat yang telah jatuh: Lucifer; maka secara hakiki Kristus telah menaklukkan alam malaikat pula, baik itu malaikat yang telah jatuh menjadi Iblis dan roh-roh jahat atau malaikat pilihan (I Timotius 5:21) yang tidak terjatuh. Itulah sebabnya ketika Kristus dimuliakan disebelah kanan Bapa sebagai akibat dari kebangkitanNya itu dikatakan Kitab Suci bahwa Allah: ”… membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan (yang disebut sebagai “pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan” ini adalah nama-nama jenjang hirarkhi dalam alam malaikat, bdk Efesus 6:12) dan tiap-tiap nama yang dapat disebut,…” (Efesus 1:20-21), serta :”…. kebangkitan Yesus Kristus, yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya” (I Petrus 3:21c-22). Dengan demikian kebangkitan Yesus Kristus itu memang amatlah dahsyat, karena itu mempunyai implikasi dan dampak yang luas di dalam cara kita memahami Allah, manusia dan tujuan hidupnya, keberadaan alam ciptaan baik yang kelihatan di alam semesta ini, maupun yang tak kelihatan dalam dunia malaikat pilihan yang mulia di sorga maupun dunia malaikat yang jatuh dibawah kekuasaan Lucifer, Si Iblis. Dengan kata lain seluruh ciptaan “yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan” (Kolose 1:16) akan disatukan Allah di dalam Kristus sebagai Kepalanya yang penggenapannya akan terjadi di akhir zaman nanti, sebagaimana dikatakan: ”… persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi” (Efesus 1:10). Kata “mempersatukan…sebagai Kepala” itu dalam bahasa Yunaninya adalah “anakefalaiosis” yang juga berarti “rekapitulasi”, artinya Kristus telah me “rekapitulasi” seluruh ciptaan yang disorga maupun yang dibumi di dalam diriNya, sehingga Ia menjadi “poros” dari seluruh alam ciptaan ini. Artinya seluruh alam ciptaan baik yang kelihatan di bumi ini maupun yang tak kelihatan di sorga sana itu “tersimpul” di dalam Diri Kristus. Kebenaran tentang Kristus sebagai “rekapitulasi” seluruh ciptaan inilah yang digaris-bawahi dengan tajam oleh Bapa Suci Ireneus dari Lyons. Hal Kristus sebagai “poros” segala ciptaan ini dikatakan demikian oleh Kitab Suci: ”Ia ada terlebih dahulu (karena sejak kekal Ia berada di dalam Diri Allah) dari segala sesuatu (dari segenap alam ciptaan yang kelihatan maupun yang tak kelihatan) dan segala sesuatu (segenap alam ciptaan yang kelihatan maupun yang tak kelihatan) ada (Yunani: “synesthiken” dari kata “syn” = “bersama dengan” ……..) di dalam Dia.” (Kolose 1:17). Dengan kata lain seluruh alam ciptaan ini dapat berdiri tegak dan ada karena mereka ditopang Kristus sebagai poros dan inti keberadaan mereka, tanpa ada Kristus yang menjadi “poros” ciptaan ini, maka segala sesuatu yang ada ini akan musnah tak berbekas. Hal itu ditegaskan pula dalam Ibrani 1:3, demikian: ”Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan”. “Segala Yang Ada” atau “Segala Sesuatu” yaitu “Sagung Dumadi” ini ada karena Kristus.Jadi Kristus itu sebenarnya penggenapan dari kerinduan manusia akan rahasia apa yang oleh tradisi spiritual Jawa disebut sebagai “Sangkan Paraning Dumadi” (Asal dan Tujuan dari Segenap Ciptaan). Untuk itu jelaslah bahwa Kristus itu bukan hanya sekedar Juru Selamat pribadi dari perorangan yang sifatnya individualistis dan emosionil saja, namun lebih daripada itu Dia adalah juga “Sang Kristus yang Bersifat Kosmis” (“The Cosmic Christ”) yang merangkul dan menopang segenap “Dumadi” (“Kosmos”) di dalam diriNya yang Maha Dahsyat itu, dengan DiriNya sendiri sebagai inti terdalam yang menunjang keberadaan dan adanya “Kosmos” itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *