Dogmatika

KAMIS SESUDAH THEOPHANIA

Oleh: Janasuci Theophan Sang Penyendiri, Penterjemah: Arkhimandrit Daniel B.D.Byantoro

I Petrus 4:12-5:5; Markus 12:38-44

Seorang janda memasukkan ke dalam peti persembahan (Markus 12:42) dua duit (kira-kira beberapa ratus rupiah); tetapi Sang Kristus mengatakan bahwa wanita itu telah memasukkan lebih banyak daripada siapapun juga; meskipun orang-orang yang lain mungkin telah memasukkan lebih dari ratusan ribu atau jutaan rupiah.

Apakah yang menjadikan uang dua duitnya itu memberikan nilai dan bobot yang berlebih sedemikian itu? Itu disebabkan oleh kecenderungan sikap batin yang dengannya pemberian persembahan itu dilakukan. Apakah engkau melihat perbedaan antara melakukan perbuatan baik tanpa jiwa, hanya sekedar amalan saja, dan suatu kebiasaan saja, dan melakukan perbuatan baik dengan jiwa dan hati, yang adalah kebajikan itu? Jadi bukanlah segi lahiriah dari suatu perbuatan yang memberikan nilai atas perbuatan baik tadi, tetapi kecenderungan sikap batiniah yang menyertainya, dan inilah kebajikan itu. Bisa saja terjadi bahwa sesuatu amalan yang amat menyolok dilihat dari segi apapun, namun tak memiliki nilai apapun dihadapan Allah, namun amalan yang kelihatannya tak seberapa dan tak begitu mengesankan secara penampakan lahiriah amat dinilai sangat tinggi di hadiratNya.

Apa yang mengikuti dari hal ini adalah sangat jelas, di dalam dan pada dirinya sendiri. Tetapi janganlah lalu berpikir untuk bertindak sembrono mengenai hal-hal yang bersifat lahiriah, dengan bermaksud untuk membatasi dirimu hanya pada hal-hal yang didalam hati, atau secara batiniah saja, Janda itu tak akan menerima pujian dari Sang Kristus, seandainya dia telah mengatakan dalam dirinya:”

Aku juga mempunyai keinginan untuk memasukkan uang ke dalam peti persembahan itu – tetapi apa yang harus aku lakukan? Aku hanya mempunyai dua duit saja, jikalau aku persembahkan uang ini, aku sendiri ditinggalkan dengan tidak memiliki sesuatu apapun”. Dia memiliki keinginan dalam hatinya, tetapi ia juga melakukan tindakan sesuai dengan keinginan hatinya itu, dan menyerahkan kehidupan dan kebutuhannya ke dalam tangan Allah.

Tak seorangpun yang akan menghakimi dia jika ia tak memasukkan apapun ke dalam peti persembahan – baik sesama manusia maupun Allah. Tetapi itu akan menjadikan dia tak akan menyatakan kecenderungan batin yang membedakan dirinya dari jajaran orang-orang lainnya itu, dan yang hal itu membuat dirinya terkenal dimana-mana di seluruh dunia Kristen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *