Dogmatika

JUMAT DARI MINGGU PEMUNGUT CUKAI DAN ORANG FARISI

RENUNGAN SETIAP HARI DARI FIRMAN ALLAH MENURUT BACAAN GEREJA ORTHODOX

Oleh: Janasuci Theophan Sang Penyendiri

Penterjemah: Arkhimandrit Daniel B.D.Byantoro

I Yohanes 2:7-17; Markus 14: 3-9

“Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya/hawa-nafsunya” ( I Yohanes 2:17). Siapakah yang tidak melihat hal ini? Segala sesuatu disekitar kita sedang melenyap – hal-hal, orang-orang, peristiwa-peristiwa, dan diri kita sendiripun akan mengalami lenyap. Hawa-nafsu duniawipun juga akan lenyap; kita hampir-hampir saja belum sampai merasakan kemanisan dari kepuasan hawa-nafsu duniawi ini sebelum baik hawa nafsu duniawi maupun kemanisannya itu menghilang. Kemudian kita mengejar sesuatu yang lain lagi, dan itupun sama saja, lalu kita mencari hal yang ketiga, sekali lagi ini juga sama saja. Tidak ada sesuatupun yang tetap ada tanpa berubah, segala sesuatu itu datang dan pergi. Apa? Apakah memang sungguh tak ada sesuatupun yang menetap? Ada sih, kata Rasul Yohanes :” orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup/tinggal selama-lamanya” ( I Yohanes 2:17b). Bagaimanakah dunia, yang begitu bersifat sementara ini, dapat tinggal selama-lamanya? Karena Allah menghendaki agar dunia ini bertahan. Kehendak Allah adalah landasan yang tak tergoyahkan dan tak terhancurkan dari dunia ini. Hal yang sama juga bagi manusia – barangsiapa mulai berdiri dengan kokohnya dalam kehendak Allah, akan dibuat menjadi kokoh dan teguh sekaligus. Pikiran orang akan selalu gelisah dan galau ketika selalu mengejar-ngejar hal-hal yang bersifat sementara. Namun segera jika orang tersebut kembali kepada kesadarannya dan kembali kepada jalan dari kehendak Allah, pikiran-pikirannya dan niat-hatinya mulai mengendap. Ketika pada akhirnya seseorang berhasil mencapai kebiasaan cara hidup yang seperti itu, baik secara batiniah maupun secara jasmaniah, maka ia akan sampai pada keselarasan yang teduh dan sikap hati yang penuh kedamaian. Setelah mulai dari dunia ini, damai yang mendalam dan keteduhan yang tak mengalami goncangan ini, akan terbawa kedalam kehidupan dimasa mendatang juga, dan disana itu akan tinggal menetap kekal sepanjang abad. Ditengah-tengahsemua hal yang bersifat sementara di sekitar kita ini, apa yang tak bersifat sementara itu, atau apa yang tetap menetap ada dalam kita, adalah berjalan dalam kehendak Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *