FebruariSynaxarion

Js. Markus Eugenikos, Episkop Agung dari Efesus (☦️1444)

Diperingati Gereja Orthodox pada 1 Pebruari (kalender sipil) / 19 Januari (Kalender Gereja Purba)

Janasuci Markus Eugenikos, Guru agung dan pembela iman yang tak tergoyahkan dari Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik lahir di ibukota Konstantinopel, tahun 1392 (dengan nama Emanuel). Dia dibesarkan oleh orang tua yang saleh, ayahnya bernama Georgius seorang ketua pengadilan di Sakellion, sekaligus seorang diakon Gereja, dan ibunya adalah Maria, putri dari tabib Lukas yang saleh. Kematian ayahnya membuat dia dan adik laki-lakinya, Yohanes, menjadi yatim piatu di usia muda.

Janasuci ini mempelajari surat-surat pertamanya dari ayahnya Georgius, yang memiliki sekolah swasta terkenal. Setelah kematian ayahnya, ibunya mengirimnya untuk melanjutkan studinya dengan guru paling terkenal saat itu, Yohanes Chortasmenos (yang kemudian menjadi Metropolitan Ignatios dari Selymbria) dan ahli matematika serta filsuf Georgius Gemiston Plethon. Di antara para muridnya ialah tokoh-tokoh yang dikenal oleh Gereja yakni : George Gennadius Scholarius (Patriatkh), Theodore Agallianus, Theophanus (Metropolitan Midia) dan saudaranya sendiri Yohanes Eugenikos. Dan di antara teman-teman sekelasnya ada seseorang yang kemudian menjadi lawan apologetiknya yakni Kardinal Bessarion.

Js. Markus dididik dalam kebijaksanaan baik sekuler maupun spiritualitas yang baik sehingga ia menjadi yang terdepan dalam kedua hal tersebut. Js. Markus hidup sebagai seorang pertapa di Prince’s Island dan kemudian di Biara Js. Georgius Mangana di Konstantinopel. Dia ditahbiskan dalam jenjang imamat, setelah kuatnya dorongan dari sekitarnya karena ia berpikir dirinya sendiri tidak layak menjadi imam. Dan akhirnya naik menjadi Episkop Agung Metropolis Efesus.

Ketika keadaan Bizantium semakin melemah, para diplomat berusaha keras mendapatkan kemungkinan untuk persatuan dengan kekuatan dari Barat. Beberapa kali terjadi perundingan dengan Turki namun tidak membuahkan hasil. Harapan satu-satunya saat itu ada dari Barat. Karenanya usaha pendamaian dengan Vatikan menjadi begitu penting.

Suatu ketika tahun 1437 diadakan Konsili, yang menyertakan perwakilan (teolog) dari Latin dan Yunani bersama dengan Paus dan kaisar Bizantium. Paus waktu itu, Eugenius IV, berkeinginan membuat Gereja Orthodox tunduk kepadanya. Didorong oleh keadaan kekurangan yang tengah dialami Bizantium, kaisar menyatakan tujuannya untuk membuat perjanjian yang menguntungkan negaranya.

Atas desakan Kaisar Yohanes Palaiologos, janasuci ini dikirim ke sidang sinode orang Latin di Florence, untuk menyatukan gereja-gereja yang telah terpecah selama berabad-abad. Karena konsekuensi iman terhadap persekutuan semacamnya, di sana hanya satu wakil saja yang tetap berdiri menolak, yaitu Js, Markus, sebagai Metropolitan dari Efesus. Dia mengejutkan para guru kepausan dengan kebijaksanaan ilahi dari kata-katanya. Ia merupakan pembela iman Orthodox yang sangat gigih di Konsili Florence.

Dalam pesan pembuka kepada Paus di Konsili tersebut, Js. Markus menjelaskan betapa ia ingin persekutuan dengan latin – suatu persekutuan yang murni, ia menambahkan, berdasarkan persatuan iman dan praktik Liturgi purba (yang tak berubah). Ia juga menegaskan kepada Paus bahwa ia dan para uskup Orthodox lainnya menghadiri Konsili itu bukan untuk menandatangani kesepakatan kapitulasi (menyerah), dan bukan untuk menjual Orthodoxia demi keuntungan pemerintahannya semata, akan tetapi demi mempertahankan kebenaran dan kemurnian ajaran.

Dia tidak menyetujui persatuan dengan Roma yang didasarkan pada kompromi teologis dan kebijaksanaan politik (saat itu Kaisar Bizantium sedang mencari bantuan militer dari Barat untuk melawan kaum Muslim yang semakin dekat dengan Konstantinopel). Js. Markus membantah argumen lawan-lawannya, ia mengambil dari sumur teologi yang murni, dan ajaran para Bapa Suci. Ketika anggota delegasinya sendiri mencoba menekannya agar menerima Persatuan, dia menjawab, “Tidak ada kompromi dalam hal Iman Orthodox.”

Sementara itu banyak wakil delegasi Yunani, yang berpikir keselamatan Bizantium hanya bergantung dari persekutuan (unia) dengan Roma. Sehingga semakin bisa mengkompromikan Kebenaran kekal demi mempertahankan kerajaan (duniawi) yang hanya sementara saja, yang pada saat itu keadaan lemah. Paus sendiri tetap menolak memberikan bantuan sampai suatu “persekutuan” (unia) dengannya dapat disepakati. Dengan memanfaatkan keadaan yang ada dan kebuntuan dalam perdebatan, kaum Latin memanfaatkan kekuatan ekonomi dan politiknya untuk menekan perwakilan Orthodox, meminta mereka supaya tunduk kepada Gereja Roma dan menerima semua ajarannya dan kendali administratif.

Js. Markus bertahan sendiri melawan arus ancaman yang berusaha membalikkan bahtera Gereja yang benar. Ia mendapatkan tekanan dari semua sisi, bukan hanya dari kaum Latin, tapi bahkan kawan sesama perwakilan dari Yunaninya dan dari Patriakh Konstantinopel sendiri.

Meskipun anggota delegasi Orthodox menandatangani Tomos of Union (dokumen persatuan), Js. Mark adalah satu-satunya yang menolak untuk menandatanginya. Melihat ia tetap gigih bertahan menolak penandatanganan semua persetujuan dengan Roma dengan syarat-syarat yang diberikan, sang kaisar mengusirnya dari perdebatan dan menjadikan dia tahanan rumah. Ketika dia kembali dari Florence, Js. Markus mendesak warga Konstantinopel untuk menolak dokumen persatuan yang menurutnya keliru itu. Dalam situasi demikian Js. Markus lalu jatuh sakit (kanker). Meskipun demikian keadaannya yang lelah dan sakit keras, mendapati dirinya dipersekusi dan dicela, dirinya sebagai wakil yang membela Gereja Orthodox. Karena itulah, Gereja Kudus menghormati orang besar ini selain sebagai dermawan, guru, juga pemenang Pengakuan Iman Orthodox yang Apostolik.

Kejadian lalu diikuti suksesi yang cepat. Yusuf, Patriakh Konstantinopel yang sudah berusia lanjut meninggal; dokumen mengenai hal pernyataan ketundukan kepada Roma yang diragukan keasliannya dibuat; kaisar Yohanes Paleologos bertindak sendiri mengendalikan Gereja, dan Orthodox dalam keadaan dipaksa untuk menyangkal Orthodoxia dan menerima kesalahan Latin, ajaran-ajaran (yang baru) dan berbagai inovasi-inovasinya, termasuk di antaranya penerimaan penuh Paus sebagai “yang tertinggi di seluruh dunia”.

Pada waktu ibadah untuk ‘kemenangan’ itu setelah ditandatanganinya persekutuan (unia) pada 5 Juli 1439. Para wakil delegasi Yunani secara khusuk mencium lutut Paus. Orthodoxia telah dijual, dan atas imbal kesepakatan tunduk, Paus setuju untuk mensuplai dana dan kekuatan tentara untuk membantu Konstantinopel melawan Turki. Tetapi hanya satu uskup yang tidak menandatangani (Js. Markus). Ketika Paus mengetahui bahwa Js. Markus tidak menandatangani Perjanjian Persekutuan (Act of Union), ia menyatakan, “Dengan demikian, kita tidak mencapai (kesepakatan) apapun!”

Paus meminta kaisar Byzantium untuk mengirim Js. Markus kepadanya dan untuk dihadapkan pada Sidang Sinodal, tetapi sang kaisar menolaknya. Pada wakil / delegasi kembali pulang dengan rasa malu karena ketundukannya pada Roma.

Mereka mengakui telah menjual imannya dan menukar ketakwaan dengan ketidaktakwaan, sebagaimana Js. Markus mengatakan bahwa itulah “malam ketika Persekutuan (Unia) telah menjaring Gereja”. Ia sendiri lalu dihormati orang-orang yang menyambutnya secara antusias ketika diijinkan kembali ke Konstantinopel tahun 1440. Tetapi tetap saja penguasa setempat melanjutkan menganiaya dia. Lama waktunya mengalami penangkapan dan dipenjara. Tetapi apapun keadaannya, ia terus membakar semangat dan bertarung bagi Gereja.

Pada akhirnya ia dibebaskan, dan mengikuti teladannya, para Patriakh Gereja Timur mengutuk Persekutuan (Unia) Palsu dan menolak mengakuinya. Kemenangan Gereja sekali lagi tercapai-melalui seorang tokoh yang kelelahan karena penyakitnya dan dilecehkan oleh tipu muslihat manusia, tapi kuat ingatannya pada janji Juruselamat: “…Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. (Matius 16:18).

Ia meninggal di usia 52 tahun tanggal 23 Juni 1444, setelah 2 minggu berjuang melawan penyakit dalamnya. Dari tempat tidurnya, ia meminta Gregorios Scholarios, yang pernah menjadi muridnya, untuk selalu waspada pada perangkap Barat dan membela Orthodoxia. Menurut Yohanes saudaranya, kata terakhir yang ia ucapkan adalah “Yesus Kristus, Anak Allah Yang Hidup, ke dalam TanganMu aku serahkan rohku.” Js. Markus dikuburkan di biara Mangana di Konstantinopel.

Mukjizat

Seorang pria terhormat dan kaya bernama Demetrios Zourbaios memiliki seorang saudara perempuan yang meninggal karena penyakit yang parah. Dengan biaya yang mahal, dia memanggil semua tabib Mesolongion untuk merawatnya. Namun, saudara perempuannya tidak merasa puas, dan kondisinya semakin memburuk. Selama tiga hari, dia tidak sadarkan diri, kehilangan kemampuan berbicara dan para tabib mendiagnosisnya sebagai fase bahwa kematian segera mendekat. Kerabatnya mulai mempersiapkan pemakamannya. Saat itu terjadi, secara tak terduga, mereka mendengar suaranya dan desahan beratnya. Dia kemudian berbalik, berkata, “Mengapa kamu tidak mengganti bajuku yang basah kuyup dengan air?” Setelah mendengar dia berbicara, saudara laki-lakinya dipenuhi dengan sukacita yang tidak terduga. Dia kemudian bergegas ke arahnya, bertanya, “Ada apa dan mengapa kamu basah kuyup?” Dia menjawab, “Seorang bapa suci memegang tanganku dan membawaku ke sebuah mata air. Dia menempatkanku di sebuah bak air dan menyiramku, lalu berkata, ‘Pergilah sekarang, kamu tidak lagi sakit.” Saudara laki-laki perempuan itu kemudian bertanya padanya, “Mengapa kamu tidak menanyakan nama orang yang menyembuhkanmu?” Dia kemudian menjawab, “Saya menanyakan identitasnya. Dia mengatakan kepadaku bahwa dia adalah Metropolitan Efesus, Markus Eugenikos.”

Keajaiban terjadi, dia bangun dari ranjang sakitnya. Semua yang hadir melihat pakaiannya yang basah kuyup. Apalagi tempat tidur dan selimutnya sudah basah. Setelah bangun, dia didiagnosa tidak memiliki jejak penyakit yang sebelumnya ia derita. Wanita itu kemudian meminta ikon Js. Mark dibuat untuk memperingati mukjizat itu. Wanita saleh ini hidup selama lima belas tahun lagi dan kemudian wafat dalam damai kepada Tuhan.

Suatu catatan yang diambil dari tulisan Js. Markus yang tetap berarti penting di jaman sekarang :

“sejauh yang mana telah diperintahkan kepadamu oleh Para Rasul Suci, -berdirilah teguh, berpeganglah pada tradisi-tradisi yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis, agar kamu tidak kehilangan keteguhan pada tradisi-tradisi yang menyelamatkanmu dari delusi-delusi mereka yang tidak menaatinya. Semoga Allah, Yang Maha Berkuasa, membuat mereka menyadari kesalahan delusinya; dan menyelamatkan kita dari mereka sebagaimana dari ilalang-ilalang yang jahat, semoga Dia mengumpulkan kita ke dalam lumbungNya sebagai gandum yang murni dan berguna, di dalam Yesus Kristus Tuhan kita, Yang kepadaNya segala kemuliaan, hormat, dan sembah, bersama BapaNya Yang tanpa awal, dan Yang Suci dan Mahabaik serta Roh Sang pemberi hidup, sekarang dan selalu serta sepanjang segala abad. Amin.”

Kidung Kontakion – Irama Ketiga

Dengan berpakaian baju besi yang tak terkalahkan, ya yang diberkati, / engkau membuang kesombongan yang memberontak, / engkau melayani sebagai tempat Penghiburan / dan bersinar sebagai pemenang Orthodoxia, / Oleh karena itu kami berseru kepadamu: “Bersukacitalah, Markus, kebanggaan Orthodoxia!

Kidung Troparion – Irama 4

Dengan pengakuan imanmu, Wahai Markus yang terpuji / Gereja telah menemukanmu untuk menjadi seorang pembela kebenaran yang setia. / Engkau berjuang bagi ajaran para Bapa; / engkau menjatuhkan kesombongan yang gelap. / Bersyafaatlah kepada Kristus untuk memberikan pengampunan bagi mereka yang menghormatimu!

Ref :

  • Saint and Feast, Johnsanidopoulos, January 19
  • Live Saints, OCA
  • Great Synaxarion, Markus Eugenikos dari Efesus.
  • http://www.pravmir.com/st-mark-ephesus-true-ecumenist/
  • https://stmarkofephesus.org/life-of-saint-mark-of-ephesus/
  • https://orthodoxwiki.org/Mark_of_Ephesus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *