Homili

Jasa Ibliskah

Homili Arkhimandrit Romo Daniel B.D. Byantoro

Tanggal : 12.12.2004

Bacaan Injil: Lukas 13: 10-17 Epistel: Efesus 6: 10-17

Bismil Abi, wal Ibni, War Ruhul Quddus, Al-Ilahu Wahid. Amin

Shaloom Aleikhem be Shem Ha-Massiakh,

Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus,

Beberapa tahun yang lalu di Indonesia dihebohkan dengan berita-berita tentang Gereja Setan. Ini adalah agama baru yang didirikan oleh almarhum Anton Szandor LaVey (1930-1997) pada tanggal 30 April 1966 di Amerika Serikat, di mana saat itu dia menyatakan bahwa tanggal tadi sebagai “Anno Satanas” (Tahun Setan), serta dia mengarang Kitab pegangan agama penyembah setan ini dengan nama “Satanic Bible” (al-kitab Setaniah) yang ditulis dalam bahasa “Enochian” (- entah bahasa apa ini – bunyinya seperti bahasa roh yang dilakukan oleh kelompok pentakosta/ kharismatik) dengan terjemahan dalam bahasa Inggris. LaVey adalah seorang penjinak singa dalam suatu sirkus sebelum menjadi Pendeta Agung dari Agama Setan yang didirikannya. Dengan meninggalnya LaVey kelompok ini dipimpin oleh anak perempuannya yang bernama Klara LaVey di San Fransisco, California, AS. Sayang mereka menggunakan istilah “Church” yang di Indonesia selalu diterjemahkan Gereja, padahal istilah ini di Indonesia hanya digunakan untuk Iman Kristen. Di Amerika kelompok agama apa saja dapat juga disebut sebagai Church. Misalnya Islamic Church itu artinya Masjid, Buddhist Church itu artinya Vihara Buddha, Jewish Church itu artinya Synagoga Yahudi, dan sebagainya. Demikianlah istilah “Satanic Church” itu sama sekali tidak terkait dengan Gereja Kristen atau pun Iman Kristen.

Beberapa dari keyakinan dan amalan mereka adalah:

  1. Mereka tidak menyembah apa pun yang dianggap sebagai tuhan/ ilah/ dewa-dewi;
  2. Penekanan utama diletakkan pada kekuatan dan kewibawaan dari masing-masing pengikut agama setan ini, bukan pada ilah-ilah/ tuhan-tuhan/ dewa atau dewi;
  3. Mereka percaya bahwa tak seorang penebus pun yang ada dan hidup, masing-masing orang adalah penebus dirinya sendiri, sepenuhnya bertanggung jawab bagi arah hidup mereka sendiri;
  4. Mereka menghormati, meninggikan kehidupan. Anak-anak dan binatang adalah ekspresi palig murni dari daya kekuatan hidup itu, dengan demikian itu dipandang sebagai amat berharga dan suci.

Agama setan ini memiliki semacam pengakuan iman yang berjumlah sembilan butir yang merupakan keyakinan inti mereka, yaitu:

  1. Mengumbar nafsu, bukan mencegahnya;
  2. Hidup dengan gagah, bukan bergantung pada pertolongan kekuatan di luar dunia ini;
  3. Hikmat yang tak terkotori, bukan penipuan diri yang penuh kemunafikan;
  4. Kebajikan untuk mereka yang layak dibaiki, bukan mengasihi mereka yang tak dapat mengucapkan terima kasih;
  5. Balas dendam, dan bukan memberikan pipi kiri bila pipi kanan ditampar;
  6. Tanggung-jawab kepada orang yang tahu bertanggung-jawab, bukan memperdulikan mereka yang hanya menjadi lintah penghisap darah;
  7. Manusia itu hanya salah satu dari binatang saja, tetapi ia binatang yang paling buas
  8. Menuruti apa saja yang dikehendaki hawa nafsu;
  9. Setan adalah sahabat terbaik yang dimiliki oleh Gereja Kristen, karena kalau tidak ada setan Gereja Kristen sudah gulung tikar, karena tidak ada pekerjaan yang dilakukan selama berabad-abad ini.

Namun, agama penyembah setan ini juga mempunya theologianya sendiri, yaitu:

  1. Manusialah yang menciptakan tuhan atau ilah/ dewa dengan bermacam- macam bentuk, ambil salah satu bentuk dari tuhan-tuhan tadi yang tidak berguna untuk kehidupan.
  2. Sorga dan neraka itu ada.
  3. Setan itu bukan roh yang berpribadi, tetapi daya kekuatan alam, daya kehidupan yang mewakili aspek hidup yang bersifat hawa-nafsu kedagingan, duniawi, dan bersifat kehidupan sehari-hari.
  4. Hidup manusia dianggap suci.
  5. Setan itu pernyataan dari kasih, kebaikan dan penghormatan bagi mereka yang layak untuk diperlakukan demikian.

Dalam ibadahnya, agama setan ini menggunakan altar dengan wanita telanjang bulat di atasnya, yang disebut sebagai “Ibadah Misa Hitam/ Kegelapan” atau “Black Mass” sebagai ejekan terhadap Liturgi Perjamuan Kudus Kristen, dan setan diundang untuk mencurahkan kekuatan nerakanya, di mana setan disebut dengan nama-nama: Satan, Lucifer, Belial, dan lewiatan. Hari Raya utama mereka adalah “Halloween”, yaitu hari peringatan segala hantu, roh-roh dan setan-setan setiap bulan September.

Mereka juga melakukan upacara-upacara ilmu sihir, yaitu:

  1. Upacara maksiat: upacara sihir sex termasuk melakukan (maaf) “masturbasi” beramai-ramai.
  2. Upacara belas-kasih: untuk penyembuhan, atau keberuntungan
  3. Upacara penghancuran: untuk menghancurkan dan mencelakai orang lain melalui sihir, di mana orang yang mau dihancurkan diwujudkan dalam boneka atau gambar yang ditusuk-tusuk dengan jarum, atau apa saja yang menggambarkan kecelakaan orang yang dimaksud.

Mereka juga mempunyai aturan-aturan hidup semacam “Hukum Sepuluh Setaniah” yang jumlahnya ada 9 butir, yaitu:

  1. Jangan berdoa, karena itu mengganggu kesibukan saja.
  2. Lakukan upacara pengorbanan manusia melalui simbol boneka.
  3. Turuti kemanusiaan nafsumu, jangan mencegahnya.
  4. Kalau orang menghantam pipi kirimu, hancurkan dia berkeping-keping.
  5. Lakukan pada orang lain sebagaimana mereka memperlakukanmu.
  6. Hendaklah kamu berzina sebebas-bebasnya sesuai dengan kebutuhanmu, baik melalui pernikahan hanya dengan satu pasangan, atau memiliki pasangan zina sebanyak-banyaknya, baik dalam hubungan pria-wanita, sesama jenis, dangan binatang, mau pun menggunakan alat-alat pemuas sex, dengan siapa saja yang mau kamu ajak untuk melakukan semua itu.
  7. Sebaiknya kamu jangan bunuh diri.
  8. Tidak usah memikirkan apa yang boleh dan tdak boleh dilakukan, lakukan apa maumu.
  9. Siapa saja, termasuk anak-anak, boleh menjadi anggota kelompok penyembah setan ini.

Saudara-saudari sekalian yang terkasih,

Munculnya agama penyembah setan ini menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak bisa bermain-main tentang adanya kuasa gelap ini meski pun kita tak usah takut karena Kristus melalui kebangkitan-Nya telah mengalahkan kuasanya, sebagaimana dikatakan: “Barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu” (1 Yoh. 3:8), kita hanya mengetahui dan mengerti apa yang dimiliki dalam Kristus dan mengetahui strategi roh-roh jahat. Dan dari apa yang kita ketahui mengenai ajaran dan praktik para penyembah setan ini kita makin diyakinkan akan ajaran Kitab Suci, bahwa “Iblis berbuat dosa dari mulanya”. Oleh karena itu para pengikutnya atau anak-anaknya mengikuti keinginan Iblis ini, sebagaimana dikatakan “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu” (Yoh. 8:44).

Sebab “Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis” maka kita yang percaya kepada Anak Allah ini juga harus membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis ini di dalam diri kita. Di sinilah kita melihat dalam agama penyembahan setan betapa manusia itu sungguh-sungguh telah jatuh dalam jebakan dan genggaman Iblis, sampai ada yang secara sengaja membuat agama menyembah Iblis itu sendiri, padahal tanpa disembah pun “penguasa kerajaan angkasa,” yang berwujud “roh” itu “sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka (Ef. 2:2), apalagi kalau sampai disembah.

Hati kita amat sedih dan pilu ketika memikirkan bahwa ternyata manusia ada yang sampai mengalami kebejadan pemikiran dan batin yang sedemikian dalam. Padahal justru karena itulah mereka ini akan masuk “ke dalam api yang kekal yang telah tersedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya” (Mat. 25:41). Ini pula penyebab manusia-manusia yang telah begitu tersesat ini menolak adanya neraka maupun sorga, supaya hati nurani mereka tidak terganggu ketika mengikuti keinginan bapa kegelapan yang mereka puja dan ikuti itu. Namun, sesuai dengan ajaran Kitab Suci kita tahu bahwa neraka itu ada, sorga atau “alam nur Ilahi” itu ada, Allah itu ada, malaikat itu ada, dan Iblispun juga ada. Dan Kitab Suci mengingatkan kepada kita bahwa Iblis atau setan itu pun bukanlah “sahabat terbaik yang dimiliki oleh Gereja Kristen, karena kalau tidak ada setan Gereja Kristen sudah gulung tikar, karena tidak ada pekerjaan yang dilakukan selama berabad-abad ini” seperti yang dibangga-banggakan oleh para penyembah setan ini dalam mengejek Iman Kristen. Seolah-olah roh jahat berjasa terhadap Iman Kristen. Sebab gereja yang benar itu bukan hanya yang ada di dunia ini saja, tetapi juga yang ada di Firdaus, dan mereka yang ada di Firdaus itu sudah bebas dari gangguan setan, namun tetap sibuk bekerja untuk menyembah dan memuliakan Allah, sebagaimana yang dikatakan: “orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya” (Why 7:15).

Jadi jelas Iblis dan roh-roh jahat itu tidak berjasa apa pun terhadap Gereja, dan kita tak berhutang apa pun terhadap roh-roh jahat. Mereka bukan sahabat Gereja, karena Kitab Suci jelas mengatakan: “Lawanmu, si Iblis, berjalan  keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1 Ptr. 5:8). Jelas Kitab Suci tidak mengatakan Iblis itu sahabat orang Kristen, namun lawan dari orang Kristen. Iblis itu bukan lawan Allah, dan tidak sejajar dengan Allah. Allah tidak punya lawan. Sebab kalau kita percaya Iblis itu lawan Allah, maka kita jatuh kepada musyrik, karena menganggap ada sesuatu yang bisa menjadi lawan Allah. Iblis adalah lawan Malaikat Mikael (Why 12: 7-10; Yud. 1:9; Dan. 10:13), dan lawan manusia. Kata “Ha-Satan” (Ibrani), “Ho Satanas” (Yunani), “as-Syaiton” (Arab), maknanya adalah “Si Penentang/ Pelawan”, berarti dia bukan sahabat karena sahabat itu bukan melawan atau menentang orang yang dianggap sebagai sahabatnya.

Jikalau ada kebaikan yang muncul akibat dari perlawanan roh-roh jahat, itu bukan karena mereka telah berjasa kepada kita. Meski pun Iblis/ Setan, dan roh-roh jahat –seperti saudara-saudara anak-anak Yakub yang menjual Yusuf saudara mereka itu ke Mesir– ini “telah mereka-rekakan yang jahat…, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan” (Kej. 50:20). Jadi kebaikan yang muncul akibat perlawanan roh-roh jahat itu bukan karena jasa mereka, namun karena “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan” (Rm. 8:28). Dengan demikian kita harus mengucap syukur kepada Allah, sebab kalau tidak ada Allah yang menolong dan mengubah rencana jahat Iblis menjadi kebaikan, kita pastilah telah dilumat secara berkeping-keping oleh roh-roh jahat ini.

Oleh karena itu, bacaan epistel kita kali ini mengatakan: “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” (Ef. 6:10-11). Kita diingatkan dalam ayat ini “supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat (bahasa asli: Methodias = metode = tipu muslihat) Iblis” untuk menunjukkan bahwa banyak cara Iblis untuk menipu manusia melalui cara-cara yang bermacam-macam melalui jebakan-jebakan dan tipuan-tipuan yang manusia sendiri sering tidak sadar.

Agama penyembahan setan dengan ajaran-ajarannya yang menolak Allah, menolak adanya Iblis itu sendiri, dan menolak adanya sorga serta neraka itu adalah salah satu bentuk dari tipu-muslihat Iblis yang amat nyata. Praktik dan ajaran agama penyembah setan ini jelas makin menunjukkan kepada kita bahwa setan itu memang ada, meskipun para penyembahnya, anehnya, menolak adanya setan sebagai roh yang memliki kesadaran. Karena kita diperhadapkan pada usaha “melawan tipu-muslihat Iblis” itulah sebabnya kita harus tahu strategi Iblis, salah satunya mengerti cara Iblis bekerja seperti yang dicontohkan dengan dibentuknya agama “Setaniah” itu.

Tetapi, karena yang kita hadapi ini adalah mantan malaikat penghulu yang “lebih kuat dan lebih berkuasa daripada” kita (II Ptr. 2:11) maka kita tak dapat menghadapi kekuatan Iblis ini hanya dengan kekuatan kita sendiri, namun kita harus “kuat di dalam Tuhan,” melalui iman yang kokoh yang dinyatakan melalui ketaatan pada perintah Allah dan kehidupan doa yang mendalam dan khusyuk dan “di dalam kekuatan kuasa-Nya” melalui ketergantungan kita kepada kuasa Roh Kudus dan keyakinan kokoh akan Nama Allah di dalam Kristus yang amat berkuasa itu. Karena melawan tipu-muslihat Iblis ini berarti kita melakukan “peperangan” di mana “perjuangan” (bahasa asli: h palh / hee palee= pergulatan, yaitu pertarungan dengan bergulat satu lawan satu di mana memerlukan tipuan dan jebakan untuk mengalahkan musuh) kita itu “bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu, dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:12) maka kita harus mengenakan “seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan”.

.

Bersambung

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *