Homili

Jasa Ibliskah (lanjutan 3)

Selanjutnya Sang Kristus memberi kebebasan dari cengkeraman Iblis atas perempuan ini, dan seharusnya si kepala rumah ibadat itu mengerti bahwa memang Sabat artinya perhentian dan pembebasan. Namun karena pemahamannya hanya terpaku pada simbol, pada huruf tertulis, bukan pada realita makna, ia menjadi manusia tak memiliki hati. Pemahaman keagamaannya sangat dangkal, dan akhirnya mudah marah, karena ia menjadi fanatik kepada penafsirannya sendiri. Orang yang dangkal pemahamannya tentang kebenaran memang akan jadi orang-orang yang fanatik, dan gampang “gusar” serta mudah emosi terhadap mereka yang memiliki tafsiran yang berbeda, meskipun masih dalam ranah kebenaran yang sama. Dan orang fanatik semacam ini justru adalah orang yang sebenar-benarnya sakit, karena dadanya sempit, yang ada hanya gusar tetapi cinta kasih menjauh.

Memang orang yang bersikap legalistik, yang mementingkan aturan-aturan, di luar mudah menjadi fanatik dan mudah menjadi tak berbelah-kasihan. Keyakinan yang kokoh yang diwujudkan dalam cinta kasih itu yang kita perlukan, bukan kefanatikan karena kedangkalan pemahaman yang disertai mudah gusar dan benci pada orang lain. Sebab fanatik itu dari Setan. Oleh sebab itu Sang Kristus mengecam pendekatan sempit dan legalistik (yang menekankan hukum tertulis tanpa makna yang sebenarnya) ini, seperti yang dikatakan.” Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman?” (Luk. 13:15).

Hati fanatik atau hati legalisme, itu adalah hati “munafik”. Karena sementara demi hukum agama melarang orang lain mengalami pembebasan, sedangkan pada diri sendiri kalau mungkin membebaskan diri di belakang pengetahuan orang lain, jikalau hukum agama yang ditekankan pada orang lain itu merugikan dirinya secara materi, misalnya memberi minum lembu dan keledai agar tidak mati, bahkan pada hari Sabat, supaya tak merugikan dirinya. Pandangan fanatikisme yang sempit yang menimbulkan kemunafikan ini dikritik pedas oleh Sang Kristus. Itulah sebabnya melalui bukti nyata Sang Kristus menyatakan makna hukum itu sebagai arahan menuju cinta kasih, bukan sebagai belenggu kebebasan terhadap orang lain, dengan sabda-Nya: “Bukankah perempuan ini yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?” (Luk. 13:16).

Sabat adalah simbol pembebasan, dan Taurat tidak mampu membebaskan dalam arti yang sebenarnya. Oleh karena itu Sang Kristus sebagai “kegenapan Taurat” (Rm. 10:4) dan “wujud” Sabda (Kol. 2: 16-17) ketika bertemu dengan perempuan yang “diikat oleh Iblis” menyatakan bahwa dia “harus dilepaskan dari ikatannya itu”. Karena Sang Kristus datang memang untuk menjadi pelepas dan penebus, dan untuk memusnahkan pekerjaan Iblis, sehingga oleh kuasa-Nya “seketika itu juga berdirilah perempuan itu” (Luk. 13:13). Artinya perempuan itu tidak merunduk seperti binatang lagi namun menjadi “makhluk tegak yang memandang ke atas”, yaitu ia kembali menjadi “anthropos”. Ketika pekerjaan Iblis dimusnahkan dan manusia disatukan kepada Sri Baginda Yesus Kristus, saat itulah dia kembali kepada “fitrah” (“kodrat asli”) dirinya sebagai “Manusia”. Karena manusia diciptakan “menurut” Gambar dan Rupa Allah, pola (“menurut”) kodrat asli (fitrah) manusia adalah “Gambar” dan “Rupa” Allah. Menurut Kitab Suci yang disebut sebagai “Gambar” (Kol. 1:15) dan “Rupa” (Flp. 2:5-6) Allah adalah Firman Allah Yang Menjelma, Sri Baginda Yesus Kristus. Jadi di luar Sang Kristus manusia memang bungkuk, menunduk ke tanah seperti binatang, di mana hidupnya hanya berfokus pada yang duniawi, dan tak dapat tegak berdiri sebagai “anthropos”. Sebab di luar Sang Kristus, manusia kehilangan “fitrah” kemanusiaannya. Itulah sebabnya jikalau kita harus kembali kepada fitrah atau kodrat asli kemanusiaan, maka kita harus melawan Iblis yang membuat kita kehilangan harkat “anthropos”, dan menjadikan kita “bungkuk” merunduk ke tanah seperti binatang.

Jadi Iblis dan roh-roh jahat itu bukan yang memberikan jasanya kepada kita, tetapi yang sungguh-sungguh ingin memusnahkan kita, oleh karena itu mereka adalah “lawan” kita, dan harus kita lawan. Mereka berperang melawan kita, maka kita sambut tantangan mereka dengan perlawanan. Supaya sama seperti “semua lawan-Nya merasa malu” (Luk. 13:17), lawan kita roh-roh jahat itu juga dipermalukan. Dan setelah mencapai kemenangan sehingga kita akan dimuliakan, maka “semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya” (Luk. 13:17) kepada kita itu di akhir jaman nanti.

Demikianlah kita dapati pemahaman bahwa Iblis merasuk manusia dalam tiga cara:

  1. Melalui tubuh yang menyebabkan sakit penyakit jasmani.
  2. Melalui jiwa sehingga orang kehilangan kesadaran dan bertingkah laku di luar yang normal.
  3. Melalui angan-angan, pikiran, kehendak, keinginan, perasaan serta hawa nafsu sehingga menimbulkan ideologi, cara pikir, pemikiran-pemikiran, dan tingkah laku yang rusak dan sesat.

Untuk kerasukan Iblis jenis pertama dan kedua, doa puasa (Mat. 17:21) dan pengusiran dalam Nama Yesus Kristus (Mark 16:17) itu yang harus dilakukan, namun untuk kerasukan jenis ketiga, seperti kerasukan pada diri si kepala rumah ibadat itu maka perlawanan terus menerus yang harus dilakukan. Karena yang kita lawan ini memang bukan darah dan daging, maka dikatakan oleh bacaan episel kita ini selanjutnya: “Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.” (Ef. 6:13).

Dada dan pikiran kita adalah medan Perang Agung Bharata Yudha seperti yang dilambangkan dalam kisah Itihasa Maha Bharata dalam Agama Hindu. Hanya saja musuhnya bukanlah Duryadana bersama saudara-saudaranya kaum Kurawa, namun Iblis dan malaikat-malaikatnya, dan yang berperang bukanlah Pandawa namun segenap kekuatan, hati, jiwa, pikiran, dan roh kita. Hati kita menjadi medan jihad, bukannya untuk membunuh orang kafir, tetapi untuk memusnahkan pekerjaan Iblis, yaitu “matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala” (Kol. 3:5). Jihad kita adalah “Jihad Akbar”, yaitu Jihad bagi mematikan hawa nafsu yang ada di dalam dada.

Karena kita memang didorong untuk “dapat mengadakan perlawanan”, berarti hidup Kristen itu bukan hidup yang dapat dilakukan dengan bermalas-malasan, namun harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan kesungguhan. Dan perlawanan yang dilakukan oleh orang Kristen harus dilakukan “pada hari yang jahat itu”. Dan mengenai “hari yang jahat” ini dikatakan oleh Kitab Suci “karena hari-hari ini adalah jahat” (Ef 5:16), sebab kita berada di dalam “dunia jahat yang sekarang ini” (Gal. 1:4), sebagai akibat dari “seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat” (1 Yoh. 5:19). Berarti kita harus selalu waspada untuk bergulat dengan Iblis dan roh-roh jahatnya setiap saat, karena selama kita hidup ini kita sedang berada dalam wilayah yang secara rohani sedang diduduki oleh Iblis dan bala tentaranya, meskipun Allah masih mengontrol tingkah laku si penjajah dunia. Itulah sebabnya kita diperintahkan “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” (Yak. 4:7). Jadi kesadaran akan terus menerus dijebak dan dilawan Iblis itu mengharuskan kita untuk bergantung, tunduk, dan mendekat kepada Allah.

Di dalam agama Hindu sering terdapat cerita bahwa tokoh-tokoh sakti menerima ”senjata sakti” milik dewa di dalam melawan para musuh-musuh mereka, baik untuk melenyapkan kejahatan mau pun untuk mempertahankan kekuasaan. Demikian juga karena perang yang kita hadapi ini adalah perang besar atau “jihad akbar”, maka kita memerlukan sesuatu yang di luar kekuatan kita sendiri, yaitu kita perlu mendapatkan dan mengambil “seluruh perlengkapan senjata Allah”. Jadi bukan hanya sebagian saja dari senjata Allah yang harus kita pergunakan dan kita ambil, namun keseluruhannya. Berbeda dengan kisah-kisah mitologi Hindu di mana senjata para dewa itu berwujud persenjataan jasmani misalnya Panah Guwawijaya milik Shri Rama, Panah Pasupati milik Arjuna, senjata Cakra Baskara yang mematikan milik Sri Krishna dan lain-lain, senjata Allah dalam injil lebih berwujud kekuatan rohani yag ada di dalam batin masing-masing orang beriman. Oleh karena itu cara berperangnya pun adalah cara rohani, di mana dikatakan: “Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah.” (Ef 6:14-17).

Sikap yang harus diambil; dalam peperangan rohani ini adalah sikap seorang prajurit yang gagah yang “berdiri tegap”, Iblis ingin membuat kita “bungkuk” dan “tidak bisa berdiri dengan tegak”, karena ia ingin kita kehilangan harga diri kemanusiaan kita, dan ia ingin kita menjadi budak-budaknya yang tunduk dan merunduk-runduk kepadanya. Tetapi dalam Sang Kristus kita telah dibebaskan dari perbudakan ini, maka sekarang sikap kita kepada Iblis bukanlah dengan ketakutan menunduk-nunduk namun kita “berdiri tegap” yaitu sebagai makhluk yang memandang ke atas, sebagai pribadi yang menemukan jati dirinya sebagai “anthropos” yaitu yang dipanggil untuk ambil bagian dalam kodrat Ilahi.

Inilah yang harus menjadi sikap awal kita dalam melakukan peperangan ini. Kita sadar dulu siapa kita dalam Kristus, dan apa panggilannya bagi kita yang menyebabkan kita harus melakukan peperangan rohani ini. Karena hanya dengan mengetahui tujuan peperangan itu sajalah kita dapat bertanding dengan berani, sehingga kita dapat “mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir” (2 Tim. 4:7), yaitu “tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu”, artinya mencapai kemenangan yang gemilang dalam peperangan rohani ini, sehingga kita betul-betul mencapai tujuan kita untuk “mengambil bagian dalam kodrat Ilahi” (2 Ptr 1:4).

Kita maju perang dengan satu tekad, bertanding untuk menang oleh pertolongan Allah, yaitu: “di dalam kekuatan kuasa-Nya”, dan tidak ada pilihan lain. Kekuatan kuasa Tuhan itu berkarya melalui “seluruh perlengkapan senjata Allah”, yang terdiri dari: ikat pinggang (bahasa asli: osfun/ osfyn), baju zirah (bahasa asli: qvraka/ thyooraka), kasut (bahasa asli: upodhmata/ hypodeemata), perisai (bahasa asli: qureon/ thyreon), ketopong (bahasa aslinya: perikefalaian/ perikefalian = sesuatu yang di sekitar kepala), dan pedang (bahasa asli: macairan/ makhairan).

.

Bersambung

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *