Homili

Jasa Ibliskah (lanjutan 2)

Iblis memang ingin menghancurkan manusia, oleh karena itu memang tidak ada pilihan bagi kita, apakah Iblis yang harus dihancurkan kuasanya, ataukah kita yang akan dihancurkan oleh iblis itu. Bahwa Iblis itu memang ingin menghancurkan manusia, meskipun dia sadar bahwa sebenarnya kekuatannya juga terbatas karena Sri Baginda Yesus Kristus telah mengalahkannya melalui kematian dan kebangkitan-Nya (Ibr. 2:14). Sehingga ia tak selalu dapat melawan secara terang-terangan namun dengan menggunakan tipu-muslihat, itu dapat kita lihat dalam bacaan Injil kita kali ini.

Kita baca bahwa: “Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak.” (Luk. 13: 10-11). Di dalam rumah ibadat ada “seorang perempuan…dirasuk roh?” Ya memang benar, roh-roh jahat tidak takut pada simbol-simbol keagamaan, karena bahkan melalui Anti-Kristus Iblis akan membuat Anti-Kristus itu sendiri “duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah” (2 Tes. 2:4b). Dan justru kalau kita tidak sadar Iblis akan menggunakan simbol-simbol keagamaan itu menjadi sarana untuk merasuk orang yang mau dirasuknya.

Sering kita mempunyai anggapan bahwa orang yang dirasuk roh jahat itu tidak sadar bertingkah laku tidak waras dan di luar yang normal, namun bacaan kita ini menunjukkan sesuatu yang lain. Perempuan yang dirasuk roh itu ternyata bertingkah laku normal dan tetap melakukan kegiatan keagamaannya, hanya “ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak”. Ini menunjukkan bahwa cara roh jahat merasuk orang itu bukan hanya dengan satu cara saja, tipu-muslihat roh jahat itu macam-macam bentuknya. Namun apa pun bentuk tipu-muslihat itu, tujuannya adalah membuat orang sakit baik secara tubuh maupun secara batin, sehingga “bungkuk” ini dapat kita mengerti sebagai lambang orang yang hanya bisa melihat ke bawah, ke tanah, ke dunia. Juga “tak dapat berdiri tegak lagi” ini dapat kita mengerti sebagai ketakmampuan untuk melihat ke atas, ke langit, ke sorga, kepada Allah, kepada hal-hal yang rohani.

Orang yang dirasuk Iblis akan mengikuti keinginan Iblis, atau mengikuti sifat-sifat Iblis, atau sebaliknya orang yang mengikuti keinginan dan sifat-sifat Iblis itulah orang yang dirasuk Iblis. Jadi dari sifat dan tingkah-lakunyalah kita dapat mengerti seseorang dirasuk atau tidak oleh Iblis. Iblis dilambangkan sebagai ular, yaitu bercabang lidah artinya, pendusta; berkulit licin dan menarik artinya, penuh tipu-daya dan muslihat sehingga orang mudah tertarik untuk dijebaknya; kalau berjalan tidak kedengaran artinya sering tipuannya tak disadari manusia; namun berbisa artinya keinginan Iblis adalah untuk membunuh manusia dari semula (Yoh. 8:44). Juga mengenai Iblis yang dilambangkan sebagai ular, dikatakan Kitab Suci demikian: “Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kau makan seumur hidupmu.” (Kej. 3:14). Dalam ayat ini Iblis dikatakan sebagai “terkutuk”. Dalam agama Islam Iblis atau Syaitan itu dikatakan sebagai “Syaitanirrajim” artinya “Syaitan yang kena rajam” atau “Syaitan yang kena kutuk”. Juga dalam ayat ini Allah mengatakan kepada Iblis yang dilambangkan sebagai ular itu bahwa “dengan perutmulah engkau akan menjalar”. Menjalar artinya langkah gerak atau aktivitas kehidupan. Jikalau menjalarnya dengan perut berarti gerak kehidupan dan aktivitas kehidupannya itu melekat erat dengan tanah, dengan bumi. Ini disebabkan bahwa Iblis itu menjadikan bumi sebagai wilayah aktivitasnya, dan ia yang membuat manusia bersifat duniawi, sebagaimana dikatakan: ”seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat” (1 Yoh. 5:19). Itulah sebabnya orang durhaka yang di dalamnya Iblis sebagai penguasa kerajaan itu “sekarang sedang bekerja” (Ef. 2:2), gaya hidupnya akan “mengikuti jalan dunia ini”, artinya ia hanya bisa melihat yang di bumi sama seperti Iblis yang menjalar dengan perutnya.

Itulah sebabnya orang yang dirasuk roh ini dinyatakan sebagai “bungkuk” yaitu hanya bisa melihat ke tanah saja, yaitu lambang orang yang hanya mengikuti nilai-nilai duniawi saja. Dan orang yang pikiran dan fokus kehidupannya hanya pada yang di bumi, yang duniawi saja. Itulah orang yang rohnya dijadikan “bungkuk” oleh Iblis karena ia hanya bisa melihat ke bawah saja dan tidak bisa melihat ke atas kepada jati dirinya yang sebenarnya. Kalau pun orang yang demikian ini rajin dalam menjalankan keyakinan agamanya, ia hanya tahu simbol-simbol saja dari agamanya itu tetapi bukan realita dan kekuatan yang mengubah kehidupannya, karena “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka. Tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.” (2 Tim. 3:5).

Simbol-simbol keagamaan digunakan untuk mencari kepuasan diri pribadi, sehingga simbol keagamaan, meskipun kalau itu Nama Sang Kristus sendiri yang digunakan, tak akan mampu untuk menyingkirkan kuasa roh jahat, malah menjadi sarana roh jahat meyerang orang yang demikian ini dan mempererat cengkeramannya atasnya. Hal ini dapat kita lihat dalam kisah mengenai anak-anak skewa yang demikian: Juga beberapa tukang jampi Yahudi, yang berjalan keliling di negeri itu, mencoba menyebut nama Tuhan Yesus atas mereka yang kerasukan roh jahat dengan berseru, katanya: “Aku menyumpahi kamu demi nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus.”  Mereka yang melakukan hal itu ialah tujuh orang anak dari seorang imam kepala Yahudi yang bernama Skewa. Tetapi roh jahat itu menjawab: “Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu?” Dan orang yang dirasuk roh jahat itu menerpa mereka dan menggagahi mereka semua dan mengalahkannya, sehingga mereka lari dari rumah orang itu dengan telanjang dan luka-luka.” (Kis. 19: 13-16).

Selanjutnya orang yang dirasuk roh ini dikatakan sebagai “tidak dapat berdiri lagi dengan tegak”. Berdiri dengan tegak itu adalah bentuk fisik manusia, karena itu manusia disebut dalam bahasa Yunani sebagai “anqropos/ anthropos” artinya makhluk yang tegak memandang ke atas. Karena manusia diciptakan mempunyai arah tujuan akhir untuk menyatu dengan Dia yang di atas. Sedangkan binatang itu bukan berdiri tegak memandang ke langit, namun merunduk ke bawah memandang ke tanah, karena binatang memang tak memiliki unsur yang membuat dia dapat menyatu dengan yang Ilahi. “Berdiri tegak adalah sifat “anthropos”, sebaliknya “tidak dapat berdiri lagi dengan tegak” adalah sifat binatang.

Dengan demikian mereka yang dirasuk roh jahat itu akan kehilangan jati diri kemanusiaannya menjadi seperti binatang saja layaknya, sebagaimana dikatakan: “Tetapi mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan” (2 Ptr. 2:12), dan luar biasanya kebenaran Kitab Suci ini dibuktikan dari pengakuan orang-orang yang kerasukan setan yaitu para penyembah setan, dan pengikut agama setan itu, di mana salah satu keyakinan mereka adalah bahwa “7. Manusia itu hanya salah satu dari binatang saja, tetapi ia binatang yang paling buas”, karena memang orang yang kerasukan setan ini sepertinya para penganut agama setan ini, sudah kehilangan harkatnya sebagai “anthropos” karena mereka “tidak dapat berdiri lagi dengan tegak”. Mereka sudah betul-betul buta, tak dapat melihat adanya Allah, adanya sorga mau pun adanya neraka. Mereka betul-betul seperti bapa mereka yang hanya bisa “menjalar dengan perut mereka di atas tanah saja.” Memang dikatakan makanan Iblis itu “debu tanahlah akan kau makan seumur hidupmu”.

Ular yang sebenarnya tidak pernah memakan “debu tanah”, melainkan memakan katak atau tikus. Karena di sini ular itu sebagai lambang Iblis, maka “debu tanah” itu makanannya, karena “debu tanah” adalah simbol manusia: “engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kej. 3:19), serta “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah” (Kej. 2:7). Jadi manusia memang menjadi makanan Iblis, dan para penyembah setan, yang mengikuti agama penyembahan setan itu betul-betul sudah dimakan Iblis, sehingga kehilangan pengetahuan akan jati diri kemanusaannya, serta menjadi “sama dengan hewan” dan “sama dengan binatang” yang itu juga mereka akui sendiri.

Hanya kalau orang dapat mengelupas simbol-simbol itu dan menembus kepada realita, yaitu Sang Kristus sendiri saja, maka ia dapat lepas dari cengkeraman roh jahat dan menemukan kebebasannya dari kerasukan itu, sebagaimana yang dikatakan oleh bacaan Injil kita ini selanjutnya: “Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah.” (Luk. 13:12-13). Langkah menuju kebebasan dari kerasukan roh jahat yaitu dari cengkeraman roh jahat sehingga orang “pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus” (2 Kor. 4:4) mengalami kesadaran bahwa “Yesus melihat” dan “memanggil” dirinya serta “Ia meletakkan tangan-Nya”, atasnya. Artinya ia mengalami pandangan mata yaitu kepedulian Allah dan panggilan serta jamahan pribadi dari Allah, sehingga dia sadar bahwa secara pribadi Allah menyapa keberadaan dirinya yang terdalam. Perbalikan pribadi menuju kesadaran mendalam akan sapaan dan penggilan Allah inilah yang menuntun kepada pertobatan. Dan pertobatan inilah langkah awal dari kesembuhan penyakit roh, jika itu kita lihat secara rohani sebagaimana dikatakan oleh Sang Kristus kepada wanita yang kerasukan roh itu: “penyakitmu telah sembuh”.

Namun sembuhnya penyakit ini baru kesembuhan awal saja dari akibat kerasukan setan. Perjuangan kita melawan roh-roh jahat belum berhenti, karena dikatakan setelah perempuan itu sembuh maka “kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.” (Luk. 13:13-14). Kepala rumah ibadat seharusnya adalah seorang rohani. Seorang rohani seharusnya tidak hanya menekankan peribadahan lahiriah saja, namun harus menerima kekuatan dari ibadah. Sabat adalah simbol pelepasan dan pembebasan, inilah kekuatan dari makna Sabat itu. Karena arti Sabat (Sabtu [Arab]) sebagai hari ketujuh itu adalah “hari perhentian”, yaitu perhentian dari pekerjaan, bagi memperingati selesainya Allah menciptakan dunia dan segala isinya (Kej. 2:3; Kel. 20:8-11). Sehingga manusia diperingatkan bahwa mereka itu bukan mesin produksi saja, namun makhluk berpribadi yang “tugas pekerjaannya” adalah wujud ibadah dan “perhentian dari kerja” itu adalah wujud persembahan waktunya sekali dalam seminggu untuk Tuhan. Dengan demikian manusia dibebaskan dari eksploitasi produksi, dan diberi ruang untuk menyadari harkat kemanusiaannya sebagai “anthropos”, “makhluk yang memandang ke atas”, di mana saat perhentian itu digunakan untuk merenungkan kebaikan Tuhan, dan bukan sebagai mesin produksi.

Sabat juga simbol pembebasan dari “perbudakan” dan “tirani/ kedzaliman” seperti yang dialami di Mesir, dengan demikian Sabat adalah simbol penebusan (Ul. 5: 14-15), yaitu pembebasan dari tirani Iblis, dosa dan maut. Namun ini juga pembebasan dari ideologi apa pun yang mencuri kemerdekaan manusia. Entah itu ideologi kapitalisme ekstrim yang membuat manusia hanya sebagai mesin produksi, dan mencuri kebebasan waktunya untuk menyadari harkat kemanusiaannya, ataukah itu ideologi komunisme yang mencuri manusia dari kebebasan ekspresi untuk menyembah Tuhan.

Wanita yang kerasukan itu “telah delapan belas tahun” dalam keadaan tidak bebas karena ia “dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak”. Seminggu sekali ia selalu pergi memperingati Hari Sabat di Synagoga, tetapi ia tak dibebaskan dari roh yang mencengkeram kebebasannya dengan diberi beban bungkuk punggung dan tidak dapat berdiri tegak. Padahal seharusnya Sabat adalah hari pembebasan. Itu dikarenakan Hari Sabat adalah simbol saja dari pembebasan.

Sri Baginda Yesus Kristus adalah kegenapan dan realita Sabat, sebagaimana yang dikatakan: “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru atau pun hari sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.” (Kol. 2: 16-17). Manusia yang masih berada dalam tingkat memahami “simbol” tidak akan dapat mengerti “realita”, manusia yang masih berada dalam tingkat “bayangan” tidak dapat mengerti “wujud”, manusia yang masih berada dalam tingkat “ibadah lahiriah” tidak mengerti “kekuatan ibadah”, dan manusia yang masih dalam tingkat “peraturan agama” saja belum mengerti “Kristus”. Itulah sebabnya manusia yang demikian biarpun mempunyai kedudukan sebagai kepala institusi/ lembaga keagamaan seperti si “kepala rumah ibadat” akan marah dan gusar karena “wilayah kenyamanan” (“comfort zone”) nya terganggu, ketika tiba-tiba orang mengalami pemahaman mendalam mengenai realita, lepas dari perantaraan pengajaran yang ia berikan, karena berarti itu lepas dari kontrol dan kendalinya atas dia.

Sang Kristus adalah realita Sabat, oleh karena itu Ia memberikan kebebasan kepada wanita yang berada dalam keadaan terjajah oleh roh jahat itu. Ini adalah pelajaran besar bagi kita. Yang dibebaskan Sang Kristus ini adalah wanita, si kepala rumah ibadat itu pria, pada abad pertama Agama Yahudi menganggap rendah wanita. Di sini Sang Kristus membebaskan wanita ini dari hak-hak kesamaan derajat jenis kelamin yang telah dipasung dan dirampok oleh tafsiran kaum lelaki. Inilah tamparan langsung ke wajah si kepala rumah ibadat yang memasung dan membelenggu hak-hak kaum wanita. Selanjutnya si wanita ini orang sakit dan si kepala rumah ibadat itu orang sehat yang seharusnya si kepala rumah ibadat yang gusar atas kesembuhannya dari sakit itu peduli akan keadaannya. Inilah tamparan bagi si kepala rumah ibadat, karena terbukti ia hanya mementingkan kedudukannya sebagai kepala rumah ibadat, kepala lembaga keagamaan saja, daripada peduli akan nasib dan penderitaan orang yang digembalakannya. Banyak pimpinan lembaga keagamaan yang mempunyai watak dan sifat yang demikian ini. Ia hanya peduli kedudukan tetapi tidak peduli cinta kasih.

.

Bersambung

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *