NovemberSejarahSynaxarion

IMAM MARTIR ZENOBIOS, USKUP EGEIA, DAN SAUDARA PEREMPUANNYA ZENOBIA

Diperingati pada tanggal 30 Oktober (Julian) / 12 November (Gregorian)

      Imam Martir Zenobios, Uskup Egeia, dan saudara perempuannya Zenobia meninggal sebagai martir pada tahun 285M di Kilikia. Sejak kecil mereka dibesarkan dalam iman Kristen yang suci oleh orang tua mereka, dan mereka menjalani kehidupan yang saleh dan suci. Di usia dewasa, mereka menghindari cinta uang, mereka membagikan kekayaan mereka, warisan mereka, dan memberikannya kepada orang miskin. Untuk kebaikan dan kehidupan sucinya, Tuhan menganugerahkan Zenobios dengan karunia penyembuhan berbagai penyakit. Dan dia terpilih sebagai uskup komunitas Kristen di Kilikia.

      Sebagai uskup, Js Zenobios dengan bersemangat menyebarkan iman Kristen di antara orang-orang kafir. Ketika kaisar Diocletian (284-305M) memulai penganiayaan terhadap orang-orang Kristen, Uskup Zenobios adalah orang pertama yang ditangkap dan diadili oleh gubernur Licius. 

“Saya akan berbicara dengan Anda tetapi secara singkat, – kata Licius kepada orang suci, – karena saya mengusulkan kepada Anda: hidup – jika Anda menyembah dewa-dewa kami, atau kematian – jika tidak”. Orang suci itu menjawab: “Hidup sekarang ini tanpa Kristus adalah kematian; lebih baik aku bersiap untuk menanggung siksaan saat ini bagi Penciptaku, dan kemudian bersama Dia hidup selamanya, daripada meninggalkan Dia karena kehidupan sekarang, dan kemudian disiksa selamanya dalam neraka” .

      Atas perintah Licius, mereka memakukan sang Jana suci di kayu salib dan memulai penyiksaan. Saudari uskup, Zenobia, melihat penderitaan saudara laki-lakinya, ingin kemudian menghentikannya bersamanya. Dia dengan berani mengakui imannya sendiri kepada Kristus di depan gubernur, yang untuknya dia juga diserahkan untuk disiksa.

      Dengan kuasa Tuhan mereka tetap hidup setelah disiksa di dipan yang panas dan dalam ketel yang mendidih. Orang-orang kudus itu kemudian dipenggal. Presbiter Hermogenes diam-diam mengubur mayat para martir.


      .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *