FebruariSynaxarion

Hierark-Martir Kudus Blaisios dari Sebaste [316]

Diperingati oleh Gereja Orthodox pada 24 Februari (Kalender Sipil) / 11 Fabruari (Kalender Gereja Purba)

Martir Agung Blaise (Blasius), Episkop Sebaste, dikenal karena kehidupannya yang benar dan saleh. Dengan suara bulat dipilih oleh orang-orang, ia ditahbiskan menjadi Episkop Sebaste. Ini terjadi pada masa pemerintahan kaisar Romawi Diokletianus (284-305) dan Licinius (307-324), penganiaya kejam orang Kristen. Js. Blaisius mendorong kawanannya, mengunjungi yang dipenjara, dan memberikan dukungan kepada para martir.

Banyak yang menyembunyikan diri mereka dari para penganiaya dengan pergi ke tempat-tempat terpencil dan sunyi. Js. Blaisius juga menyembunyikan diri di Gunung Argeos, tempat ia tinggal di sebuah gua. Binatang buas menghampirinya dan dengan sabar menunggu sampai Janasuci itu menyelesaikan doanya dan memberkati mereka. Orang suci itu juga menyembuhkan hewan yang sakit dengan menumpangkan tangan ke atas mereka.

Perlindungan orang suci itu ditemukan oleh para hamba gubernur Agrilaus, yang datang untuk menangkap binatang buas untuk diadu dengan para martir Kristen. Para pelayan melaporkan kepada tuan mereka bahwa orang-orang Kristen bersembunyi di gunung, dan ia memberi perintah untuk menangkap mereka. Tetapi mereka yang dikirim hanya menemukan di sana Episkop Sebaste. Memuliakan Tuhan yang telah memanggilnya untuk menyongsong kemartiran ini, Js. Blaisius mengikuti para prajurit.

Di sepanjang jalan orang suci menyembuhkan orang sakit dan melakukan mukjizat lainnya. Karena itu, seorang janda miskin mengeluh kepadanya tentang ketidakberuntungannya karena seekor serigala membawa seekor babi kecil, satu-satunya miliknya. Episkop tersenyum dan berkata kepadanya, “Jangan menangis, babimu akan dikembalikan kepadamu …”  Yang mengejutkan semua orang, serigala tersebut berlari kembali dan mengembalikan mangsanya tanpa terluka.

Agrilaus, menyapa Episkop dengan kata-kata tipu daya, memanggilnya sahabat para dewa. Js. Blaisius menjawab salam itu, tetapi dia menyebut para dewa dengan sebutan setan. Kemudian mereka memukulinya dan membawanya ke penjara.

Pada hari berikutnya, mereka menyiksa orang suci itu lagi. Ketika mereka membawanya kembali ke penjara, tujuh wanita mengikuti di belakang dan mengumpulkan tetesan darahnya. Mereka menangkap mereka dan mencoba memaksa mereka untuk menyembah berhala. Para wanita berpura-pura menyetujui ini dan mengatakan bahwa pertama-tama mereka perlu mencuci berhala di perairan danau. Mereka mengambil berhala-berhala dan melemparkan mereka ke bagian danau yang sangat dalam, dan setelah itu orang-orang Kristen disiksa dengan kejam. Orang-orang kudus dengan sabar menanggung siksaan, diperkuat oleh anugerah Allah, tubuh mereka diubah dan menjadi putih seperti salju. Salah satu wanita memiliki dua anak laki-laki yang masih muda, yang memohon ibu mereka untuk membantu mereka mencapai Kerajaan Surga, dan dia mempercayakan mereka kepada perawatan Js Blaisius. Tujuh wanita suci itu dipenggal.

Js. Blaisius sekali lagi dibawa ke hadapan Agrilaus, dan sekali lagi ia dengan tanpa ragu mengakui imannya kepada Kristus. Gubernur memerintahkan agar martir itu dibuang ke danau. Orang suci turun ke air, menandai dirinya dengan Tanda Salib, dan dia berjalan di atasnya seolah-olah di tanah yang kering.

Berbicara kepada orang-orang kafir yang berdiri di pantai, dia menantang mereka untuk datang kepadanya dengan meminta bantuan dewa-dewa mereka. Enam puluh delapan orang pengawal gubernur memasuki air, dan segera tenggelam. Orang suci itu, bagaimanapun, mematuhi malaikat yang menampakkan diri kepadanya, kembali ke pantai.

Agrilaus marah karena kehilangan pelayan-pelayan terbaiknya, dan dia memberi perintah untuk memenggal Js  Blaisius, dan kedua bocah yang dipercayakan kepadanya, putra-putra martir. Sebelum kematiannya, martir itu berdoa untuk seluruh dunia, dan terutama bagi mereka yang menghormati ingatannya. Ini terjadi sekitar tahun 316.

Relik Martir Agung Blaisius dibawa ke Barat pada masa Perang Salib, dan sebagian dari relik tersebut disimpan di banyak negeri Eropa [dan peringatannya secara tradisional dihormati di sana pada tanggal 3 Februari].

Kita berdoa kepada Js. Blaisius untuk kesehatan hewan peliharaan, dan untuk perlindungan dari binatang buas.

Troparion Irama IV

‘Sebab engkau berbagian dalam Jalan Para Rasul dan menduduki Tahta mereka, engkau telah mendapati kegiatanmu sebagai Jalan kepada Penglihatan Ilahi, ya Yang Terilham-Ilahi. Karenanya, dengan mengatur Firman Kebenaran, engkau telah menanggung derita demi Iman hingga mencurahkan darahmu. Ya Imam-Martir Blaisios, mohonkanlah Kristus Allah agar jiwa kami diselamatkan’

Kontakion Irama II

‘Ya Blaisios yang Membawakan-Allah, Cabang Ilahi, Bunga Tanpa-Layu, Carang yang Amat-Menderita dari Pokok Anggur Kristus, dengan kesukaanmu penuhilah mereka yang menghormati peringatanmu, dan berdoalah tanpa-henti bagi kami semua’

(oca.org/saints/lives/2012/02/11/100501)

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *