DesemberSynaxarion

Hierark Kudus Nikholas Pengerja-Mukjizat Dari Myra [345]

Diperingati oleh Gereja Orthodox pada tanggal 19 Desember (kalender sipil) / 06 Desember (kalender Gereja)

Janasuci Nikolas Sang Pelaku Mukjizat (Yunani: Άγιος Νικόλαος, Agios Nikolaos, “victory of the people”, ”kemenangan rakyat”; Rusia: Святитель Николай Чудотворец, Zvyatitel Nikolai Tchudavoretz) adalah seorang Episkop Agung yang hidup pada abad k-4 M. Ia lahir pada abad ke-3, pada tahun 270, di Desa Patara, sebelah selatan Turki, yang dulu masih bernama Byzantium di bawah kekuasan Kekaisaran Romawi, di Myra (dekat kota modern Finike, Turki), Provinsi Lycia, sekarang disebut Turki, berasal dari keluarga yang kaya. Orangtuanya, Theophanes dan Nonna, mengkhususkan anak tunggal ini kepada Allah sesuai sumpah yang telah mereka buat kepadaNya. Ketika anak itu lahir, ibunya disembuhkan dari segala penyakit. Ia, yang baru lahir, berdiri tiga kali dalam Kolam Baptisan untuk memuliakan Tritunggal Mahakudus dan berpuasa pada hari Rabu dan Jumat sejak masa kanaknya.

Sejak masa mudanya ia sangat menyukai cara hidup bertapa dan melayani umat. Nikolas terkadang dipanggil dengan sebutan Nikolas Sang Pelaku Mukjizat (si Pekerja yang Ajaib) setelah beberapa mukjizat yang dilakukannya ketika ia masih kecil. Nikolas mengenyam pendidikan dasarnya di Patara hingga meraih gelar sarjana. Tidak ada informasi mengenai apa yang ia pelajari. Namun, melihat kondisi pada saat itu, Nikolas diperkirakan mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan teologia dan filsafat Yunani.


Pamannya, Uskup Nikholas dari Patara, mengangkatnya menjadi seorang Pembaca, lalu menahbiskannya menjadi Imam. Ia ditahbiskan menjadi imam pada usia yang sangat muda yakni 18 tahun. Ia kemudian menjadi seorang imam yang sangat disukai umat. Imam Nikholas menunjukkan kebaikan besar kepada semua orang yang mencari pertolongannya dan membagi-bagikan harta warisannya bagi orang-orang miskin. Nikolas mendapatkan warisan uang yang banyak, tetapi dia tidak mengambilnya sama sekali. Ia senantiasa mengingat perkataan Yesus untuk “menjual seluruh milikmu dan memberikan uang kepada yang miskin”. Demikianlah ia melaksanakan perkataan Yesus tersebut dengan membagikan kekayaannya kepada mereka yang membutuhkannya.

Kepatuhannya atas ajaran cinta kasih kepada sesama yang dilakukan Yesus Kristus seperti yang tertulis di Alkitab membuat Nikolas tidak segan-segan menyisihkan kekayaan yang diwariskan orang tuanya kepada mereka yang berkekurangan, sakit, maupun yang sedang menderita. Nama Nikolas menjadi terkenal di penjuru Myra karena secara tulus membantu masyarakat yang lemah, para pelaut, dan sangat sayang kepada anak-anak. Kemurahan hati Js. Nikolas juga menjadikan dirinya teladan hidup yang penuh belas kasih terhadap sesama.

Pelayanannya sebagai imam ini ia lakukan ketika penyiksaan terhadap orang-orang Kristen tengah terjadi. Di bawah pemerintahan Kaisar Diocletian (berkuasa 284 – 305) dan Kaisar Maximian (berkuasa 286 – 306), dikeluarkan perintah bagi seluruh rakyatnya agar mereka hanya menyembah kepada kaisar. Hal yang jelas bertentangan dengan iman Kristen ini menyebabkan banyak orang Kristen menolak mengikuti perintah tersebut. Oleh karena itu, pada masa-masa tersebut, terjadilah penyiksaan yang hebat terhadap para pengikut Kristus. Nikolas juga dikabarkan sempat mendekam di penjara dan menjalani masa pengasingan atas perintah Kaisar Diocletian, yang sangat antikristiani. Ketika itu, Nikolas turut mengalami penyiksaan yang berat dalam penjara. Konon sebagian besar penghuni penjara Romawi merupakan para uskup dan kaum rohaniwan ketimbang bromocorah maupun pembunuh. Keteguhannya untuk tidak berbalik dari imannya terhadap Kristus tidak kalah dengan para martir. Bagaimanapun juga, tanpa pemeliharaan Allah, Nikolas tidak mungkin bertahan sedemikian rupa. Setelah Konstantinus menggantikan Diocletian, Nikolas pun dibebaskan dari penjara dan dapat melayani kembali. Setelah bebas, Nikolas tetap setia menjadi pengikut Kristus dan menerapkan ajaran cinta kasih kepada umat dan masyarakat sekitar hingga akhir hayatnya.


Sebagai imam ia pernah berziarah ke Tanah Suci. Di Yerusalem, Nikholas menghormati semua tempat kudus. Ia hendak mengundurkan diri ke gurun, namun ada Suara Ilahi yang memerintahkannya agar kembali ke negeri kelahirannya. Ketika uskup di Myra meninggal, para imam dan penduduk di Myra harus bergumul untuk menentukan penggantinya. Disebutkan bahwa Tuhan berbicara kepada para imam di kota itu untuk memilih Nikolas sebagai uskup selanjutnya. Sekembalinya dari Yerusalem, karena sifat belas kasihnya yang besar terhadap umat dan fakir miskin, ia dipilih menjadi Uskup kota Myra oleh rakyat dan berkedudukan di Lycia, Asia Kecil (sekarang: Turki). Pemilihan Nikolas sebagai uskup bukanlah sesuatu yang wajar dilakukan, mengingat Nikolas adalah sebagai orang awam. Oleh karena itu, pengangkatan Nikolas di satu sisi bisa dibilang sebagai pengangkatan berdasarkan popularitas. Ia seorang uskup yang lugu, penuh semangat dan gigih membela orang-orang yang tertindas dan para fakir miskin. Adapun pengangkatan Nikolas sebagai uskup diperkirakan terjadi pada masa pemerintahan Licinius (berkuasa 307–324).

Pada masa penganiayaan dan penyebaran ajaran-ajaran sesat, Js. Nikolas menguatkan iman umatnya dan melindungi mereka dari pengaruh ajaran-ajaran sesat. Sepanjang pelayanannya sebagai seorang uskup, Nikolas dianggap sebagai penentang segala bentuk kekafiran. Penolakannya terhadap penyembahan berhala terlihat dari penghancuran beberapa kuil kafir, salah satunya kuil Artemis yang diprakarsai olehnya. Selain itu, ia juga dianggap sebagai salah satu penentang ajaran Arius.

Peran serta yang sangat signifikan ditunjukkan Nikolas ketika menghadiri Konsili Nicea pada tahun 325 dan ikut serta dalam mengutuk bidat Arianisme yang menyangkal keillahian Yesus Kristus. Bersama para Hierark Kudus Sylvester dari Roma, Aleksander dari Aleksandria, Spyridon dari Trimiphuntum, dan yang lainnya, ia berdiri menghadapi Arius. Dalam semangat kecamannya dan berapi-api dengan cemburu bagi Tuhan, Nikholas melayangkan sebuah pukulan di wajah Arius. Akibat tindakannya tersebut, ia sempat diusir dari konsili ini, Omophorionnya dilucuti dan ia ditahan.

Beberapa bapa kudus menerima Wahyu bahwa Tuhan Yesus Kristus telah mengaruniakan Injil Kudus, dan Theotokos telah memberikan Omophorion kepada Nikholas. Sinode memuliakan Allah dan memulihkannya kepada martabat keuskupan.

Keteguhan Nikolas untuk menjaga ajaran yang benar sungguh patut dihargai. Berkat keteguhannya, Myra menjadi wilayah yang aman dari ajaran-ajaran yang menyesatkan. Bahkan ketika Constantius (berkuasa 337 — 361) menjadi kaisar dan menganut arianisme, pengaruh Nikolas yang notabene merupakan penentang keras arianisme tidak bisa digeser dari Myra.

Dalam kehidupannya ia dikenal sangat dermawan, suka memberi dan menyukai anak-anak. Setelah ia meninggal pada pertengahan abad ke-4 M, kisah perbuatan baik mengenai Js. Nikolas berkembang. Kisah yang paling terkenal adalah mengenai 3 anak gadis. Ceritanya, ada seorang bapak dengan 3 anak gadisnya. Keluarga itu hidup dalam kemisikinan yang hebat sehingga sang bapak terpaksa mengambil keputusan untuk menjual anak-anaknya sebagai budak ke tempat pelacuran untuk menghidupi keluarganya. Js. Nikolas mengetahui hal ini dan memutuskan untuk menolong mereka. Pada malam hari ia mendatangi rumah keluarga itu dan melemparkan sekantung emas melalui jendela. Kantung itu masuk ke dalam kaus kaki yang sedang dikeringkan di dekat pendiangan milik mereka. Karena ‘hadiah’ itu, anak-anak gadis itu selamatlah dari lembah dosa. Mereka kemudian dapat menikah secara terhormat. Legenda tersebut berkembang menjadi tradisi memberikan hadiah dan menggantungkan kaus kaki di dekat pendiangan.

Versi lain dari kisah yang lebih lengkap adalah sebagai berikut. Sifat welas asih Nikolas tak pelak menjadi legenda dan salah satunya yang terkenal, yaitu kisah seorang ayah dan tiga anak perempuannya yang hidup dalam kemiskinan. Demi menyambung hidup, tiada jalan keluar bagi ayah tersebut selain melepas ketiga putrinya sebagai pengantin. Masalahnya, mereka tidak punya harta yang berharga sebagai mas kawin untuk memikat mempelai laki-laki. Menurut tradisi setempat, semakin berharga mas kawin yang disediakan, makin besar peluang untuk dipersunting laki-laki dari kaum berada. Keajaiban terjadi di tengah kegundahan ayah tersebut, yang berencana melacurkan ketiga putrinya demi mendapatkan mas kawin. Tiga malam berturut-turut sekantung emas dilemparkan ke dalam rumah keluarga tersebut sebagai pengganti mas kawin. Pada malam ketiga, ayah ketiga putri tersebut mengintip untuk mencari tahu siapa yang melempar kantung-kantung emas itu. Keesokan harinya dia tidak segan-segan untuk mengabarkan ke penjuru Kota Myra bahwa Nikolas-lah yang memberikan kebaikan kepada mereka. Kisah tersebut akhirnya memunculkan tradisi di negara-negara Barat bahwa menjelang hari Natal anak-anak membantu orang tua mereka memasang beberapa kantung atau kaus kaki panjang di dekat Pohon Terang. Siapa tahu Sinterklas akan menaruh hadiah di kantung-kantung tersebut pada suatu malam. Selain itu ada juga cerita bahwa yang dilempar Nikolas kepada rumah keluarga miskin tersebut bukanlah tiga kantung emas melainkan bola-bola emas. Itulah sebabnya Sinterklas juga disimbolkan dengan tiga bola emas, yang bisa juga diganti dengan jeruk.

Disebutkan juga saat Nikolas ke tanah suci, kapalnya dilanda angin ribut, salah satu dari tiang layarnya patah dan menimpa kepala seorang kelasi hingga mengakibatkan kematiannya. Dengan doa Nikolas akhirnya angin ribut reda, bahkan ia bisa “menghidupkan” kembali kelasi yang telah meninggal itu. Sejak saat itulah ia dikenal sebagai Janasuci (Saint/Santo) atau orang kudus pelindung dari para pelaut dan semua kapal dagang. Janasuci Nikolas dikenal di mana-mana. Ia termasuk orang kudus yang paling populer, sehingga dijadikan pelindung banyak kota, propinsi, keuskupan dan gereja. Kepercayaan tersebut semakin besar dan kuat sehingga Nikolas sudah dianggap sebagai wakil Tuhan untuk melindungi mereka oleh para pelaut Yunani maupun Italia. Di kalangan Gereja Timur, ia dihormati sebagai pelindung para pelaut; sedangkan di Gereja Barat, ia dihormati sebagai pelindung anak-anak, dan pembantu para gadis miskin yang tidak mampu menyelenggarakan perkawinannya.

Kisah selanjutnya menceritakan bagaimana Js. Nikolas ikut campur tangan demi membebaskan tiga orang tak bersalah yang dijatuhi hukuman mati oleh seorang gubernur yang korup bernama Eustathius, yang ditentang oleh St Nikolas dan digerakkan pada pertobatan.

Cerita yang lain berkaitan dengan kelaparan hebat yang dialami umatnya. Sewaktu Asia Kecil dilanda paceklik yang hebat, Nikolas mondar-mandir ke daerah-daerah lain untuk minta bantuan bagi umatnya. Ia kembali dengan sebuah kapal yang sarat dengan muatan gandum dan buah-buahan. Namun, tanpa sepengetahuannya, beberapa iblis hitam bersembunyi dalam kantong-kantong gandum itu. Segera Nikolas membuat tanda salib atas kantong-kantong itu dan seketika itu juga setan-setan hitam itu berbalik menjadi pembantunya yang setia.

Saat kota Myra dilanda kelaparan yang mengerikan, Nikholas menampakkan diri dalam mimpi kepada seorang saudagar Italia dan memberinya jaminan tiga keping uang emas, yang didapatinya di tangannya ketika ia bangun keesokan paginya. Nikholas memintanya berlayar untuk membawa gandum ke Myra.

Uskup Nikholas wafat dalam damai kepada Tuhan pada usia tuanya. Reliknya yang Terhormat dan Tanpa-Binasa, yang disimpan di Gereja Tahta Keuskupan, mengalirkan Narwastu yang membawa kesembuhan.

Nikolas diangkat sebagai salah satu orang kudus. Penghormatan ini tampaknya dilakukan lebih awal. Justinian I, Kaisar Romawi Timur yang memberi penghormatan tersebut kepada Nikolas. Ia membangun sebuah bangunan gereja di ibukota Romawi Timur – Byzantium waktu itu, Konstantinopel. Js. Yohanes Krisostomus (347 – 407) memasukkan namanya dalam liturgi. Pada abad kesepuluh, seorang penulis anonim Yunani menulis, “Baik Barat maupun Timur memuji dan memuliakan dia. Di manapun orang berada, di desa dan di kota, di dusun dan di pulau-pulau, di belahan-belahan bumi yang paling jauh sekalipun, namanya dihormati dan gereja-gereja didirikan demi menghormatinya. Segenap umat Kristiani, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, pula anak-anak, menghormati kenangan akan dia dan berseru mohon perlindungannya.”

Karena kebaikan Js. Nikolas, ia diagungkan oleh gereja-gereja pada saat itu. Salah satu contoh yang bisa kita lihat adalah gereja yang dibangun Kaisar Justinian bagi Js. Nikolas sekitar tahun 540 di Konstantinopel. Banyak negara yang mengangkat Js. Nikolas sebagai santo pelindung bagi negara tersebut. Ketika ia meninggal, Nikolas dikuburkan di katedral kota Myra. Tapi pada abad ke-11, kuburan Js. Nikolas digali dan diangkut oleh para pedagang dari Italia dan dipindahkan ke Bari di Italia. Di Bari sebuah gereja dibangun bagi Js. Nikolas. Banyak orang datang ke sana untuk berziarah.

Sayang, kepicikan kalangan rohaniwan Kristen Eropa di abad pertengahan membuat jasad Js. Nikolas tidak dapat beristirahat dengan tenang dan diperlakukan sebagai barang dagangan karena dianggap benda keramat untuk menarik minat banyak peziarah sehingga mendatangkan keuntungan bagi tempat ibadah dan kota setempat. Menurut data dari The Sunday Times Magazine, konon beberapa gereja memiliki potongan tulang belulang Js. Nikolas. Tiga gereja di Prancis mengklaim memiliki beberapa tulang Js. Nikolas, seperti di gereja di Toulouse yang menyimpan tulang jari, gereja di Rimini yang mengoleksi tulang lengan, sedangkan di Corbie menyimpan potongan gigi. Namun yang paling terkenal adalah gereja di Bari yang menyimpan tengkorak Js. Nikolas hasil curian dari kuburan di gereja di Turki.

Setelah Seljuk Moslem menyerbu Asia Kecil dan menyerang kekristenan, tubuh Js. Nikolas diselamatkan oleh para saudagar Italia dari pencemaran pada tahun 1087 dan dimakamkan kembali di sebuah gereja baru di Bari, Italia. Pada awal bulan Mei 1087, sekelompok tentara bayaran dan pelaut Kristen asal kota Bari, Italia, berhasil menyelinap ke kota pelabuhan Myra di sebelah selatan Turki menuju ke suatu biara. Di biara tersebut, konon mereka berhasil mencuri tulang belulang Js. Nikolas. Pencurian tersebut sampai kini tetap dikenang melalui prosesi tahunan yang dilakukan setiap tanggal 6 Mei di lepas pantai Bari.

Paus Urbanus II yang Terberkati (Otto diLagery) (sekitar tahun 1087 – 1099; orang Perancis), seorang pembela iman Gereja Latin Roma yang gigih dan seorang penganjur perang salib, memberkati makam baru tersebut dengan upacara meriah. Sejak saat itu, devosi kepada Js. Nikolas meningkat di seluruh wilayah Barat. Sebagai misal, lebih dari 400 gereja di Inggris didedikasikan kepadanya. Beberapa waktu lamanya dalam Abad Pertengahan, makamnya menjadi tempat ziarah yang paling banyak dikunjungi para peziarah dari seluruh Eropa.

Gereja San Nicola, Bari, yang menyimpan tulang-belulang curian tersebut kini menjadi salah satu tempat ziarah paling favorit di Eropa. Menurut pakar sejarah teologi dari Universitas Oxford, Pendeta Alister McGrath, Professor Theologi, Ministri and Pendidikan, dan Kepala dari Pusat Theologi, Agama dan Kebudayaan di King’s College, London, kepemilikan tulang-belulang Js.Nikolas di beberapa gereja terkait dengan pemahaman bahwa kepemilikan benda-benda keramat erat kaitannya dengan doktrin kekuasaan gereja di abad pertengahan. ”Makin banyak benda keramat yang disimpan di suatu gereja, makin besar pula dominasi gereja tersebut di tengah banyaknya tempat ibadah. Ziarah mendatangkan bisnis dan kepemilikan benda-benda keramat dari orang suci menarik banyak turis,” kata McGrath. Yang menarik, karena aroma dupa yang tercium di sekitar makamnya, segera saja ia dikenal sebagai santo pelindung dari para pengusaha wangi-wangian.

Gereja sempat melarang tradisi memuja orang-orang suci, lebih mendorong untuk memusatkan diri pada Kristus saja sebagai pemberi keselamatan dengan memperingati hari kelahirannya pada 25 Desember. Perayaan Js. Nikolas pun ditiadakan. Tetapi tradisi perayaan Js. Nikolas tidak bisa dihapus dengan mudah. Tradisi itu bukannya hilang tetapi malah menempel pada hari Natal tersebut, dan diteruskan pada masa-masa berikutnya. Perayaan Js. Nikolas dirayakan pada malam Natal.

Dengan popularitas seperti ini, legenda tentang Nikolas tercampur dengan lainnya dengan tak terelakkan. Di negara-negara Jerman, kadang-kadang sulit untuk mengatakan di mana legenda tentang Nikolas mulai dan legenda tentang Woden (atau Odin – dewa-dewa di negara-negara Jerman) selesai. Suatu ketika dalam perjalanan, mungkin karena dihubungkan dengan kisah Nikolas memberikan emas, orang-orang mulai memberikan kado/hadiah atas namanya pada hari perayaannya.

Cerita tentang tertolongnya ketiga puteri di atas melahirkan tradisi yang melukiskan Janasuci Nikolas sebagai penyayang anak-anak. Salah satu tradisi yang paling populer ialah tradisi pembagian hadiah kepada anak-anak pada waktu Pesta Natal oleh orangtuanya melalui ‘Sinterklas’. Tradisi ini diperkenalkan kepada umat Kristen Amerika oleh orang-orang Belanda Protestan, yang menobatkan Santo Nikolas sebagai tukang sulap bernama Santa Claus. “Sinterklas”, yaitu hari pembagian hadiah kepada anak-anak yang dilakukan oleh seorang berpakaian uskup yang menguji pengetahuan agama anak-anak, tetapi ia membawa serta hamba hitam yang menghukum anak-anak nakal.

Ketika Reformasi Protestan datang, para pendevosi Nikolas menghilang di semua negara-negara Protestan kecuali Holland (Belanda), dimana legenda Nikolas berlanjut sebagai Sinterklas. Martin Luther, sebagai contoh, menggantikan pembawa hadiah (Nikolas) ini dengan Kristus kecil, dalam bahasa Jerman, Christkindl. Setelah bertahun-tahun lewat, nama Christkindl tersebut diucapkan ulang menjadi Kriss Kringle, dan ironisnya sekarang dipertimbangkan sebagai nama lain dari Santa Claus.

Kemungkinan besar, karena gereja-gereja Protestan tidak mempunyai devosi kepada santo-santa, makanya devosi pada Santo Nikolas diganti dengan Kristus kecil/ anak-anak. Mungkin karena Indonesia dijajah oleh Belanda, maka nama sebutan yang dipakai di Indonesia sampai sekarang adalah Sinterklas, bukan Santa Claus seperti di Amerika.

Seperti yang pernah diberitakan harian ”The Sunday Times”, para ilmuwan telah merampungkan rekonstruksi wajah ”Sinterklas” yang sebenarnya. Dengan memanfaatkan kecanggihan komputer seorang antropolog dari Universitas Manchester, Caroline Wilkinson, menyajikan wajah St.Nikolas dalam bentuk tiga dimensi. Perupaan tersebut bersumber dari penelitian tulang tengkorak Js. Nikolas yang dilakukan atas seizin Gereja Vatikan di Gereja San Nicola, Bari, Italia, pada dekade 1950-an. Hasilnya sungguh berbeda dari rupa Sinterklas yang sering kita saksikan melalui berbagai iklan dan kartu ucapan. Wajah Js. Nikolas yang sebenarnya, menurut versi komputer, merupakan seorang pria berewok berhidung patah berusia 60-an tahun yang sepintas lebih mirip seorang kriminal ketimbang seorang kakek yang lucu.

Sampai saat ini, Js. Nikolas adalah seorang dari santo-santa yang paling populer di Gereja-Gereja Orthodox Yunani (Byzantin), Gereja Orthodox Rusia, Gereja-Gereja Orthodox lain, Gereja-Gereja Uniat (Katolik Timur), Gereja Latin Roma Katolik, maupun berbagai gereja Protestan seperti gereja Anglikan dan Lutheran masih menghormati Js. Nikolas. Js. Nikolas adalah santo nasional Rusia. Gereja Orthodox Rusia, Gereja-Gereja Orthodox Slavonik dan beberapa Gereja Orthodox lainnya merayakan pesta Js. Nikolas Sang Pelaku Mukjizat, Uskup Agung Myra di Lycia pada tanggal 19 Desember menurut kalender lama Yulianus. Sedang Gereja Orthodox Yunani, Gereja-Gereja Uniat (Katolik Timur) dan Gereja Roma Katolik merayakannya pada tanggal 6 Desember menurut kalender baru Gregorian.

“Js. Nikolas Sang Pelaku Mukjizat doakanlah kami yang berjalan dengan iman bersamamu. Amin!“


Troparion Irama IV


‘Kebenaran menyatakanmu kepada umat gembalaanmu sebagai Aturan Iman, Teladan Kelemah-lembutan dan Pengajar Penguasaan Diri, karenanya engkau telah mencapai peninggian melalui kerendahan hati dan kekayaan melalui kemiskinan. Ya Hierark Nikholas Bapa kami, mohonkanlah Kristus Allah agar jiwa kami diselamatkan’


Kontakion Irama III


‘Di Myra engkau telah dinyatakan sebagai seorang Pengerja Rahasia-Rahasia Kudus, ya Yang Kudus, sebab, memenuhi Injil Kristus, engkau telah menyerahkan nyawamu bagi umatmu, ya Yang Terhormat, dan telah menyelamatkan mereka yang tidak berdosa dari maut. Karenanya, engkau telah dikuduskan sebagai seorang Murid Agung Rahmat Allah’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *