JanuariSynaxarion

Hierark Kudus Basil Agung Dari Kaisarea [379]

Diperingati Gereja Orthodox pada 14 Januari (Kalender Sipil) / 01 Januari (Kalender Gereja Purba)

Hierark Kudus Basil Agung lahir pada tahun 329 di Kaisarea di Kapadokia dalam keluarga yang termahsyur akan pengetahuan dan Kekudusan. Orang tuanya adalah Basil Tua dan Emilia. Ayahnya adalah seorang pengacara dan ahli retorika terkenal yang tinggal di Kaisarea. Kakek dan neneknya dari pihak ayahnya harus bersembunyi di hutan Pontus selama tujuh tahun selama penganiayaan di bawah Kaisar Diokletian. Ibu Jana Suci Basilius yang bernama Jana Suci Emilia adalah putri seorang martir. Pada kalender Yunani, dia diperingati pada tanggal 30 Mei sedangkan neneknya adalah Makrina.

Sepuluh anak dilahirkan dari Basilius tua dan Emilia: lima putra dan lima anak perempuan. Lima di antaranya kemudian terhitung di antara orang-orang kudus: Js. Basilius Agung; Js. Makrina (1 Agustus/19 Juli) yang menjadi teladan bagi Js. Basilius Agung dalam kehidupan mati raga dan memberi pengaruh kuat pada kehidupan dan karakter Jana Suci Basilius Agung; Js. Gregorius Uskup Nyssa (23/10 Januari); Js. Petrus Uskup Sebaste (22/9 Januari); dan Js. Theosebia diaken (23/10 Januari).

Jana Suci Basilius Agung, Uskup Agung Kaisarea di Kapadokia, “bukan hanya milik Gereja Kaisarea saja, juga bukan milik pada zamannya saja, juga bukan hanya bermanfaat bagi sanak saudara sebangsanya saja, melainkan juga untuk semua wilayah dan kota di seluruh dunia, dan juga bermanfaat bagi orang jaman dulu maupun jaman ini, dan juga untuk orang Kristen dia selalu dan akan menjadi guru yang paling baik. “Demikianlah Jana Suci Amphilochius Uskup Iconium berbicara mengenai Jana Suci Basilius


Jana Suci Basilius menghabiskan tahun-tahun pertama hidupnya di sebuah perkebunan milik orang tuanya di Sungai Iris, di mana dia dibesarkan di bawah pengawasan ibunya Emilia dan neneknya Makrina. Mereka adalah perempuan pendidik yang sangat luar biasa, yang diingat oleh uskup Kappadokia sebelumnya, Jana Suci Gregorius Pelaku Mujizat (30/17 November). Basilius menerima pendidikan awalnya di bawah pengawasan ayahnya, dan kemudian dia belajar di bawah guru terbaik di Kaisarea Kappadokia, dan di sinilah dia berkenalan dengan Jana Suci Gregorius Pakar Theologi (25 Januari dan 30 Januari).

Kemudian, Basilius dipindahkan ke sebuah sekolah di Konstantinopel, di sana dia belajar dari orator dan filsuf terkemuka. Untuk melengkapi pendidikannya Jana Suci Basiius pergi ke Athena, pusat pendidikan klasik. Setelah empat atau lima tahun tinggal di Athena, Basilius telah menguasai semua disiplin ilmu yang ada. “Dia mempelajari semuanya dengan seksama, lebih dari yang lain biasa mempelajari satu subjek. Dia mempelajari setiap ilmu dengan totalitas, seolah-olah dia tidak akan mempelajari yang lain. “Filsuf, orolog, orator, ahli hukum, naturalis, memiliki pengetahuan mendalam tentang astronomi, matematika dan kedokteran,” dia ibarat sebuah kapal yang sarat dengan pengetahuan, Sejauh yang diizinkan oleh sifat dan kemampuan manusia.

Di Athena persahabatan yang erat berkembang antara Basilius Agung dan Gregorius Pakar Theologi dari Nazianzus, yang berlanjut sepanjang hidup mereka. Sebenarnya, mereka menganggap diri mereka sebagai satu jiwa dalam dua tubuh. Kemudian, dalam sanjungannya untuk Basilius Agung, Jana Suci Gregorius Pakar Theolog berbicara dengan gembira tentang masa masa itu: “Berbagai harapan telah menuntun kita, dan memang tak dapat dihindari bahwa dalam belajar … ada dua jalan terbuka di hadapan kita: yang satu ke bait suci kita dan para guru di dalamnya; Yang lain menuju pendidik yang menyimpang dari disiplin dan kebenaran “

Sekitar tahun 357, Jana Suci Basilius kembali ke Kaisarea, di mana untuk sementara dia mengabdikan dirinya untuk retorika. Tapi segera, menolak tawaran dari warga Kaesarea yang ingin mempercayakannya untuk mendidik keturunan mereka. Melalui pengaruh baik saudarinya, ia memilih hidup Pertapaan, dan meninggalkan jalan hidup duniawi.

Setelah kematian suaminya, ibu Emilia, anak perempuan tertuanya Makrina, dan beberapa pelayan wanita mengundurkan diri ke rumah keluarga di Iris dan di sana mulai menjalani kehidupan pertapaan. Basilius dibaptis oleh Dianios, Uskup Kaisarea, dan ditahbiskan sebagai Reader. Saat itulah dia pertama kali membaca Kitab Suci kepada orang-orang, lalu menjelaskannya.

Kemudian didorong “keinginan mendapatkan panduan untuk mengetahui kebenaran lebih dalam lagi”, orang suci ini melakukan perjalanan ke Mesir, Suriah dan Palestina, untuk menemui pertapa Kristen besar yang tinggal di sana. Saat kembali ke Kapadokia, dia memutuskan untuk melakukan apa yang mereka lakukan. Dia membagikan kekayaannya kepada yang membutuhkan, lalu menetap di seberang sungai tidak jauh dari ibunya Emilia dan saudara perempuannya Makrina, dan berkumpul di sekelilingnya para biarawan menjalani kehidupan senobit (biara).

Dengan surat-suratnya, Basilius mengundang teman baiknya Gregorius Pakar Theologi ke biaranya. Jana Suci Basilius dan Gregorius bekerja keras di tempat tinggal mereka, yang tidak memiliki atap atau perapian, dan makanannya sangat sederhana. Mereka sendiri membersihkan batu-batu untuk membuat lahan, menanam dan menyirami pepohonan, dan tidak canggung membawa beban berat. Tangan mereka terus-menerus bekerja keras. Untuk pakaian, Basilius hanya memiliki jubah dan mantel monastik. Dia memakai pakaian dari bulu tapi hanya di malam hari.

Dalam kesendirian mereka, Jana Suci Basilius dan Gregorius sibuk mempelajari Kitab Suci secara intensif. Mereka dipandu oleh tulisan-tulisan para Bapa Gereja dan penafsir Kitab Suci masa lalu, terutama tulisan-tulisan Origen yang bagus. Dari semua karya ini mereka mengumpulkan antologi yang disebut Philokalia. Juga saat itu atas permintaan para rahib, Jana Suci Basilius menuliskan sebuah kumpulan peraturan untuk kehidupan kesalehan Pertapaan. Dengan khotbah dan teladannya, Jana Suci Basilius membantu pertumbuhan rohani orang-orang Kristen di Kapadokia dan Pontus; Dan banyak orang berpaling kepadanya. Kemudian Biara-biara diorganisir untuk pria dan wanita, di mana tempat Basilius berusaha menggabungkan gaya hidup senobitik (kumpulan atau bersama-sama) dengan pertapa soliter atau penyendiri.

Pada masa Konstantius (337-361) ajaran bidat Arius menyebar, dan Gereja memanggil kedua orang kudus ini untuk melayani. Jana Suci Basilius kembali ke Kaisarea. Pada tahun 362 dia ditahbiskan menjadi diakon oleh Uskup Meletius dari Antiokhia. Pada tahun 364 dia ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Eusebius dari Kaisarea. “Tapi melihat seperti yang disampaikan oleh Js. Gregorius Pakar Theologi, “bahwa setiap orang sangat memuji dan menghormati Basilius karena kebijaksanaan dan keutamaannya, Eusebius, karena kelemahan kemanusiaanya, menyerah pada kecemburuannya, dan mulai menunjukkan ketidaksukaan kepadanya.” Para rahib bangkit membela Jana Suci Basilius. Agar tidak menyebabkan perselisihan Gereja, Basilius mengundurkan diri ke biaranya sendiri dan memfokuskan dirinya sendiri dalam pengorganisasian biara.

Dengan datangnya kekuasaan kaisar Valens (364-378), yang merupakan penganut tegas Arianisme, saat permasalahan mulai terjadi pada Orthodoxi, dimulailah perjuangan besar. Jana Suci Basilius buru-buru kembali ke Kaisarea atas permintaan Uskup Eusebius. Mengutip kata-kata Gregorius Pakar Theologi, Jana Suci Basilius bagi Uskup Eusebius menjadi “seorang penasihat yang baik, wakil yang benar, seorang yang mampu menguraikan Firman Tuhan, penolong bagi orang tua, pendukung setia dalam masalah internal, dan seorang aktivis dalam urusan eksternal.

Sejak saat ini pemerintahan gereja beralih ke Basilius, meskipun ia berada di bawah hierarki. Dia berkhotbah setiap hari, dan sering dua kali, di pagi hari dan di malam hari. Selama masa ini Jana Suci Basilius menyusun Liturginya. Dia menulis sebuah karya “Saat Enam Hari Penciptaan” (Hexaemeron) dan yang lainnya mengenai Nabi Yesaya di enam belas pasal, satu lagi mengenai Mazmur, dan juga kompilasi kedua mengenai peraturan monastik. Jana Suci Basilius juga menulis tiga buku “Melawan Eunomius,” seorang guru Arian yang dengan bantuan konsep Aristoteles, telah menghadirkan dogma Arian dalam bentuk filosofis, mengubah ajaran Kristen menjadi skema dan konsep rasional.

Jana Suci Gregorius Pakar Theologi, yang berbicara banyak tentang aktivitas Basilius Agung selama periode ini, menunjuk pada “perhatiannya kepada orang-orang miskin dan orang asing, bimbingannya kepada para biarawati, peraturan monastik tertulis dan tidak tertulis untuk para rahib, pengaturan doa-doa [ Liturgi], pengaturan altar dan hal-hal lain yang sangat penting.

Pada sekitar tahun 370, ketika Uskup di negerinya wafat, ia dipilih meneruskan Tahtanya. Jana Suci Basilius Agung adalah yang terbaru dari lima puluh Uskup di sebelas provinsi. Jana Suci Athanasius Agung (15/2 Mei), dengan sukacita dan dengan ucapan terima kasih kepada Tuhan menyambut baik pengangkatan Js. Basilius sebagai uskup Kapadokia, yang terkenal karena sangat dihormati, pengetahuan mendalam tentang Kitab Suci, seorang pembelajar, dan upayanya untuk kesejahteraan Gereja untuk kedamaian dan persatuan.

Ia memelihara umatnya dan membela Iman Rasuli selama delapan tahun. Di bawah penguasa Valens, yang tampak mata memerintah Gereja adalah anggota kaum Arian, yang memiliki berbagai pendapat mengenai keilahian Anak Allah yang terbagi menjadi beberapa kelompok. Sengketa dogmatis ini berkaitan dengan pertanyaan tentang Roh Kudus. Dalam bukunya Melawan Eunomios, Jana Suci Basilius Agung mengajarkan keilahian Roh Kudus dan kesetaraan-Nya dengan Bapa dan Putra. Selanjutnya, untuk memberikan penjelasan lengkap tentang ajaran Orthodox tentang pertanyaan ini, Jana Suci Basilius menulis bukunya mengenai Roh Kudus atas permintaan Jana Suci Amphilochius, Uskup Ikonium.

Kesulitan Jana Suci Basilius diperparah oleh berbagai keadaan: Kapadokia terbagi dua di bawah penataan ulang distrik provinsi. Kemudian di Antiokhia terjadi perpecahan, karena adanya pentahbisan seorang uskup kedua. Ada sikap negatif dan angkuh para uskup Barat terhadap usaha untuk menarik mereka ke dalam perjuangan melawan kaum Arian. Dan ada juga terpisahnya Eustathius Sebaste ke sisi Arian. Padahal Basilius telah terhubung dengannya dengan ikatan persahabatan yang erat. Di tengah bahaya yang terus-menerus, Jana Suci Basilius selalu memberi semangat kepada kaum Orthodox, menguatkan mereka di dalam Iman, mendorong mereka untuk memiliki keberanian dan ketekunan. Uskup suci ini menulis banyak surat kepada gereja-gereja, kepada para uskup, imam dan perorangan. Mengatasi para bidat “dengan senjata dari mulutnya, dan dengan panah huruf-hurufnya,” sebagai pejuang Orthodoxi yang tak kenal lelah, Jana Suci Basilius menantang permusuhan dan intrik para bidat Arian sepanjang hidupnya. Dia telah disamakan dengan seekor lebah yang menyengat musuh-musuh Gereja, namun memberi makan ternaknya dengan madu manis ajarannya.

Kaisar Valens, dan Epark wilayah Timur, pengikut-pengikut Arius, mengancam Uskup Basil dengan siksaan dan pengasingan. Basil menghadap mereka dan menyatakan kerelaannya menanggung derita bagi Kristus. Jana Suci Basilius berkata, “Jika engkau mengambil barang-barangku, engkau tidak akan menjadi kaya, dan engkau juga tidak akan membuatku menjadi orang miskin. Engkau tidak membutuhkan pakaian usangku, atau beberapa bukuku, hanya itu semua kekayaanku. Pengasingan tidak berarti apa-apa bagiku, karena aku tidak terikat pada tempat tertentu. Tempat di mana aku sekarang tinggal bukan milikku dan tempat yang engkau kirimkan kepadaku akan menjadi milikku. Lebih baik mengatakan: setiap tempat adalah milik Allah. Di mana aku bukan orang asing dan pendatang (Maz 38/39: 13)? Siapakah yang bisa menyiksaku? Aku sangat lemah, pukulan pertama bisa membuatku pingsan. Kematian akan menjadi kebaikan bagiku, karena ini akan membawa aku lebih cepat lagi kepada Allah, karena untukNya aku hidup dan bekerja dan kepadanya aku bergegas.

Modestus yang takjub berkata bahwa tidak pernah ada orang yang berbicara seperti itu kepadanya. ‘Mungkin,’ jawab Basil, “engkau belum pernah bertemu dengan seorang Uskup. Dalam segala hal, kami lemah lembut, orang yang paling rendah hati. Tapi ketika menyangkut Allah, dan orang-orang bangkit melawan Allah, maka kami, menghitung segala sesuatu sebagai sesuatu yang tidak ada, hanya memandang kepada-Nya saja. Maka api, pedang, binatang buas dan batang besi yang merobek tubuh, akan berfungsi untuk mengisi kami dengan sukacita, bukan ketakutan. “

Kaisar Valens sendiri hampir dimenangkan oleh martabat dan hikmat Uskup Basil. Ketika anak lelaki Valens jatuh sakit parah, ia meminta Basil berdoa baginya. Basil berjanji bahwa anaknya akan pulih apabila Valens setuju agar ia dibaptis oleh Gereja Orthodox. Setelah anak itu disembuhkan oleh doa Basil, Valens menyerahkan anak itu dibaptis oleh kaum Arius, dan anak itu segera mati.

Kemudian, Valens, dibujuk oleh penasihat-penasihatnya, memutuskan untuk mengirim Basil ke pengasingan sebab ia tidak bersedia menerima kaum Arius dalam Persekutuan, namun penanya patah ketika ia sedang menanda-tangani ketetapan pengasingan. Ia mencoba kedua kalinya dan ketiga kalinya, namun hal yang sama terjadi, sehingga, dengan dirasuki rasa ngeri, Kaisar merobek surat itu, dan Uskup Basil tidak diasingkan.


Jana Suci Basiius merayakan Liturgi di gereja hampir setiap hari. Dia sangat peduli dengan pemenuhan secara ketat Kanon Gereja, dan memelihara bahwa hanya individu yang layak yang bisa masuk ke dalam jenjang keimaman. Dia terus-menerus menjalankan gerejanya sendiri, supaya jangan sampai ada pelanggaran disiplin Gereja, dan dengan tegas memperbaiki hal hal yang tidak layak. Di Kaisarea, Jana Suci Basilius membangun dua biara, yaitu biara pria dan wanita, dengan sebuah gereja untuk menghormati Empat Puluh Martir (22/9 Maret) yang reliknya dikuburkan di sana. Mengikuti contoh para rahib, imam agung, bahkan diaken dan imam hidup dalam kemiskinan yang luar biasa, untuk bekerja keras dan menjalani kehidupan yang baik dan saleh. Karena sebagai seorang Imam Jana Suci Basilius memperoleh pengecualian dari perpajakan. Dia menggunakan semua kekayaan pribadinya dan penghasilan dari gerejanya untuk kepentingan orang miskin; Di setiap pusat keuskupannya ia membangun rumah miskin; Dan di Kaisarea, sebuah rumah bagi para pengembara dan tunawisma.

Hierark Kudus Basil Agung, setelah capai oleh Pertapaan yang keras dan kerja terus-menerus dalam memimpin Gereja, pergi kepada Tuhan pada tanggal 1 Januari, pada tahun 379, pada usia empat-puluh sembilan tahun.

Setelah wafatnya Jana Suci Basilius, Gereja segera mulai merayakan peringatannya. Jana Suci Amphilochius, Uskup Ikonium (6 Desember/23 November), dalam kotbahnya mengenai Jana Suci Basilius Agung, mengatakan: “Bukan tanpa alasan atau kebetulan bahwa Basillius Kudus telah mengambil cuti dari tubuh dan telah beristirahat dari dunia kepada Allah pada Hari Penyunatan Yesus, yang dirayakan antara hari Kelahiran dan hari Pembaptisan Kristus. Oleh karena itu, orang yang diberkati ini, berkhotbah dan memuji Kelahiran dan Pembaptisan Kristus, memuji penyunatan rohani, dirinya sendiri yang meninggalkan daging, sekarang naik ke Kristus pada hari yang suci mengingat Penyunatan Kristus. Oleh karena itu, peristiwa ini agar dirayakan setiap tahunnya untuk menghormati kenangan akan Js. Basilius Agung secara meriah dan dengan sungguh-sungguh.

Jana Suci Basilius juga disebut “Penyingkap Misteri Surgawi” (Ouranophantor), “bintang yang terang benderang,” serta “kemuliaan dan keindahan Gereja.” Relik kepalanya yang terhormat ada di Lavra Agung di Gunung Athos.

Di beberapa negara sudah menjadi kebiasaan untuk menyanyikan lagu-lagu pujian untuk menghormati Jana Suci Basilius. Dia diyakini mengunjungi rumah-rumah orang beriman, dan sebuah tempat disiapkan untuknya di sebuah meja. Orang-orang mengunjungi rumah teman dan kerabatnya, dan nyonya rumah memberi hadiah kecil untuk anak-anak. Roti khusus (Vasilopita) diberkati dan dibagikan setelah Liturgi. Koin perak dimasukkan di dalam roti Vasilopita dan dipanggang bersama dan siapa pun yang menerima potongan roti berisi koin tersebut akan dikatakan menerima berkat Jana Suci Basilius untuk tahun yang akan datang.

Basil Agung juga dirayakan bersama pada tanggal 30 Januari dengan Gregory Teolog dan Yohanes Krisostomos dalam Perayaan Ketiga Hierark Kudus.


Troparion Irama I


‘Suaramu telah sampai kepada seluruh bumi, yang telah menerima ucapanmu, yang dengannya engkau telah secara Ilahi mengajar dan menjelaskan kodrat segala sesuatu, dan telah menghiasi jalan-jalan anak-anak manusia. Ya Bapa yang Terhormat, engkau Imamat Rajani, mohonkanlah Kristus Allah, agar jiwa kami diselamatkan’


Kontakion Irama IV


‘Engkau telah dinyatakan sebagai Dasar Tak-Tergoncangkan Gereja, yang mengaruniakan atas semua manusia suatu Ketuanan yang tidak dapat diambil, dan memateraikan mereka dengan Ketetapan-Ketetapanmu, ya Basil yang Baru Diungkapkan dan Terhormat’

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *