Liturgi

Dua Mahkota Sembahyang: Petang dan Pagi

Artikel ditulis Sdr. Basilius dari Gereja Ortodoks St. Nikolas dari Myra, Surabaya

Dalam penciptaan langit dan bumi, sesuai apa yang dapat kita baca dalam kitab Taurat Musa, ada suatu pernyataan atau ungkapan yang dapat kita temukan hingga enam kali, yaitu: “Jadilah PETANG dan jadilah PAGI” (Kej. 1:5, 8, 13, 19, 23, 31). Penekanan petang dan pagi ini juga dilanjutkan dalam peribadatan agama Israel, seperti yang dapat kita baca dalam kitab Taurat yang sama:

“Di dalam Kemah Pertemuan (literal: Tabernakel) di depan tabir yang menutupi tabut hukum, haruslah Harun dan anak-anaknya mengaturnya DARI PETANG SAMPAI PAGI di hadapan Tuhan. Itulah suatu ketetapan yang berlaku untuk selama-lamanya bagi orang Israel turun-temurun.” (Keluaran 27:21, LAI 1974).

Perintah dalam Keluaran ini diulang kembali dalam Imamat:

“Harun harus tetap mengatur lampu-lampu (literal: kandil minyak) di depan tabir yang menutupi tabut hukum, di dalam Kemah Pertemuan (literal: Tabernakel), DARI PETANG SAMPAI PAGI, di hadapan Tuhan. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun.” (Imamat 24:3, LAI 1974)

Ketika kita membaca dengan teliti dalam kitab Kejadian, Keluaran dan Imamat ini, yang semuanya ditulis oleh nabi Musa, ada suatu ungkapan yang menarik, yaitu bahwa penyebutan waktu dalam konteks Semitik dimulai dari saat petang atau senja. Permulaan hari dalam konteks Israel adalah saat petang, ketika matahari terbenam.

Selanjutnya, dalam praktik ibadah Israel ini, sesuai yang kita baca, mereka menyalakan kandil minyak. Kandil minyak seperti apakah yang mereka nyalakan? Kita dapat melihat dalam Taurat Musa yang menjelaskan: “Haruslah kaubuat pada kandil itu TUJUH PELITA dan pelita-pelita itu haruslah dipasang di atas kandil itu, sehingga diterangi yang di depannya” (Keluaran 25:37, LAI 1974). Jadi kandil itu memiliki tujuh pelita, dan pembagian pelita itu dijelaskan juga di dalam perikop yang sama: “Enam cabang harus timbul dari sisinya: TIGA CABANG KANDIL ITU DARI SISI YANG SATU dan TIGA CABANG DARI SISI YANG LAIN.” (Keluaran 25:32, LAI 1974). Menariknya, bagaimana Musa mendapatkan model kandil ini, yang dalam bahasa Ibrani disebut menorah? Di perikop yang sama juga ditunjukkan kepada kita: “Dan ingatlah, bahwa engkau (Musa) membuat semuanya itu MENURUT CONTOH YANG TELAH DITUNJUKKAN KEPADAMU di atas gunung itu” (Keluaran 25:40, LAI 1974).

Ungkapan MENURUT CONTOH YANG TELAH DITUNJUKKAN KEPADAMU ini dijelaskan di dalam Surat Ibrani yang ditulis, atau setidak-tidaknya, pola pikir orang yang sangat mengetahui sistem keagamaan dan teologi agama Yahudi, yang tidak lain dan tidak bukan adalah penulis sebagian besar surat dalam Perjanjian Baru: St. Paulus dari Tarsus, seorang “mantan” rabbi Yahudi, kepercayaan imam besar Gamaliel, dimana Surat Ibrani menjelaskan bahwa: “Pelayanan (literal: penyembahan atau ibadah) mereka adalah GAMBARAN DAN BAYANGAN DARI APA YANG ADA DI SORGA, sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah (literal: Tabernakel)” (Ibrani 8:5, LAI 1974).

Mengenai bayangan apa yang ada di sorga, dalam penglihatan St. Yohanes Sang Teolog, rasul dan penulis kitab injil, ia memberikan kesaksian: “Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan TUJUH OBOR MENYALA-NYALA di hadapan takhta itu; itulah KETUJUH ROH ALLAH” (Wahyu 4:5, LAI 1974). Dari sini, kita dapat mengambil suatu hubungan yang jelas antara “ritual” peribadatan yang dilakukan orang Israel merupakan cerminan atau bayangan dari apa yang ada di sorga, dengan demikian orang Israel tidak melakukan sesuatu yang kosong dan tanpa makna. Apa yang mereka lakukan adalah “fotokopi” yang ada di sorga. Mereka tidak membuat sistem peribadatan buatan manusia, tetapi “MENURUT CONTOH YANG TELAH DITUNJUKKAN KEPADAMU” sebagai “GAMBARAN DAN BAYANGAN DARI APA YANG ADA DI SORGA.”

Secara sederhana, dalam kisah penciptaan, kita mengerti bahwa ada tujuh hari, enam hari Allah menciptakan dan satu hari Allah memberkati dan menguduskan hari ketujuh. Enam hari penciptaan Allah menjadikan segala sesuatunya “sangat baik” dan pada hari ketujuh Allah memberkati dan menguduskannya. Makna tujuh mengingatkan kepada kita bahwa segala sesuatu yang ada dalam ciptaan ini sangat baik dan sempurna, walaupun kesempurnaan dalam konteks ciptaan ini berbeda dengan kesempurnaan ilahi. Sedangkan dalam kitab Wahyu, tujuh obor yang merupakan pola dasar dari menorah sebagai “GAMBARAN DAN BAYANGAN DARI APA YANG ADA DI SORGA” menunjukkan KETUJUH ROH ALLAH. Ketujuh Roh Allah tidak menjelaskan bahwa Roh Allah ada tujuh jumlahnya, tetapi menjelaskan sifat bagaimana Ia adanya. Ketujuh Roh Allah menjelaskan bahwa Roh Allah ini ada dalam kesempurnaan ilahi bersama Allah, dalam lingkup ilahi. Pola kesempurnaan ilahi inilah yang menjadi “cermin” atau “fotokopi” ibadah yang ada di sorga dan pola seperti inilah yang Allah kehendaki bagi manusia untuk dilakukan. Jadi, sekarang kita tahu bahwa penggunaan kandil minyak yang jumlahnya tujuh, dengan tiga di sisi kiri dan tiga di sisi kanan, yang masih dipelihara oleh Gereja Timur adalah kelanjutan dari agama Yahudi yang dilakukan “MENURUT CONTOH YANG TELAH DITUNJUKKAN KEPADAMU” sebagai “GAMBARAN DAN BAYANGAN DARI APA YANG ADA DI SORGA.”

Selain penggunaan kandil ini, ada juga penggunaan ukupan atau pedupaan, dan sifat dari ukupan ini sama, bahwa Gereja Timur melanjutkan apa yang ada di dalam sistem peribadatan Israel yang dilakukan “MENURUT CONTOH YANG TELAH DITUNJUKKAN KEPADAMU” sebagai “GAMBARAN DAN BAYANGAN DARI APA YANG ADA DI SORGA.” Penggunaan dupa dalam Perjanjian Baru telah dinubuatkan dalam kitab Maleakhi 1:11, yang berbunyi:

“Sebab dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa (bangsa-bangsa lain yang bukan Yahudi), dan di setiap tempat (dupa) dibakar dan dipersembahkan korban bagi nama-Ku dan juga korban sajian yang tahir; sebab nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, firman TUHAN semesta alam.”

Sayang sekali dalam teks Masoret terjemahan bahasa Indonesia, kata “dupa” tidak dicantumkan, padahal dalam nats ini, baik dalam teks Septuaginta berbahasa Yunani maupun teks Masoret dalam bahasa Ibrani Rabbinik, kata dupa dicantumkan:

“διότι (dióti) ἀπ᾽ἀνατολῶν (ap᾽anatolón) ἡλίου (ilíou) ἕως δυσμῶν (éos dysmón) τὸ ὄνομά μου (tó ónomá mou) δεδόξασται (dedóxastai) ἐν τοῖς ἔθνεσιν (en toís éthnesin: bangsa-bangsa lain yang bukan Yahudi) καὶ (kaí) ἐν παντὶ (en pantí) τόπῳ (tópo) θυμίαμα (thymíama: dupa, pedupaan) προσάγεται (proságetai) τῷ ὀνόματί μου (tó onómatí mou) καὶ (kaí) θυσία (thysía) καθαρά (kathará) διότι (dióti) μέγα (méga) τὸ ὄνομά μου (tó ónomá mou) ἐν τοῖς ἔθνεσιν (en toís éthnesin) λέγει (légei) κύριος παντοκράτωρ (kýrios pantokrátor).” (Maleakhi 1:11, Septuaginta)

“Mizrakh shemesh mobo Shem gadol gowi (גּוֹי: bangsa-bangsa lain yang bukan Yahudi) maqom qatar (קָטַר: dupa, pedupaan) Shem tahor minkhah Shem gowi gadol ‘amar YHWH tsaba.” (Maleakhi 1:11, Masoret)

Menyaksikan keagungan dan kemuliaan Allah dalam ciptaan, yang kita ingat setiap hari, atas dasar inilah orang Israel melakukan sembah sujud dan menaikkan doa syukur mereka di hadapan Allah pada saat petang dan pagi. Hal yang sama pun dilanjutkan oleh Gereja, dalam pemaknaan yang lebih dalam tidak hanya sekedar menyaksikan keagungan dan kemuliaan Allah, tetapi dalam konteks Kristologis, iman di dalam Sang Mesias yang telah datang ke dalam dunia sesuai apa yang dinubuatkan oleh para nabi terdahulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *