Berkat Rohani

Berkat Harian Bapa Rohani, 7 Desember 2020

Shalom Alaikhem be Shem Ha Massiakh

Para Romo, Saudara-saudara dan Saudari-saudariku serta Anak-anak Rohaniku semuanya, adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk belajar oleh dirinya sendiri seni daripada kebajikan, meskipun sebagian orang telah menggunakan pengalaman mereka sendiri sebagai gurunya. Karena bertindak menurut kecenderungan perasaan dan pikiran sendiri, bukannya mengikuti wejangan dan nasihat dari mereka yang telah berhasil, menuntun pada menganggap diri sendiri terlalu tinggi. Karena jikalau:”Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya, sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yohanes 5:19), dan Roh Kudus itupun “tidak berkata-kata dari dirinya sendiri” (Yohanes 16:13), siapakah orangnya yang dapat mengira diri sendiri sudah dapat mencapai ketinggian kebajikan yang sedemikian sehingga ia tidak membutuhkan bimbingan seseorang ditengah-tengah ia menggeluti misteriNya Allah itu? Didalam anggapan diri yang sedemikian itu orang yang seperti ini lebih bisa dikatakan sebagai gila daripada memiliki kebajikan. Oleh karena itu orang harus mendengarkan mereka yang pada dirinya sendiri sakitnya dan kerasnya berusaha hidup dan berupaya dalam menghidupi kebajikan yang aktif, dan mempraktekkannya dibawah bimbingan sakit dan usaha keras itu, yaitu, kelaparan puasa, bertarak dengan rasa pahitnya, sembahyang tugur dengan mengurangi tidur diwaktu malam dengan penuh kesabaran, berlutut yang menyakitkan dalam menyembahNya, berdiri tegak dalam memusatkan pikiran pada Allah selama berdoa tanpa bergerak kesana-kemari kemari, berdoa secara konstan, kerendahan hati yang mengenal putus asa, penyesalan batin dan keluhan kesedihan karena dosa-dosa di dalam batin secara konstan, kesenyapan dari berkata-kata secara bijak dan penuh kesabaran dalam segala sesuatu. Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa kita akan:”makan roti yang diperoleh dengan susah payah” (Mazmur 127:2), dan juga :”Kerajaan sorga diserong (diusahakan dengan keras/ada usaha memaksa diri) dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya” (Matius 11:12). Jadi orang yang berjuang dan berusaha keras dengan segala upaya yang mungkin dilakukan setiap hari untuk menjalankan praktek ini, dengan pertolongan Allah melalui Kasih-KaruniaNya akan menuai buah-buah dari pekerjaan dan usaha kerasnya dalam melawan hawa nafsu dan keinginan dagingnya itu, pada waktu yang telah ditetapkan Allah. Kiranya Allah, Bapa kita, di dalam Nama FirmanNya yang telah menjadi Manusia, Tuhan kita Yesus Kristus, serta oleh Kuasa dari RohNya yang Kudus mengaruniakan kita semangat hari ini untuk berjuang keras berupaya mencapai kebajikan hidup melalui taat kepada wejangan dan nasihat dari bapa rohani yang membimbing kita. Amin.

Romo/Abuna Daniel Byantoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *