Berkat Rohani

Berkat Harian Bapa Rohani, 15 Desember 2020

Shalom Alaikhem be Shem Ha Massiakh

Para Romo, , Saudara-saudara dan Saudari-saudariku serta Anak-anak Rohaniku semuanya, makin bertambahnya pengetahuan akan Allah itu akan makin mengurangi hal-hal yang lain. Dengan kata kata lain, makin seseorang mengetahui Allah makin kurang dia mengetahui hal-hal yang lain. Bukan hanya ini, dia juga mulai makin lebih jelas lagi, bahkan tak pula dia ini sebenarnya mengetahui Allah. Makin terang-benderang Allah itu bersinar dalam roh manusia, makin Dia itu lebih tak nampak, dan makin alat-alat inderawi manusia itu membubung mengatasi pancaindranya, makin kurang dia dapat merasakan semua hal yang berada diluar dan lahiriah. Tetapi bagaimana seseorang menyebut alat-alat inderawi itu sebagai ” perasaan inderawi”yang bahkan si orang itu sendiri tidak mengetahui dimana perangkat inderawi itu tinggal – tidak juga dapat dikatakan apa atau dimana itu berada – dan sama sekali tidak dapat mempelajarinya dan memahaminya? Dan sungguhlah bagaimana perasaan inderawi dapat mengetahui apa yang mata tak dapat melihat, tak pula telinga dapat mendengar, dan apa yang tak pernah masuk kedalam hati manusia ? (I Korintus 2:9), Dia yang memberikan kita apa yang mengatasi perangkat inderawi, juga mengaruniakan kepada kita, melalui Kasih karunia Roh Kudus, dengan alat inderawi lain yang mengatasi pancaindra, agar kita dapat boleh secara jelas dan secara murni memahami karunia-karunia dan berkat-berkatNya, yang mengatasi pancaindra dan perangkat inderawi itu. Orang yang tuli terhadap Sang Sabda Allah itu sama sekali tuli terhadap suaraNya; dan sebaliknya, orang yang mendengarkan firman-firman Allah
Itu mampu untuk mendengarkan firman apa saja dari Allah. Orang yang demikian itu tidak mendengar siapapun kecuali mereka yang berbicara tetapi berbicara dan mengajar oleh Kasih-karunia Sang Sabda, dan bukannya si pembicara atau si pengajar itu yang mereka dengar, tetapi Sang Sabda. yang suara si pembicara atau si pengajar itu yang mengutarakan suara Sang Sabda itu ada suaranya. Ketika kita berada dibawah – dalam hal- hal yang duniawi, jangan menyelidiki apa yang ada di tempat tinggi – yaitu hal-hal sorgawi, dan jika kita melakukan pendakian ke tempat tinggi jangan terlalu ingin tahu mengenai hal-hal yang ada dibawah sebelum kita mencapai puncak, agar jangan kita terpeleset dan jatuh, atau malahan, sebenarnya kita masih berada dibawah namun berkhayal bahwa kita bergerak naik dalam pendakian rohani itu.
Kiranya Allah, Bapa kita, di dalam Nama FirmanNya yang telah menjadi Manusia Tuhan kita Yesus Kristus, oleh kuasa Roh Kudus Nya mengaruniakan perangkat inderawi yang lain itu, oleh Kasih karunia Roh Kudus Nya, agar kita dapat mencapai puncak pendakian rohani yang sebenarnya bukannya hanya sekedar dalam khayalan yang menipu. Amin

Romo/ Abuna Daniel Byantoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *