Dogmatika

ADAKAH “IBU” KITA SEDIH MELIHAT KEHIDUPAN KITA SELAMA INI?

_’Refleksi pada perayaan peringatan ”Dormition” wafatnya (tertidurnya) Sang Theotokos Perawan Maryam (28 Agustus / 15 Agustus (kalender gereja purba)’_Sejenak mari kita pandang sebuah Ikon Theotokos yang dikenal dengan sebutan “Ikon Tujuh Pedang (atau Tujuh anak panah)”, sering pula disebut *”Tujuh Kesedihan”* Sang Theotokos Perawan Maryam (diperingati 26 Agustus / 13 Agustus).

Ikon ini melukiskan bagaimana rasanya hati beliau ditusuk oleh tujuh panah. Untuk masa yang sangat lama, ikonografi ini terletak di pintu masuk tangga menara Gereja Orthodox Rasul Yohanes Sang Teolog (dekat Vologda, Russia). Karena ikon itu menghadap ke bawah, mereka (para umat) mengira ikon ini hanyalah sebuah papan biasa dan selalu dilewati begitu saja.Kemudian ada seorang yang cacat di kota Kadnikova memiliki visi (penglihatan) bahwa ia akan menerima kesembuhan setelah berdoa dihadapan ikonografi kudus ini. Para umat kemudian melakukan sembahyang Molieben (molében; Slavia: молебен : Salah satu sembahyang tradisi Russia tertua yang akhirnya diadaptasi gereja-gereja slavia lain, asia dan arab. Dalam tradisi yunani dikenal dengan istilah “Paraklisis”), sebelum ikon tersebut akhirnya ditemukan, setelah itu mereka yang sakit menjadi pulih. Ikon ini secara khusus menjadi sangat dihormati pada tahun 1830 selama wabah epidemi kolera di Vologda karena banyak membuat mujizat kesembuhan. Ikon tujuh pedang (atau tujuh anak panah) ini terinspirasi oleh peringatan peristiwa bayi Yesus diserahkan ke Bait Allah (diperingati 2 Februari) menurut tradisi Yahudi, “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”, dan diterima oleh Js. Simeon dan nabiah Hana (Lukas 2:22-38). Dimana Js. Simeon waktu itu bernubuat tentang Kristus ini yang menjadi juruselamat dunia, juga nubuat untuk Ibu-Nya, Maria; demikian katanya _'”..suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri–,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”‘_ (Tujuh) pedang ini dimengerti menunjuk kepada kesedihan mendalam yang dialami Maryam menyaksikan Putera-nya disalibkan. Juga pikiran hati banyak orang terhadap Sang Mesias akan menjadi terbuka, ketika menghadapi pilihan: tetap bersama Kristus atau melawan Dia. Serta angka tujuh dalam tradisi Kristen maupun yudaisme, melambangkan kepenuhan. Sehingga ikon ini menggambarkan kesedihan penuh yang dialami Theotokos Maria ketika nubuatan Js. Simeon ini terjadi.Adapun ke-Tujuh Kesedihan dari Sang Perawan Maryam yaitu :

1. Nubuat Nabi Simeon terhadap beliau.

2. Pengungsian ke Mesir.

3. Kehilangan putranya (Yesus) selama 3 hari, yang kemudian ditemukan di baitullah (Bait Allah).

4. Menyaksikan Yesus putranya memikul salib.

5. Penyaliban Yesus.

6. Penurunan Tubuh Yesus dari kayu Salib.

7. Penguburan Yesus

Itulah kepedihan-kepedihan seorang ibu yang sangat mulia sekaligus simbol ketabahan seorang ibu. Mari kita renungi, adakah ibu kita sedih melihat kehidupan kita selama ini? Dan bagi mereka yang tidak cukup tergerak oleh penderitaan Kristus, penderitaan Maria sebagai ibu duniawi-Nya, membantu membimbing mereka dalam kontemplasi Sengsara Kristus. Dengan merenungkan tentang Sengsara itu, mereka tidak dapat mengutuki musuh mereka dalam doa; karena mengingat perkataan Kristus di kayu Salib “ampunilah mereka …”. Hal yang sama berlaku ketika merenungkan penderitaan Maryam, yang jauh lebih dalam daripada rasa sakit apa pun yang kita terima dari mereka yang menyinggung kita. Itulah mengapa ikon ini juga kadang disebut Ikon *”pelembut hati yang jahat”* (softener of evil hearts). Ikon tersebut mengarahkan fokus pada perenungan ini. Sehingga Ikon “Pelembut Hati yang Jahat” ini menjadi sebagai kebijaksanaan Gereja yang menganjurkan kita berdoa di depannya untuk membantu menyingkirkan amarah terhadap musuh kita. Banyak dijumpai ketika orang Kristen Orthodox berdoa untuk musuh mereka di depan ikon ini, perasaan permusuhan mereka melunak, dan perselisihan dan kebencian yang saling terkait mereda, memberi jalan kepada kebaikan. Ketika kita berdoa di hadapan ikon ini, kita tidak menuduh musuh kita jahat, tetapi mengakui (benih) kejahatan yang ada di dalam hati kita sendiri.

oleh: Arethas Wahyu Soetrisno.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *