JanuariSynaxarion

14.000 Bayi Kudus (Bayi-Bayi yang Tidak Berdosa) yang Dibunuh oleh Herodes di Betlehem (☦️ Abad ke-I)

Diperingati Gereja Orthodox pada 11 Januari (Kalender Sipil) / 29 Desember (Kalender Gereja Purba)

Ketika tiba saatnya Kelahiran Kristus dari Perawan Maria, orang-orang Majus di Timur melihat bintang baru di langit, yang menubuatkan Kelahiran Yesus, Raja orang Yahudi. Mereka segera pergi ke Yerusalem untuk menemui dan memuliakan Anak itu, dan bintang itu menunjukkan jalan kepada mereka. Setelah menemui dan menyembah-Nya, mereka tidak kembali ke Herodes di Yerusalem seperti yang diperintahkan kepada mereka, tetapi karena diperingatkan oleh Allah dalam mimpi, mereka kembali ke negara mereka melalui jalan lain.

Herodes akhirnya menyadari bahwa rencananya untuk menemukan Anak itu tidak akan berhasil, Herodes menjadi murka seperti binatang buas dan memerintah semua anak laki-laki berusia di bawah dua tahun di Betlehem dan sekitarnya untuk dibunuh. Dia beranggapan bahwa Bayi yang dianggapnya saingan itu, akan berada di antara anak-anak yang mati dibunuh. Perintah raja yang menakutkan ini dilakukan sesuai dengan surat peraturan yang ia buat.

Tentara memenggal beberapa anak dengan pedang, menghantamkan yang lain ke batu, menginjak-injak yang lain di bawah kaki, dan mencekik yang lain dengan tangan mereka. Tangisan dan ratapan para ibu naik ke surga sebagaimana yang telah dinubuatkan perihal adanya ratapan dan tangisan pahit Rahel menangisi anak-anaknya (Yeremia 31:15, Matius 2:18). Kejahatan terhadap banyak anak yang tidak berdosa ini dilakukan setahun setelah kelahiran Kristus. Begitulah, bayi-bayi yang terbunuh itu menjadi martir pertama bagi Kristus.

Amarah Herodes juga jatuh pada Simeon (diperingati pada 3 Februari), yang menyatakan di hadapan semua orang di Bait Suci bahwa Mesias telah dilahirkan. Ketika Simeon meninggal, Herodes tidak memberikan izin baginya untuk dimakamkan dengan benar. Atas perintah Raja Herodes, nabi dan imam suci Zakharia juga dibunuh. Dia dibunuh di Yerusalem di mezbah Bait Suci (Mat 23:35) karena dia tidak mau memberi tahu keberadaan putranya Yohanes, Pembaptis Tuhan Yesus Kristus masa depan.

Murka Allah segera menimpa Herodes sendiri: suatu kondisi yang mengerikan menimpanya sebelum ia mati. Kakinya bengkak, bagian bawah tubuhnya menjadi busuk dan dimakan oleh cacing dari luka-luka itu. Hidungnya tersumbat dan bau tak tertahankan terpancar dari dirinya. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, dia ingat ada banyak tawanan orang Yahudi di penjara, dan dia memerintahkan agar mereka semua dibunuh agar mereka tidak bersukacita atas kematiannya. Selain itu, raja yang jahat itu juga membunuh para imam besar Yahudi, Hyrcanes dan ahli-ahli Taurat, dan juga saudara lelakinya, dan saudara perempuannya beserta suaminya, dan juga istrinya sendiri Mariam, dan tiga putranya, dan tujuh puluh orang bijak yang menjadi anggota Sanhedrin. Dia memprakarsai pertumpahan darah ini sehingga hari kematiannya bukan menjadi hari sukacita, melainkan hari perkabungan.

Gereja Kristus dengan sangat tepat menyatakan anak-anak/ bayi yang terbunuh ini sebagai Janasuci (Orang Suci), karena mereka mati pada usia yang tanpa dosa, dan, dalam beberapa hal, adalah martir pertama Kekristenan. Mereka mungkin tidak dibaptis dalam air, tetapi mereka dibaptiskan dalam darah kemartiran mereka yang diberkati.

Terakhir namun tidak kalah penting, peninggalan/ relik (atau mungkin beberapa) Bayi Kudus tak berdosa ini ditemukan di Konstantinopel, di Gereja Js. Yakobus, Saudara Tuhan, yang dibangun oleh Kaisar Justinus. Sebagian besar Relik Suci mereka berada di Kepatriarkhan Yerusalem. Bagian Relik Suci mereka juga dapat ditemukan di Biara Pantokrator di Gunung Athos.

Troparion Irama I


‘Oleh degup Orang-Orang KudusMu, yang dengannya mereka telah menanggung derita bagiMu, ditentramkanlah ya Tuhan, dan sembuhkanlah segala kesakitan kami, ya Engkau Yang mengasihi umat manusia’


Kontakion Irama IV


‘Bintang mengutus Orang-Orang Majus kepadaNya Yang Telah Lahir, dan Herodes dengan kejam mengirim pasukan yang fasik, berupaya membunuhNya Yang terbaring sebagai seorang Kanak di palungan’

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *