DesemberSynaxarion

Js. Yohanes dari Damaskus (Yohanes Damaskinos, Arab : Yuḥanna Al Demashqi; Yunani: Ioannes Damaskenos, ☦️676–780 M)

Diperingati oleh Gereja Orthodox pada tanggal 17 Desember (kalender sipil) / 04 Desember (kalender Gereja)

Yohanes Damaskinos lahir pada sekitar tahun 676 di ibukota Suriah (Syria), Damaskus, di dalam sebuah keluarga Kristen. Ayahnya, Sergius Mansur, ialah bendahara istana khalifah. Yohanes juga memiliki saudara angkat, seorang yatim: Kosmas, diangkat oleh Sergius dan tinggal bersama dalam rumahnya. Sergios membesarkan dan mendidik anaknya sendiri. Di suatu pasar budak di kota Damaskus ia menebus dari pembuangan, seorang rahib yang terpelajar, Kosmas dari Kalabria dan mempercayakan kepadanya pengajaran bagi anak-anaknya. Anak-anak menunjukkan kemampuan lebih dan mudah menguasai ilmu-ilmu sekuler dan spiritual. Setelah kematian ayahnya, Janasuci Yohanes menduduki suatu jabatan tinggi di kerajaan.

Selama masa ini di Byzantium telah muncul dan dengan cepat menyebar ajaran bidat Ikonoklasme (penolak ikon-ikon Kudus Gereja), yang mendapat dukungan dari Kaisar Leo III dari Isauria (717-741). Berjuang membela Orthodoxia serta dalam penghormatan ikon, Yohanes menulis tiga risalah tentang “Melawan Penentang Ikon Kudus”. Tulisan-tulisan yang bijaksana dan terilham dari Allah yang dibuat Yohanes membuat marah sang kaisar. Tapi karena sang penulis bukanlah dalam wilayah hukum Byzantium, Kaisar tidak mampu untuk mengurung dia di penjara, atau mengeksekusinya. Kaisar kemudian terpaksa membuat suatu fitnah. Atas perintahnya terbitlah surat palsu dengan atas nama Yohanes dari Damaskus, di mana sang pejabat Damaskus telah menawarkan bantuannya untuk menaklukkan ibukota Suriah, Damaskus. Surat tersebut dan sekaligus balasannya yang penuh kebohongan menyanjung sang khalifah dikirim oleh Leo Isaurian kepada sang khalifah. Khalifah segera memerintahkan Yohanes diturunkan dari jabatannya, dan tangan kanannya dipotong dan kemudian dibawa melalui kota dengan diikat rantai.

Menjelang malam, Yohanes, setelah menghadap khalifah dan memohon padanya untuk memberikan kembali tangannya yang terputus. Malam itu juga mereka mengembalikan tangannya yang telah terputus itu kepada Yohanes. Yohanes berusaha menyambungkan lagi dan tersungkur di hadapan ikon Sang Theotokos. Ia memohon doa untuk kesembuhan tangannya. Setelah melalui doa-doa yang panjang ia tertidur dan dalam mimpinya ia menyaksikan bagaimana Sang Theotokos berpaling padanya menjanjikan kesembuhan segera baginya. Dan ketika Yohanes terbangun, ia melihat tangannya telah sembuh kembali seperti semula.

Setelah mengetahui mukjizat ini, sang khalifah meminta maaf dan hendak mengembalikan dia kembali menduduki jabatannya, namun sang orang kudus ini menolaknya. Ia membagi-bagikan kekayaannya dan bersama dengan kakak (angkat) nya dan sahabatnya dalam belajar, Kosmas, ia berangkat ke Yerusalem, di mana dengan kesederhanaan ia masuk dalam kehidupan rahib dari Janasuci Sava (Sabas). Tidak mudah baginya untuk menemukan tuntunan hidup spiritual. Di antara saudara-saudara rahib ada yang bersedia membimbingnya yaitu seorang staretz (elder) di biara yang sangat berpengalaman, terampil untuk memelihara para murid dengan semangat ketaatan dan kerendahan hati. Sebelumnya sang imam-rahib melarang Yohanes untuk menulis, karena beranggapan bahwa dengan keberhasilan yang dihasilkan di tempat itu akan dapat menimbulkan kesombongan.

Suatu kali ia mengirim rahib ke Damaskus untuk menjual keranjang, yang telah dibuat di biara, dan memerintahkan dia untuk menjualnya dengan harga yang lebih dari nilai sewajarnya. Dan di saat itulah, melewati perjalanan yang menyiksa di bawah terik matahari, mantan pejabat tinggi dari Damaskus itu sekarang dapat dijumpai di pasar dengan pakaian compang-camping. Namun suatu ketika Js. Yohanes dapat dikenali oleh bekas pelayan rumahnya di Damaskus, lalu memborong semua keranjang yang dijualnya dengan harga yang ia minta.

Suatu kali di biara, salah satu rahib meninggal dan saudaranya memohon kepada Js. Yohanes untuk menuliskan sesuatu untuk penghiburan. Yohanes untuk waktu yang lama menolak, namun ia merasa kasihan dan menyerah pada permohonannya yang tengah berduka, dan menulis troparia pemakaman baginya. Untuk perbuatan ketidaktaatan ini (menulis) sang imam membuangnya dari sel pertapaannya. Semua saudara rahib mulai memohon bagi Yohanes. Sang imam kemudian menugaskan salah satu tugas terburuk dan paling tidak menyenangkan – membersihkan kotoran dari biara.

Setelah beberapa saat tertentu, sang imam itu dalam sebuah penglihatan Sang Theotokos Maria, memerintahkan untuk kembali mengijinkan Yohanes untuk menulis. Patriarkh Yerusalem mengetahui kabar tentang sang rahib: ia menahbiskan Yohanes sebagai imam dan menunjuknya sebagai pengkhotbah di katedralnya. Namun rahib Yohanes segera kembali ke Biara Sava (tenggara Yerusalem), di mana sampai akhir hari-harinya ia menghabiskan waktunya dalam penulisan buku-buku rohani dan kidung bagi Gereja. Ia meninggalkan biara hanya untuk mengecam melawan bidat ikonoklas di Konsili Konstantinopel tahun 754. Mereka menghukumnya ke penjara dan menyiksanya, tapi ia melewati segala sesuatunya dan melalui rahmat Allah ia tetap hidup. Ia meninggal pada sekitar tahun 780, di usia lebih dari 100 tahun.

Selain karyanya yang sangat terkenal yaitu : Tiga “Risalah Pembelaan menentang mereka yang mencela Ikon-ikon Suci”, beberapa Ajaran dan Karya Dogmatis beliau di antaranya :
“Sumber Air Pengetahuan” atau “Sumber Air Kebijaksanaan” , dibagi menjadi tiga bagian :

  1. “Bab-bab Filosofis” (Kephalaia philosophika) – Umumnya dinamai ‘Dialectic’, sebagian besar membahas masalah logika, tujuan utamanya adalah untuk menyiapkan para pembaca supaya bisa mengerti lebih baik lagi dari isi buku ini.
  2. “Mengenai Penyimpangan Terhadap Ajaran Gereja” (peri haireseon) – Bab terakhir bagian ini (Bab 101) membahas Penyimpangan Kaum Ishmael dari Ajaran Gereja. Berbeda dengan bab-bab sebelumnya yang membahas mengenai penyimpangan terhadap ajaran gereja yang biasanya hanya beberapa baris panjangnya, bab ini memakan tempat beberapa halaman dalam karya tulisnya. Dokumen ini menjadi salah satu karya tulis polemik Kristiani pertama menentang Islam, dan yang pertama ditulis oleh seorang yang beragama Kristen Orthodox.
  3. “Sebuah Penjelasan Terperinci yang Tepat mengenai Iman Kristen Orthodox” (Ekdosis akribes tes orthodoxou pisteos) – Bagian ketiga buku ini dikenal sebagai bagian yang paling penting dari John de Damascene, dan merupakan sebuah peninggalan Kristiani yang sangat berharga.

Kidung
Troparion – Irama 8

Sang pemenang Orthodoxia, guru bagi kemurnian dan ibadah yang benar , / yang mencerahkan alam semesta dan perhiasan hirarki : / bapa Yohanes yang bijaksana, ajaranmu telah menyinari segala sesuatu. / mohonkanlah pada Kristus Tuhan untuk menyelamatkan jiwa kami.

Kontakion – Irama 4

Mari kidungkan pujian kepada Yohanes , yang layak mendapat kehormatan besar , / penulis kidung, bintang dan guru milik Gereja , pembela ajaran : / melalui kekuatan dari Salib Tuhan ia mengalahkan kesalahan bidat / dan sebagai perantara kuat di hadapan Allah / mohonkanlah agar pengampunan dosa dapat diberikan bagi semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *