Wejangan Para Bapa Gereja

Wejangan Paterikon Kuno

Hubungan dengan Orang Lain

Yesaya yang kudus mengatakan: Jika seseorang berbicara kepada saudaranya dengan tipu muslihat, ia tidak akan lepas dari bahaya rohani.

(Paterikon Kuno, 10, 28)

.

.

Pimen Agung mengatakan: Menghindarlah dari setiap orang yang suka bertengkar.

(Paterikon Kuno, 11. 59)

.

.

Bagaimana Jika Berhadapan dengan Dosa Orang Lain

Seorang rahib bertanya pada seorang Elder: Jika aku melihat saudaraku jatuh ke dalam dosa, apakah lebih baik aku menyembunyikannya? Sang Elder menjawab: Ketika, karena kasih, kita menyembunyikan dosa saudara kita, maka Allah juga menyembunyikan dosa-dosa kita. Tetapi ketika kita menunjukkan dosa saudara kita di hadapan orang lain, maka Allah juga membuat dosa-dosa kita diketahui orang.

(Paterikon Kuno, 9.9)

.

.

Kerendahan Hati

Mereka bertanya kepada seorang Elder, “Apa itu kerendahan hati?” Sang Elder mengatakan, “Ketika saudaramu berdosa terhadap kamu dan kamu memaafkannya sebelum dia meminta maaf darimu.”

(Paterikon Kuno, 15.74)

.

.

Pikiran yang Penuh Dosa

Seorang rahib bertanya pada salah seorang tetua rohani (Elder), << Mengapa pikiranku selalu cenderung kepada penodaan, sehingga mereka tak memberiku istirahat bahkan untuk satu jam saja, dan jiwaku jadi begitu gelisah? >>

Sang tetua rohani berkata kepadanya, << Jika setan-setan mencobai pikiranmu, janganlah menyerah pada mereka. Memang sifat mereka untuk menggoda terus-menerus. Dan meskipun mereka tidak pernah menyerah untuk menggoda, mereka tidak bisa memaksamu untuk berbuat dosa. Hal ini tergantung pada dirimu akan mendengarkan mereka atau tidak.>>

Rahib itu berkat kepada sang tetua, << Apa yang harus saya lakukan? Aku lemah dan napsu ini hendak menaklukkan saya. >>

Sang tetua menjawab, << Berjaga-jagalah terhadap mereka dan ketika mereka mulai berbicara kepadamu, jangan menjawab mereka, tetapi berdoalah: Tuhan Yesus, Anak Allah, kasihanilah aku! >>

(Paterikon Kuno, 5.35)

.

.

Amarah

Ada seorang rahib tinggal di sebuah biara dan ia selalu marah. Ia memutuskan, “Aku akan meninggalkan tempat ini dan tinggal sendiri sebagai seorang pertapa dan kemudian aku tidak akan berhubungan dengan siapapun dan napsu amarah tentu akan meninggalkanku.”

Meninggalkan biara, ia menetap di sebuah gua. Suatu hari, setelah mengambil kendi air, sang Rahib menaruhnya di atas tanah dan tumpahlah airnya. Sekali lagi ia menimba air dan kendi itu terguling kedua kalinya. Kemudian ia menimba lagi dan kendi itu jatuh pada ketiga kalinya. Sang Rahib marah, mengambilnya dan memecahkannya. Ketika ia sadar, dia mengerti bahwa Iblis telah menang atas dirinya dan berkata, “Lihatlah, aku telah pergi ke tempat pengasingan dan aku masih juga kalah! Aku akan kembali ke biara, sebab kesabaran dan bantuan Tuhan yang diperlukan itu ada di mana-mana!” Dan ia kembali ke tempat sebelumnya.

(Paterikon Kuno, 7.38)

.

.

Abba Agathon berkata: seseorang yang marah bahkan jika dia membangkitkan orang mati, ia tidak berkenan kepada Allah.”

(Paterikon Kuno, 10.15)

.

.

Nafsu Cemar

Seorang rahib memiliki perjuangan melawan nafsu tercemar. Waktu itu adalah malam hari. Ia bangun dan pergi kepada sang Elder dan mengaku padanya pikiran yang menyeret dia kepada penodaan. Sang Elder menenangkan dia dan sang Rahib itu, setelah menerima wejangan, kembali ke selnya. Tapi perjuangan itu bangkit melawan dia lagi, dan lagi ia pergi ke sang Elder. Dia melakukan ini beberapa kali.

Sang Elder tidak mendukakan dia tetapi berkata, “Jangan menyerah, tapi lebih baik bahwa engkau datang ke saya setiap kali setan mengganggumu dan mengusir dia dengan menyatakan pikiranmu. Dengan penolakan seperti itulah dia akan berlalu. Sebab tidak ada yang lebih membakar setan penodaan selain penyingkapan akan perbuatannya (dalam pengakuan di hadapan seorang bapa rohani). Dan tidak ada yang membuatnya begitu bahagia selain menyembunyikan pikiran-pikiran itu.” Dengan demikian sang Rahib datang lagi kepada sang Elder sebelas kali, tolak-menolak pikirannya dan godaan itupun berhenti.

(Paterikon Kuno, 5.16)

.

.

Bagaimana Kita Bisa Diselamatkan

Seorang rahib bertanya kepada Js. Antonius, “Apa yang harus kulakukan untuk diselamatkan?” Sang Elder menjawabnya, “Janganlah percaya kebenaranmu sendiri, jangan khawatir tentang apa yang telah menjadi masa lalu dan kekanglah lidah dan perutmu.”

(Paterikon Kuno, 1.2)

.

.

Rahib lainnya bertanya kepada Abba Makarius, “Bagaimana saya dapat diselamatkan?”

Sang Elder menjawab, “Jadilah seperti orang mati: tidak berpikir tentang penghinaan dari orang-orang atau tentang kemuliaan pribadi dan engkau akan diselamatkan.”

(Paterikon Kuno, 10.45)

.

,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *