Wejangan Para Bapa Gereja

Wejangan Js. Teofan sang Pertapa

Tujuan Hidup

Akhir paripurna dari kehidupan kita di atas bumi ini adalah untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah. Untuk akhir inilah, Anak Allah menjelma, supaya dapat memulihkan kita kepada persekutuan yang sorgawi, yang hilang karena kejatuhan dosa. Melalui Yesus Kristus, Anak Allah, kita masuk dalam persekutuan dengan Bapa dan karenanya kita mencapai tujuan kita.

( Js. Teofan sang Pertapa, Surat untuk pelbagai orang, 24 )

.

.

Hukum Kristus merupakan obat yang terlampau pahit dan tidak mengenakkan bagi hawa nafsu keinginan manusia.

(Js. Teofanes Sang Pertapa)

.

.

Ketika seseorang itu telah berada dalam persekutuan hidup Allah, dia telah menemukan kenikmatan akan hal-hal ilahi dan kudus melalui rahmat Allah. Tetapi dalam hal-hal ini iapun tetap harus menjaga hatinya sendiri dalam kemurnian. Jangan sampai kenikmatan itu membuat dia lengah dan malah menyeret dia jauh dari Allah.

(Js. Theofanes Sang Pertapa)

.

.

Tidak ada yang lebih baik dan lebih unggul daripada ketika kita mengingat dan sadar akan diri kita sendiri, sebab tidak ada yang tahu bagaimana esok. Tidak ada yang berbahagia ketika kita baru sadar setelah melewati masa muda ini dengan kesia-siaan. Apa yang telah kauhilangkan tidak akan kauperoleh kembali.

(Js. Theofanes Sang Pertapa)

.

.

Perintah-Perintah Tuhan

Sebagaimana tidaklah mungkin berjalan tanpa kaki atau terbang tanpa sayap, demikian pula tidak mungkin untuk mencapai Kerajaan Sorga tanpa pemenuhan perintah-perintah Allah.

(Js. Theophan Sang Pertapa)

.

.

Kasih

“Kasih menutupi banyak kesalahan” (1 Petrus 4:8). Yakni, karena kasih akan sesamanya, Allah mengampuni orang yang dikasihi pribadi tersebut.

(Js. Theophan sang Pertapa, Surat, VI. 949)

.

.

Perjuangan Melawan Nafsu

Ketika seseorang didera oleh hawa nafsu, ia tidak melihat nafsu itu di dalam dirinya dan tidak memerangi mereka, karena ia tinggal di dalam nafsu itu dan dikendalikan oleh nafsu itu. Tapi ketika kasih karunia Allah menjadi aktif di dalam dia, ia mulai membedakan apa yang merupakan nafsu dan dosa di dalam dirinya sendiri, ia mengakui nafsu itu, bertobat dan memutuskan untuk menjaga diri terhadapnya. Sebuah perjuanganpun dimulai. Pada awalnya, perjuangan dimulai dengan perbuatan, tetapi ketika ia telah dilepaskan dari perbuatan keji, maka perbuatan dimulai terhadap pikiran dan perasaan yang memalukan. Dan di sini perjuangan menemukan banyak langkah… Perjuangan terus berlanjut. Semakin banyak nafsu yang terusir keluar dari hati. Hal ini sungguh terjadi sehingga mereka sepenuhnya diusir keluar…. Tanda bahwa nafsu ini dilempar keluar dari hati adalah bahwa jiwa mulai merasakan penolakan dan kebencian terhadap nafsu.

(Js. Theophan sang Pertapa)

.

.

Kesalahan Rohani

Iman yang tulus adalah penolakan atas pikiranmu sendiri. Hal ini diperlukan untuk membuat pikiranmu telanjang dan menjadikannya seperti papan tulis bersih untuk goreskan iman sehingga ia dapat mencerminkan iman itu secara jernih, tanpa percampuran ucapan-ucapan asing dan sikap asing apapun. Ketika sikap pikiran kita sendiri tetap ada di dalamnya kemudian setelah sikap iman tertulis di atasnya, tampaklah adanya percampuran sikap. Pikiran akan bingung, bertemu dengan pertentangan antara tindakan iman dan kerumitan dari pikiran. Demikian juga mereka yang mendekati daerah iman dengan kepelikan pikiran mereka sendiri… Mereka bingung dengan iman itu dan tidak ada yang datang dari padanya melainkan kerugian.

(Js. Theophan sang Pertapa)

.

.

Bagaimana Kita Bisa Diselamatkan

Jika anda ingin menerima keselamatan, pelajarilah dan jagalah di dalam hatimu semua yang Gereja Kudus ajarkan dan sembari menerima kuasa surgawi dari misteri-misteri Gereja, berjalan di jalan perintah Kristus, di bawah arahan imam yang layak dan engkau pasti akan mencapai Kerajaan Surgawi dan diselamatkan. Semua ini tentu saja diperlukan dalam hal keselamatan, diperlukan di dalamnya keseluruhan dan untuk semua. Siapapun yang menolak atau mengabaikan sebagian saja dari hal itu tidak ada keselamatan.

(Js. Theophan sang Pertapa, Lima Ajaran … 3)

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *