Wejangan Para Bapa Gereja

Wejangan Js. Athanasius

Mempelajari ajaran dan tulisan-tulisan para bapa Gereja, membantu kita untuk semakin memahami ajaran Kristen yg benar. Berikut adalah salah satu karya apologia dari Js. Athanasius, yang ditulis dalam “De Incarnatione Verbi” (Inkarnasi Firman) :

Kitalah yg menyebabkan Ia menjadi daging. Ia mengasihi kita sedemikian rupa sehingga untuk keselamatan kita, Ia lahir sebagai manusia.. Hanya Sang Penebus sendiri, yang pada permulaan menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada, dapat mengembalikan yang bejat menjadi tidak binasa; tidak ada yang dapat menciptakan kembali orang-orang dalam rupa Allah, kecuali rupa Allah itu sendiri. Tidak lain Tuhan kita Yesus Kristus, yang adalah Hidup itu sendiri, yang dapat membuat yang fana menjadi kekal.

Tidak satu kecuali firman, yang memerintah segala sesuatu dan yang adalah Anak sejati dan tunggal dari Sang Bapa, yang dapat mengajar manusia tentang Sang Bapa dan membinasakan pemujaan berhala. Karena utang yang harus dibayar manusia (karena semua orang harus mati), Ia datang di antara kita. Setelah Ia membuktikan ke-Allah-annya melalui karyaNya, Ia mempersembahkan kurbanNya demi kita dan menyerahkan baitNya (tubuhNya) kepada maut menggantikan umat manusia.

Ia melakukannya untuk membebaskan manusia dari utang dosa pertama dan untuk membuktikan bahwa Ia lebih berkuasa daripada maut. Ia menunjukkan bahwa tubuhNya tidak dapat binasa, sebagai buah sulung kebangkitan semua orang..

Dua mukjizat terjadi sekaligus: kematian seluruh umat manusia terlaksana dalam tubuh Tuhan, dan maut serta kebejatan dimusnahkan karena firman yang telah menjadi satu denganNya.. Melalui kematian, kekekalan menjangkau seluruh umat manusia. Karena Firman telah menjadi manusia, maka pemeliharaan kesemestaan bersama pencipta serta pemimpinNya yaitu firman Allah itu sendiri telah diperkenalkan. Ia telah menjadi manusia, agar kita menjadi ilahi; Ia menyatakan diri dalam rupa manusia, agar kita dapat mengerti Sang Bapa yang tak kelihatan itu; Ia menanggung penghinaan orang agar kita dapat mewarisi hidup yang kekal.

(De Incarnatione Verbi / Inkarnasi Firman 4, 20, 54).

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *