Dogmatika

SABTU SESUDAH THEOPHANIA

RENUNGAN SETIAP HARI DARI FIRMAN ALLAH MENURUT BACAAN GEREJA ORTHODOX

Oleh: Janasuci Theophan Sang Penyendiri

Penterjemah: Arkhimandrit Daniel B.D.Byantoro

II Timotius 2:11-19; Lukas 18:2-8

Untuk makin secara kuat atas kesan kebenaran bahwa “mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.” (Lukas 18:1) dan mereka harus terus berdoa bahkan jika doa mereka tak segera didengarkan, Sang Kristus memeberitahu tentang perumpamaan mengenai hakim yang tak takut akan Allah maupun menghormati manusia (Lukas 18:2). Hakim itu akhirnya mengabulkan permohonan seorang janda (Lukas 18:3-4), bukan karena dia takut akan Allah atau memperdulikan manusia, tetapi hanya karena janda itu tak memberikan ketenangan padanya. Jadi jika orang yang hatinya tak berperasaan seperti itu tidak dapat tahan terhadap sikap permohona janda yang tak mengenal lelah dan tak mengenal jemu itu, tidakkah Allah, yang mengasihi manusia dan yang penuh belas-kasihan itu, akan memenuhi permohonan yang diangkat ke hadiratNya secara terus-menerus tanpa henti, tanpa lelah, dan tanpa jemu dengan cucuran air mata dan hati penuh tobat? Inilah jawabannya mengenai mengapa doa-doa kita sering tak didengar: Sebab kita mempersembahkan permohonan-permohonan kita ke hadiratNya dengan penuh semangat dan kesungguh-sungguhan, tetapi hanya seperti lewat begitu saja, lebih jauh lagi kita berdoa sekali saja hari ini, lalu mengharapkan doa kita akan dijawab pada keesokan harinya, tidak berpikir untuk mengeluarkan keringat dan dan untuk mempersulit diri sendiri lagi dalam doa itu. Itulah sebabnya mengapa doamu tidak akan didengar ataupun dijawab. Kita sendiri yang tidak mengenapi sebagaimana yang seharusnya, hukum yang ditetapkan bagi doa – yaitu hukum untuk terus-menerus, tanpa henti, tanpa lelak dan tanpa jemu yang penuh harap dan semangat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *