Dogmatika

SABTU DARI MINGGU PEMUNGUT CUKAI DAN ORANG FARISI

RENUNGAN SETIAP HARI DARI FIRMAN ALLAH MENURUT BACAAN GEREJA ORTHODOX

Oleh: Janasuci Theophan Sang Penyendiri

Penterjemah: Arkhimandrit Daniel B.D.Byantoro

II Timotius 3:1-9; Lukas 20:45-21:4

Siapakah mereka yang disebut :”Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya” ( II Timotius 3:5) itu? Siapakah orang-orang yang lain yang disebut sebagai:” yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran” (II Timotius 3:7) itu pula? Kelompok orang yang pertama itu adalah mereka yang menjalankan semua rutin lahiriah dimana kehidupan kesalehan itu nampak terlihat, tetapi yang tidak memiliki kehendak yang cukup kuat untuk mempertahankan kecenderungan batinnya sebagaimana yang dituntut oleh kehidupan saleh yang benar itu. Mereka pergi ke Gereja dan berdiri disana dengan siap sedia, tetapi mereka tidak melakukan usaha untuk berdiri dengan pikirannya di hadirat Allah secara terus-menerus dan untuk dengan penuh khusyuk dan hormat bersujud dengan muka ke tanah di hadapanNya. Setelah berdoa sedikit, mereka melepaskan ikatan dari pengendalian pikiran mereka, dan pikiran itu lalu melambung tinggi, berputar-putar ke seluruh dunia. Sebagai akibatnya, secara lahiriah mereka berada di Gereja, tetapi menurut keberadaan rohaninya mereka tidak berada disitu, hanya “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah”, bentuk luarnya saja yang masih ada, tetapi “mereka memungkiri kekuatannya”, kakuatan dari kesalehan itu tidak ada disana. Dengan orang-orang semacam ini, apa saja yang lainnya dalam kehidupan rohani dapat dianggap hamper dengan cara yang sama. Sedangkan kelompok orang yang kedua itu, adalah mereka yang setelah masuk dalam lingkup kehidupan iman, tidak melakukan apapun kecuali hanya menyodorkan pertanyaan-pertanyaan :” Apakah ini? Apakah itu? Mengapa begini? Mengapa begitu?” Mereka adalah orang-orang yang menderita dari keterlaluan banyak pertanyaan-pertanyaan dan rasa ingin tahu yang kosong. Mereka tidak mengejar kebenaran, tetapi hanya bertanya dan bertanya saja. Setelah menemukan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan mereka itu, mereka tidak menetap disitu untuk waktu yang lama, tetapi segera mereka merasa perlu untuk mencari-cari pertanyaan-pertanyaan yang lain. Sehingga mereka selalu berputar-putar dalam otak mereka siang dan malam, mempertanyakan dan mempertanyakan, dan tak pernah merasa puas dengan apa yang mereka pelajari. Sebagian orang mengejar-ngejar kenikmatan jasmani. Tetapi orang-orang ini mengejar-ngejar kepuasaan dari rasa keinginan-tahu mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *