Dogmatika

PROSFORA: ROTI PERJAMUAN TUHAN DALAM TRADISI GEREJA TIMUR

Disusun oleh: Basilius Andrew L. Tjong

Komunitas St. Nikolas dari Myra Surabaya Gereja Ortodoks Yunani di Indonesia

Salah satu ciri khas dari Gereja Timur, khususnya yang menggunakan tradisi liturgi Byzantium, roti perjamuan Tuhan atau roti ekaristi menggunakan roti yang beragi. Mungkin saja hal ini akan menimbulkan pertanyaan dari saudara-saudara yang berasal dari Gereja Barat, baik dari Gereja Latin maupun kaum Protestan. Pertama-tama kita melihat dahulu pemahaman tentang ekaristi itu sendiri.

Salah satu dasar atau landasan perayaan ekaristi itu sendiri dapat kita temukan banyak di dalam Perjanjian Baru, tetapi nats yang sering dikutip dalam kalangan Gereja Kristen adalah apa yang dituliskan oleh St. Paulus, sang rasul, dalam surat kepada Gereja di Korintus, yang bunyinya demikian:

Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya, …

1 Korintus 11:23–24, Terjemahan Baru, LAI 1974

Dalam bahasa Yunani, nats tersebut berbunyi:

Ἐγὼ (aku) γὰρ (sebab) παρέλαβον (telah diterima) ἀπὸ (dari) τοῦ Κυρίου (Tuhan) ὃ (yang) καὶ (dan) παρέδωκα (sampaikan) ὑμῖν (kepada kamu) ὅτι (bahwa) ὁ Κύριος Ἰησοῦς (Tuhan Yesus) ἐν τῇ νυκτὶ (pada malam hari) ᾗ παρεδίδετο (dia dikhianati), ἔλαβεν (mengambil, bentuk lampau) ἄρτον (roti beragi), καὶ (dan) εὐχαριστήσας (menghaturkan syukur), …

Kata mengucap syukur atau menghaturkan syukur dalam Bahasa Yunani menggunakan kata εὐχαριστήσας (transliterasi: evkharistisas), yang dalam Perjanjian Baru, kita dapat menemukan banyak dipakai oleh Yesus. Kata evkharistisas, yang diserap menjadi ekaristi dalam Bahasa Indonesia, merujuk kepada perjamuan Tuhan, yaitu pemecahan roti dan anggur.

Seribu tahun sejarah Kekristenan, Gereja masih satu dan utuh, tidak ada yang namanya Gereja “Katolik” atau Gereja “Ortodoks,” dan belum ada yang namanya kaum Protestan apalagi Karismatik. Gereja Kristen disebut Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik, dan kata “katolik” di sini bukan merek atau nama institusi gereja, tetapi menjelaskan sifat Gereja Kristen yang utuh, penuh, semesta dan am, tidak terbagi-bagi dan tidak terpecah-pecah, dimana setiap gereja lokal di suatu tempat adalah refleksi dari gereja lokal di tempat yang lain, karena semuanya satu iman, satu baptisan dan satu Tuhan. Dan Gereja yang “katolik” ini memahami bahwa ekaristi ini bersifat misteri atau sakramen, dimana roti dan anggur ini adalah tubuh dan darah Tuhan, tanpa menjelaskan bagaimana roti dan anggur ini “berubah” menjadi tubuh dan darah Tuhan. Gereja tidak pernah menjelaskan bagaimana roti dan anggur ini berubah.

Roti dan anggur dalam perjamuan malam terakhir, atau yang sering disebut perjamuan Tuhan, itulah puncak dari pernyataan ekaristi. Kita menyebut perjamuan Tuhan sebagai ekaristi karena kita mengucap syukur kepada Tuhan untuk misteri besar ini di mana Allah di dalam Roh-Nya tidak hanya menguduskan roti dan anggur ini, tetapi juga mengubahnya menjadi tubuh dan darah Tuhan Yesus.

Mengenai roti yang dipergunakan dalam ekarisi, Gereja Timur menggunakan roti yang beragi, sama seperti apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ketika melakukan perjamuan malam terakhir bersama para rasul, juga apa yang dilakukan oleh para rasul ketika mereka berkumpul dan beribadah, hal ini jelas terlihat dalam nats:

Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti (Yunani: artos, roti beragi), mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.”

Matius 26:26, Terjemahan Baru, LAI 1974

Hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi (Yunani: azyma, dari kata azymos, roti tidak beragi) akan mulai dua hari lagi… Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti (Yunani: artos, roti beragi), mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Ambillah, inilah tubuh-Ku.”

Markus 14:1, 22, Terjemahan Baru, LAI 1974

Lalu Ia mengambil roti (Yunani: artos, roti beragi), mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Lukas 22:19, Terjemahan Baru, LAI 1974

Lalu Ia mengambil roti (Yunani: artos, roti beragi), mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”

Lukas 22:19, Terjemahan Baru, LAI 1974

Dari sini kita mengerti sekarang bahwa sejak mulanya, Gereja telah menggunakan roti beragi dalam ekaristi, dan roti beragi inilah yang tetap dipelihara oleh Gereja Timur hingga hari ini.

Secara salah ada orang yang membuat argumen bahwa seharusnya roti yang dipakai saat perjamuan Tuhan adalah roti tak beragi karena Yesus sedang merayakan Paskah Yahudi bersama para murid-Nya, dan ada juga yang berargumen bahwa ragi itu simbol kemunafikan orang Farisi dan Saduki. Dari apa yang tertulis dalam kitab suci, sudah jelas, dibedakan antara roti yang tidak beragi dan roti yang beragi dalam penggunaan kosakatanya. Roti tidak beragi menggunakan istilah azymos dan roti beragi (roti dalam arti normal/harafiah) menggunakan istilah artos. Alkitab berdasarkan kesaksian para murid Tuhan sendiri menyebutkan bahwa apa yang dipecahkan Tuhan Yesus adalah roti yang beragi. Kemudian, mengenai pandangan bahwa ragi itu adalah kemunafikan orang Farisi dan Saduki, dapat kita temukan dari Matius 16:6 yang menuliskan: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki.” Memang tidak salah memahami bahwa ragi orang Farisi adalah smbol kemunafikan mereka, tetapi konteks nats ini tidak berbicara mengenai ekaristi atau liturgi. Konteks nats ini berbicara tentang pengajaran orang Farisi dan Yahudi, sebagaimana yang Yesus jelaskan sendiri, yaitu: “Aku berkata kepadamu: Waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki. Ketika itu barulah mereka mengerti bahwa bukan maksudNya supaya mereka waspada terhadap ragi roti, melainkan terhadap ajaran orang Farisi dan Saduki” (Matius 16:11–12). Pemahaman seperti ini adalah penyelewengan dan penafsiran Alkitab secara tak bertanggung jawab  yang tak dapat dibuktikan bahkan secara historis dan bahasa, dan kiranya setiap umat Tuhan tidak terpancing untuk membuat penafsiran tak bertanggung jawab seperti ini.

Selanjutnya, Gereja Timur memahami bahwa roti perjamuan Tuhan adalah persembahan dari Kristus sendiri, sebagai bentuk perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah Yesus. Apa kaitan roti dan anggur dengan persembahan Kristus, dan apa hubungannya dengan persembahan korban Perjanjian Lama?

Kita ingat dalam Perjanjian Lama, ketika bangsa Israel kelaparan di padang gurun, Allah memberikan roti, yaitu manna, dan dari kisah manna, Yesus memberikan penegasan tentang dirinya sebagai roti juga:

Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati… Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.

Yohanes 6:48–50, 54–56, Terjemahan Baru, LAI

Ada beberapa makna teologis yang Yesus sampaikan di sini dari nats di atas dana pa yang sudah kita bahas sebelumnya. Yesus membandingkan dirinya sebagai roti yang turun dari sorga, yaitu mereka yang makan roti itu tidak akan mati lagi, sedangkan mereka yang makan roti manna telah mati. Roti yang turun dari sorga, yaitu Yesus sendiri, juga Ia sebut sebagai daging, bersama dengan darahnya, dan mereka yang makan daging dan minum darah Tuhan memiliki hidup kekal. Hal yang sama diulang lagi oleh Yesus saat perjamuan terakhir, walaupun daging di sini diterjemahkan sebagai tubuh.

Selanjutnya Perjamuan Tuhan yang wujudnya roti dan anggur, yang disebut tubuh (atau daging) dan darah Tuhan adalah bentuk perjanjian baru yang Yesus sabdakan untuk terus dilakukan. Perjanjian baru ini bukan kitab Perjanjian Baru atau Injil, jadi adalah suatu kesalahan mengatakan bahwa Perjanjian Baru adalah kitab Injil dan Yesus datang dengan membawa kitab Injil. Realitanya, tidak ada kitab apapun yang Yesus tulis, jadi Perjanjian Baru di sini adalah penggenapan dari perjanjian yang lama, yang disimbolkan dan dibayangkan dalam Perjanjian Lama, yaitu sistem korban demi pengampunan dosa dan keselamatan. Jadi perjanjian baru yang Yesus adakan bukanlah kitab, tetapi korban pengampunan dosa dan keselamatan, sebagaimana yang disimbolkan dalam Perjanjian Lama melalui korban yang bermacam-macam wujudnya. Sebagaimana Perjanjian Lama mengajarkan bahwa dalam sistem korban, ada hewan korbannya, ada altar persembahan dan api pembakar korban serta imam yang mempersembahkan korban demi umat, maka Perjanjian Baru juga melaksanakan korban yang sama. Mengutip dari pengajaran Romo Daniel B.D. Byantoro, maka Perjanjian Baru juga memiliki persembahan korbannya, yaitu tubuh Kristus, salib sebagai altar persembahan, dosa-dosa dan hujatan manusia sebagai api pembakar korban serta ada imam yang mempersembahkan korban, yang mana imam ini adalah Kristus sendiri. Jadi dalam iman Kristen, Kristuslah sebagai imam yang mempersembahkan korban dan Dia sendiri yang menjadi korban, dimana ia mempersembahkan tubuh-Nya sebagai persembahan yang sempurna dan genap, yang ditunjukkan dengan perkataan Yesus di atas salib: “Sudah selesai!” Korban Perjanjian Baru yang wujudnya tubuh Kristus itu sebenarnya telah dinubuatkan jauh hampir seribu tahun sebelumnya, di dalam Mazmur:

Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki, tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku.

Ibrani 10:5, diambil dari Mazmur 40:6 Teks Septuaginta

Korban dan sembelihan Engkau tidak berkenan, tetapi Engkau telah membuka telingaku.

Mazmur 40:6, Teks Masoret

Dalam surat Ibrani 10:5, yang dikutip dari Mazmur 40:6 teks Septuaginta, sudah sangat jelas tentang suatu tubuh yang disediakan sebagai “penggenap” korban dan persembahan yang sudah ada sebelumnya, tetapi dalam teks Masoret, yang kebanyakan dipakai kaum Kristen Modern sekarang, frase ini diselewengkan dan dikaburkan menjadi “Engkau telah membuka telingaku.” Akibatnya, orang Kristen kesulitan memahami konteks nubuatan ini dan bingung ketika harus menjelaskan tentang Kristus sebagai penggenap nubuatan Perjanjian Lama.

Dari sini kita melihat bahwa penyaliban Kristus adalah realita korban persembahan yang sesungguhnya, roti dan anggur adalah “simbol” yang secara mysterion (rahasia, gaib) –di dalam Roh dan oleh kuasa Roh–  menyatakan apa yang disimbolkannya, di dalam ekaristi yang kita selenggarakan, yang mana kuasa Roh yang sama ini tetap bekerja di masa sekarang hingga kekekalan sekalipun korban Kristus telah terjadi di masa lampau. Jadi, Gereja Timur memahami perjamuan Tuhan dalam perayaan ekaristi ini bukan sekedar peringatan seperti upacara bendera atau memoriam saja, namun “menghadirkan kembali kuasa kematian dan kebangkitan Kristus yang telah terjadi di masa lampau agar dapat diterima dan dihidupi oleh umat di masa sekarang sehingga kuasa ini menuntun umat di dalam hidup keselamatan di dalam Kristus hingga kepenuhan keselamatan itu terjadi pada kedatangan Kristus kali kedua.”

Persembahan ini dalam bahasa Yunani diterjemahkan dengan istilah prosfora.

Referensi:
https://biblehub.com/interlinear/1_corinthians/11.htm, diakses tanggal 17 Oktober 2018.
http://www.orthodoxchristian.info/pages/Communion.htm, diakses tanggal 17 Oktober 2018.
http://www.orthodoxchristian.info/pages/Eucharist.htm, diakses tanggal 17 Oktober 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *