FebruariHari-Hari Raya KudusSynaxarion

Perayaan Yesus Kristus Diserahkan ke Bait Allah

Diperingati Gereja Orthodox pada 15 Februari (kalender sipil) / 2 Februari (Kalender Gereja Purba)

Pada pesta peringatan ini umat Orthodox memperingati peristiwa penting dalam kehidupan Yesus Kristus (Lukas 2: 22-40). Dalam bahasa Inggris disebut Perayaan “the meeting of our Lord and savior Jesus Christ in the temple”. Perayaan ini masuk ke dalam bagian dari Dua Belas Perayaan Agung Gereja (Dodeka Eortees).

Empat puluh hari setelah kelahiran-Nya, Bayi-Allah dibawa ke Bait Allah di Yerusalem, pusat kehidupan keagamaan bangsa Israel. Menurut Hukum Musa (Imamat 12: 2-8), seorang wanita yang melahirkan anak laki-laki dilarang memasuki Bait Allah selama empat puluh hari. Pada akhir masa ini, sang ibu datang ke Bait Allah bersama anaknya, untuk mempersembahkan seekor anak domba atau merpati kepada Tuhan sebagai korban penyucian. Perawan Maria, Theotokos, telah melahirkan Sumber kemurnian dan kesucian tanpa kekotoran. Dengan rendah hati ia memenuhi persyaratan Hukum.

Pada peristiwa ini Js. Simeon yang benar (16 / 3 Februari) tinggal di Yerusalem. Telah dinyatakan kepadanya bahwa dia tidak akan mati sebelum dia melihat Mesias yang dijanjikan. Dengan inspirasi dari atas, Simeon pergi ke Bait Allah pada saat Theotokos Maria dan Yusuf membawa Bayi Yesus untuk menggenapi Hukum Musa ini.

Simeon mengambil Sang Anak dalam pelukannya, dan mengucap syukur kepada Allah, dia mengucapkan kata-kata yang diulangi oleh Gereja Timur Purba (Orthodox) pada setiap Sembahyang Senja:

“Sekarang Tuhan biarkanlah hamba-Mu ini pergi dengan damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain, dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu Israel ”(Lukas 2: 29-32).

Simeon berkata kepada Sang Perawan : “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan

— dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri —, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” (Lukas 2: 34-35).

Di Bait Allah terdapat Hanna, janda dan nabi anak Phanuel (16 / 3 Februari) berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam melayani Allah  dengan berpuasa dan berdoa. Dia tiba tepat ketika Simeon bertemu dengan Bayi Yesus. Dia juga bersyukur kepada Allah dan berbicara tentang Dia kepada semua orang yang mencari penebusan di Yerusalem ” (Lukas 2: 37-38).

Dalam seni ikonografi Gereja Timur tentang Perayaan hari ini, dituliskan ia memegang sebuah gulungan tulisan yang berbunyi: “Anak ini telah menetapkan surga dan bumi.”

Sebelum Kristus dilahirkan, pria dan wanita yang saleh ini hidup dengan iman kepada Mesias yang dijanjikan, menunggu kedatangan-Nya. Simeon yang Benar dan Nabi Anna, orang-orang saleh terakhir dari Perjanjian Lama, dianggap layak untuk bertemu dengan Sang Juruselamat di Bait Allah.

Perayaan ini adalah salah satu perayaan Gereja Kristen yang paling kuno. Gereja Orthodox memiliki catatan-catatan khotbah tentang Perayaan kuno ini di antaranya adalah khotbah para uskup : Methodius dari Patara (+ 312), Kyril dari Yerusalem (+ 360), Gregorius Sang Theolog (+ 389), Amphilocius dari Iconium (+ 394), Gregorius dari Nyssa (+ 400), dan Yohanes Krisostomos (+ 407). Meskipun sudah ada sejak awal, Perayaan ini belum dirayakan dengan begitu bagus sampai abad keenam.

Kita dapat mengambil pelajaran dari pesta ini, bagaimana untuk memenuhi aturan dan tata cara dalam gerejaNya yang Kudus. Dan untuk siapa kita harus membawa jiwa dan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, murni dan penuh rahmat. Selain itu juga kita dapat menemukan teladan dari Simeon orang benar yang merasakan kedamaian dengan hadirnya keselamatan di dalam Yesus Kristus. Dan teladan nabi Hanna, dalam praktik sehari-harinya yang tidak pernah meninggalkan Bait Allah yang selalu bersyukur kepada Tuhan dengan ibadah, berdoa dan puasa. Pesta ini mengajarkan kepada kita, pada saat kita di dalam penderitaan apapun, kita harus tetap menyerahkan semuanya kepada Tuhan, yang selalu menjadi penolong dan pelindung semua orang yang berseru kepadaNya dengan iman dan pertobatan sejati.

Pada tahun 528, pada masa pemerintahan Justinian, gempa bumi menewaskan banyak orang di Antiokhia. Kemalangan lainnya mengikuti peristiwa ini. Pada tahun 541 wabah mengerikan pecah di Konstantinopel, membawa beberapa ribu orang mati setiap hari. Selama masa penderitaan yang meluas ini, sebuah ibadah doa khusyuk (Litia) untuk pembebasan dari kejahatan dirayakan pada Hari Raya ini dan wabah pun berhenti. Dalam ucapan syukur kepada Tuhan, Gereja purbapun selanjutnya mengadakan perayaan yang lebih serius dari Perayaan ini.

Hymnografer Gereja purba telah menghiasi Perayaan ini dengan kidungan mereka: Js. Andreas dari  Kreta pada abad ketujuh; Js. Kosmas Uskup Maium, Js. Yohanes dari Damaskus, dan Js. Germanus Patriarkh Konstantinopel pada abad ke delapan; dan Js. Yusuf, Uskup Agung Tesalonika pada abad kesembilan.

Pada hari peringatan ini, Gereja juga memperingati ikon Theotokos Tersuci yang dikenal sebagai “Pelembutan Hati Jahat” atau “Nubuat Simeon.” Bunda Allah yang digambarkan tanpa Anaknya, dengan tujuh pedang menusuk dadanya: tiga pedang menusuk dari sisi kiri,  tiga dari kanan, dan satu dari bawah.

Ikon serupa, “Tujuh Pedang (13/ 26 Agustus) menunjukkan tiga pedang di sisi kiri dan empat pedang di sebelah kanan.

Ikon “Nubuat Simeon” melambangkan penggenapan nubuat Simeon yang benar: “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (Lukas 2:35).

(oca.org/saints/lives/2015/02/02/100407)

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *