DogmatikaTeologi

Pengantar Perjanjian Baru (Bagian 4)

Oleh : Protopresbyter Yohanes Bambang Cahyo Wicaksono

Cara apa yang tepat untuk mempelajari Alkitab dengan metode kesarjanaan modern menggunakan Alkitab? Agar dapat menginterpretasikan Alkitab secara tepat, ada tiga hal yang perlu diikutsertakan:

  1. Hermeneutik Iman

Kitab Suci harus dipelajari dan dipraktikkan dalam cara yang rohani, daripada hanya sekadar membaca kata-kata Yesus dalam Alkitab dan mengerti secara intelektual, itu seharusnya merujuk dalam kehidupan kita.

2. Hermeneutik Komunitas Iman

Ini adalah pengakuan bahwa kita bukanlah orang Kristen sendiri: kita dikatakan sebagai orang Kristen jika kita bersama-sama orang Kristen lain dalam suatu Komunitas: Gereja yaitu Tubuh Kristus. Jadi untuk menginterpretasikan secara tepat dan benar, kita harus menginterpretasikan bersama ke dalam kelompok umat yaitu Gereja. Kita harus cek dengan umat lain yang bukan hanya hidup sekarang ini, namun dengan orang-orang yang hidup dalam sejarah dan telah meninggal dalam Gereja seperti halnya para bapa Gereja dan juga keputusan mulia tentang iman Gereja melalui konsili Gereja. Ini adalah tameng dan pelindung untuk melawan kesewenang-wenangan dari mereka yang telah meninggalkan kebenaran Gereja.

3. Hermeneutik Akal Budi

Pikiran juga karunia Allah dan kita seharusnya tidak takut untuk menggunakan bagi suatu kejujuran, menyelidiki kebenaran melalui ilmu pengetahuan, sepanjang kita mengakui keterbatasan akal budi yang kita miliki. Mengapa kita harus melakukan ini?

1. Karena Kekristenan adalah agama yang keluar dari realita sejarah. Kekristenan datang dari Yudaisme, karena itu untuk mengerti Kekristenan maka kita harus mengerti Yudaisme dari mana Krekristenan itu datang.

2. Kita juga perlu belajar tentang Yudaisme sehingga kita dapat menghubungkan dan mengkomunikasikan dengan orang-orang Yahudi yang hidup sekarang ini. Sering dalam sejarah bahwa hubungan antara orang-orang Kristen dan Yahudi tidaklah baik dan ini seharusnya tidak boleh terjadi. Satu cara untuk menghindari konflik adalah belajar satu dengan yang lain.

Sejarah Orang Yahudi

1. Pada abad 18-17 Sebelum Masehi disebut Periode Patriakal. Jaman Abraham, Ishak dan Daud, pokok tema teologia era itu adalah panggilan Abraham.

2. 17-12 Sebelum Masehi orang Yahudi terbelenggu di Mesir sebagai budak, dan hal itu disebut sebagai “Belenggu orang Mesir”. Ada 2 pokok tema teologia:

a. Pemilihan: Tuhan karena kasih-Nya telah membangun Perjanjian dengan mereka.

b. Allah telah memberi hukum sebagai hadiah sehingga mereka dapat membangun diri mereka sendiri sebagai suatu kelompok/ group.

3. 13-10 Sebelum Masehi orang Yahudi telah hidup semacam federasi suku di Palestina. Ini disebut sebagai periode hakim-hakim. Hakim-hakim adalah para pemimpin karismatik yang bangkit. Ini adalah abad 10-6 Sebelum Masehi, suatu periode formatif karena selama jaman ini orang-orang Yahudi telah membangun lembaga yang penting dalam agama mereka seperti: Bait Allah dan putaran penyembahan tahunan.

4. 6-5 Sebelum Masehi adalah periode puncak pembuangan. Orang-orang Assyria dan Babilonia telah menahan orang Yahudi dan menempatkan mereka pada pembuangan paksa. Sinagoga dan sekolah Yahudi dimulai pada periode ini, hal ini sangatlah penting bagi orang Yahudi untuk menjaga identitas mereka. Memang sukar untuk menjelaskan keinginan orang-orang Yahudi untuk memelihara identitas mereka dan tidak tercampur dengan bangsa-bangsa lain.

5. Abad ke-2 Sebelum Masehi sampai abad ke-2 setelah Masehi adalah periode masa tenggang atau “The Intertestamental Period.” Peride ini merupakan latar belakang kehidupan Yesus dan para rasul serta Perjanjian Baru. Beberapa orang menyebut periode ini sebagai periode akhir Yudaisme, namun beberapa sarjana tidak suka dengan menggunakan istilah ini, karena dengan menggunakan istilah ini, menunjuk pada artian bahwa setelah periode ini tidak ada lagi Yudaisme. Namun tentu saja Yudaisme masih hidup dan bahkan masih ada sampai sekarang. Beberapa orang bahkan menyebut periode ini sebagai periode Yudaisme mula-mula. Periode ini adalah periode yang krisis bagi orang-orang Yahudi. Sekarang masalahnya adalah bagaimana kita mendapatkan pengetahuan tentang Yudaisme dari periode masa tenggang atau “The Intertestamental Period”?

Ada suatu literatur yang datang dari Tradisi Rabinik. Dalam sejarah orang Yahudi ada tradisi mulia tentang interpretasi Kitab Suci pada waktu itu (Perjanjian Lama). Pengajaran ini diterus-sampaikan secara lisan selama bertahun-tahun sampai akhirnya dalam abad ke-2 setelah Masehi. Tradisi lisan itu ditulis, dan disebut “Mishnah” (pengulangan). Berisikan interpretasi hukum-hukum agama yang menyinggung setiap aspek yang terkandung dalam kehidupan manusia. Juga ada yang disebut “Midrashim” (interpretasi) yang berisikan tentang komentar-komentar buku-buku Alkitab.

Saat Mishnah dan Midrashim telah ditulis, maka baik Mishnah maupun Midrashim itu dipelajari dan interpretasikan. Suatu kitab yang berisikan Mishnah dan Gemarah yang disatukan itu disebut sebagai “Talmud” atau “Pengajaran”. Bagian penting lain dari literatur Rabinik adalah Targum (Terjemahan). Ini adalah terjemahan Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke bahasa Aramik. Kita juga dapat belajar lebih tentang periode masa tenggang ini dari Helenistik – literatur Yahudi. Di dalam akhir abad ke-4 Sebelum Masehi, Alexander Agung telah mengalahkan seluruh wilayah sekitar Palestina dan Mesir. Dan telah membawa pengaruh orang Yunani pada wilayah ini dan segera setelah itu bahasa Yunani menjadi bahasa mereka. Banyak orang Yahudi bahkan melupakan bahasa Ibrani dan mereka hanya dapat berbahasa Yunani. Seorang Yahudi yang telah menulis dalam bahasa Yunani adalah “Philo dari Aleksandria”. Dia hidup selama masa yang sama sebagaimana Yesus dan Js. Paulus. Ia sangat terdidik dalam filsafat Yunani khususnya “Platonisme dan Stoikisme”. Ia telah berusaha untuk menunjukkan dalam tulisannya bahwa banyak hal yang orang-orang Yunani telah temukan dengan filsafat mereka yang setuju-seiring dengan wahyu kitab Yahudi. Ia telah menuliskan kitab tentang “Kehidupan Musa” di mana ia telah membandingkan Perjalanan Musa sampai naik ke gunung Sinai dengan naiknya jiwa Plato.

Josephus

 Josephus ini hidup selama 2 paruh abad dari abad 1 setelah Masehi. Ia seorang Yahudi lain yang telah menulis dalam bahasa Yunani. Ia bukanlah seorang filsafat seperti Plato, dia hanyalah seorang sejarawan yang telah menulis buku-buku tentang sejarah orang Yahudi. Dia adalah seorang saksi mata akan pemberontakan Yahudi melawan bangsa Roma pada tahun 66-70 setelah Masehi dan telah menulis tentang peristiwa tersebut. Ada bagian-bagian lain literatur dari periode ini yang darinya kita dapat menemukan para penulis.

Surat Aristoteles

Surat Aristoteles telah berbicara tentang bagaimana Perjanjian Lama Ibrani itu telah diterjemahkan dalam bahasa Yunani (Septuaginta). Dalam suratnya dikatakan bahwa seorang raja orang Yunani dari Mesir “Ptolomius”, mempunyai ketertarikan akan Kitab Suci Ibrani dan Ia membayar orang-orang untuk menerjemahkannya. Ini bukan bagaimana itu benar-benar terjadi, namun sungguh telah diterjemahkan karena orang-orang Yahudi itu sangat memerlukan terjemahan dalam bahasa Yunani. Sebagian besar orang Yahudi yang hidup di kota Aleksandria hanya dapat berbahasa Yunani dan mereka tidak dapat lagi berbahasa Ibrani.

Hikmat Salomo

Adalah buku lain yang ditulis selama periode masa tenggang. Juga Hikmat dari Syra dan 4 Makabe (4 Makabe adalah kombinasi pemikiran Yahudi dan Yunani). Kategori lain dari literatur Yahudi adalah Apokrifa dan Psedopigrafa. Kategori lain dari literatur Yahudi adalah “Gulungan Laut Mati”. Seorang penggembala laki-laki pada tahun 1947 telah naik ke dalam gua dan menemukan beberapa tulisan kuno. Dokumen-dokumen ini dari monastik: seperti komunitas dekat laut mati, barangkali suatu kelompok yang disebut kaum Eseni. Dan tempat dari kelompok ini disebut “Qumran”. Komunitas ini sangat menjunjung tinggi akan “keimaman”. Mereka telah belajar hukum Yahudi (mereka telah memisahkan diri dari keimaman agung Yerusalem saat komunitas ini diambil alih oleh orang-orang Hasminea). Komunitas telah dihancurkan oleh kelompok Roma selama pemberontakan orang Yahudi. Mereka ini mirip sekali dengan orang Kristen dalam beberapa hal. Mereka berharap akan kedatangan Sang Mesias.

(Bersambung)

.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *