OktoberSynaxarion

PARA MARTIR SUCI : PROBOS, TARACHOS DAN ANDRONIKUS

Diperingati pada 12 Oktober (Julian)/ 25 Oktober (Gregorian)

      Para Martir Suci Probos, Tarachos dan Andronikus telah gugur bagi Kristus di kota Cilician Tarsus (di Asia Minor pada masa itu, sekarang masuk wilayah Turki) pada masa rezim kaisar Romawi Diocletian (sekitar 304 M). 

Ketiga martir ini sangat berbeda satu sama lain, kecuali dalam cinta mereka kepada Yesus dan kesediaan mereka untuk menjual segala sesuatu demi Kerajaan Allah. 

Tarachos (lahir 239M – gugur 304M), adalah seorang Romawi yang lahir di Claudiopolis, Isauria. Dia menjadi seorang prajurit di tentara Romawi tetapi meninggalkan tentaranya ketika dia menjadi seorang Kristen, karena dia takut dia akan diminta untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum Tuhan. 

Ketika dia berusia 65 tahun, Tarachos ditangkap bersama Andronicus, seorang bangsawan dari salah satu keluarga terkemuka di Efesus, dan Probus, seorang yang lahir di Side di Pamfilia dari seorang ayah bernama Thracia yang menyerahkan banyak uang untuk mengikuti Kristus, di Pompeiopolis di Kilikia pada era rezim kaisar Diokletianus dan gubernur Tarsus, Maximianus.

Kaum pagan memaksa para saudara kudus ini untuk mempersembahkan korban kepada berhala, namun mereka menjawab, bahwa mereka hanya mempersembahkan korban kepada Yang Esa, Tuhan Sejati dalam hati yang murni.

Melihat keteguhan orang-orang kudus dalam mengakui iman yang benar, gubernur menyerahkan mereka untuk disiksa.

Berikut cuplikan dialog interogasi gubernur Maximianus terhadap para martir suci :

Maximianus: persembahkanlah korban kepada dewa-dewa kami, dan tinggalkan kebodohanmu.

Tarachus: Saya tidak bisa meninggalkan hukum Tuhan.

Maximianus: Apakah ada yang namanya ‘hukum Tuhan’ itu ?

Tarachus: Ada, dan kamu melanggarnya dengan memuja kayu dan batu, karya tangan manusia.

Maximianus: Pukul wajahnya (perintahnya kepada para algojo), sambil berkata, ‘hentikan kebodohanmu.’

Tarachus: Apa yang kamu sebut kebodohan adalah keselamatan jiwaku, dan aku tidak akan pernah meninggalkannya.

Maximianus: Telanjangi dia, dan pukul dia dengan tongkat.

Dan orang tua itu dipukuli.

Tarachus: Anda sekarang telah membuat saya benar-benar bijaksana. Saya dikuatkan oleh pukulan Anda, dan kepercayaan saya kepada Allah dan Yesus Kristus meningkat.

Maximianus: Celakalah kamu, bagaimana kamu bisa menyangkal para dewa, ketika menurut pengakuanmu sendiri, bahwa kau melayani dua dewa? Bukankah kau memberikan nama Allah kepada seseorang tertentu, yang bernama Kristus?

Tarachus: Benar; karena Dialah Anak Allah yang hidup; dia adalah harapan orang-orang Kristen, dan Keselamatan bagi mereka yang menderita demi Dia.

Hal yang sama dperbuat juga kepada Probus, setelah disiksa beberapa kali secara brutal :

Maximianus: Lihat, betapa celakanya dirimu, tubuhmu hancur, berlumuran darah.

Probus: Semakin tubuh saya menderita bagi Yesus Kristus, semakin segar jiwa saya.

Hal yang sama dperbuat juga kepada Andronicus :

Maximianus : Taatlah, persembahkan korban kepada dewa. Atau tubuhmu tercabik-cabik.

Andronicus: Lebih baik saya tersiksa, daripada binasa jiwa saya.

Maximianus: Celakalah kamu, apakah kamu tidak peka terhadap siksaan? kamu belum tahu apa itu rasanya dibakar oleh api dan dicabik pisau, Ketika kau telah merasakannya, kau mungkin akan menyerah, dan mengakui kebodohanmu.

Andronicus : menurutmu ini adalah kebodohan, namun tidak bagi yang berharap kepada Yesus Kristus. Kebijaksanaan duniawi justru mengarah pada kebinasaan kekal.

Mereka kemudian diserahkan kepada para binatang buas di amfiteater (semacam arena pertunjukan Romawi), namun binatang-binatang itu tidak menyentuh mereka. Tiga pria, bernama Marcian, Felix, dan Verus, menyaksikan kemartiran mereka dan menambahkan epilog dalam buku Kisah Para  Jana Suci.

Para penyiksapun menambah siksaan mereka, dan kemudian mereka mencabik-cabik tubuh orang-orang kudus. Konon, Tarachus dipukuli dengan batu. Probus dicambuk, kakinya dibakar dengan besi panas, punggung dan pinggangnya ditusuk dengan besi panas ; akhirnya dia juga dipotong dengan pisau. Andronicus juga dipotong-potong dengan pisau.

Orang-orang Kristen diam-diam mengambil sisa-sisa orang-orang kudus dan menguburkan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *