Dogmatika

MINGGU SESUDAH THEOPHANIA

Oleh: Janasuci Theophan Sang Penyendiri, Penterjemah: Arkhimandrit Daniel B.D.Byantoro

Efesus 4:7-13; Matius 4:12-17

Dalam bacaan kita dari renungan pada Sabtu Sesudah Theophania, Rasul Paulus menyatakan tentang perlengkapan senjata Allah yang harus dikenakan orang Kristen atas jalan keselamatan. Sekarang, bagi inspirasi kita pada saat kita mengalami kesulitan, dia menunjukkan siapakah para pemimpin yang ada dalam barisan peperangan rohani ini, dan apakah tujuan akhir yang gilang-gemilang dari segala sesuatu itu.

Para pemimpin itu adalah para romo-gembala dan para pengajar firman, yang Tuhan telah berikan kepada Gereja, yang melalui mulut mereka Dia sendiri mengucapkan arah bimbingan melawan musuh-musuh keselamatan yang sangat perlu bagi semua, segera ketika seseorang berbalik kepada para pemimpin semacam itu dengan iman dan permohonan yang penuh doa kepada Tuhan. Mereka yang tanpa mementingkan diri mereka sendiri berjalan pada jalan Tuhan mengetahui kebenaran ini, sebagaimana juga mereka yang melakukan pertarungan melawan musuh-musuh keselamatan tanpa merasa kasihan pada diri mereka sendiri.

Dalam diri romo gembala ini mereka selalu menemukan pertolongan dan dibawa kepada pengertian, sementara ketika mereka menengok-nengok keluar, pertolongan semacam itu tak dapat diharapkan. Karena mereka bukan datang kepada manusia, tetapi kepada Tuhan, Yang selalu siap untuk membimbing dan memberikan pengertian melalui orang-orang semacam itu, kepada setiap orang yang dengan tulus dan dengan iman mencari pertolongan dariNya. Tujuan akhir yang gilang-gemilang dari hal ini adalah “tingkat pertumbuhan (heelikia/ilikia = umur, panjang kehidupan) yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,”- “the measure of the stature of the fulness of Christ-KJV-/ukuran umur/panjang kehidupan dari kepenuhan Kristus” (Efesus 4:13) – yaitu “tingkat pertumbuhan/ umur/ panjang kehidupan” dari “kedewasaan penuh” yang dalam bahasa aslinya adalah“andra teleion”/” a perfect man” (KJV), yang artinya ”manusia sempurna”.

Dan makna harafiah dari ayat ini adalah “manusia sempurna, dan ukuran umur/panjang kehidupan dari kepenuhan Kristus”. Kita semua tahu apakah manusia sempurna itu dalam artian umum yang biasa dimengerti, dan kita sulit sekali menemukan seseorang yang tidak ingin mencapai kesempurnaan seperti itu. Tetapi makna dari “manusia sempurna” didalam Kristus itu adalah sesuatu yang tidak diketahui kecuali oleh mereka yang sudah masuk kedalam ukuran tertentu dari kepenuhan Kristus itu. Namun demikian hal ini jangan sampai membuat semangat seseorang menjadi dingin bagi mencapai ukuran seperti itu, malahan sebaliknya harus lebih menyalakannya lagi, karena kekurangan pengetahuan itu disebabkan oleh ketinggian dari kesempurnaan rohani itu yang disebut ukuran watak- kejantanan di dalam suatu kehidupan yang menurut Allah. Rasul Paulus mendefinisikan hal ini sebagai mengenakan kepenuhan dari kesempurnan yang dinyatakan didalam Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus. Setiap orang dapat melihat bahwa ada alasan bagi kita untuk :dengan bersungguh-sungguh berusaha” (II Petrus 1:5) maju kedalam panggilan kita tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *